Me And The Boots

Ketika kamu menemukan sesuatu yang telah lama kamu idam-idamkan, tapi ternyata tidak diciptakan untukmu, akankah kamu memaksa untuk memilikinya…?
Hujan deras mengguyur Padang hampir tiap sore akhir-akhir ini. Tapi, hari ini mau tidak mau saya terpaksa berlari di bawah hujan demi sepasang high heels bling-bling untuk keperluan wisuda besok. Kenapa bisa…?
Ya…berhubung sudah mencari ke mana-mana dan tidak juga menemukan high heels yang pas di hati (lha….bukan di kaki ya…? *plakk, abaikan), saya hampir saja menyerah. 
Tapi, ketika akan keluar dari parkiran basement Plaza Andalas, saya tiba-tiba teringat dengan sebuah tempat yang mungkin bisa menjawab kebutuhan (atau keinginan..?) saya.
Tempatnya persis di seberang Plaza Andalas, tempat khusus menjual bags and shoes. Akhirnya, mobil tetap terparkir di basement dan saya berlari keluar di bawah hujan, demi menemukan yang saya cari.
Dan firasat umumnya tidak pernah salah, apalagi firasat perempuan, yang kadang sering dicemooh diabaikan oleh kaum adam, yang katanya terlalu mementingkan perasaan lah, kurang pake logika lah…kayak laki-laki dong, mikir dengan 9 pemikiran dan satu perasaan saja, tanpa mereka menyadari bahwa tanpa perempuan mereka bakal kelabakan. Lho…kenapa jadi curhat…? *sekali lagi, abaikan.
Dan benar saja, koleksi high heels di sana lumayan “nyelekit”…hehehe…langsung saja saya pilih yang saya mau, cobain trus diorder. Nah, pas lagi nungguin packingnya, tiba-tiba…ow…ow…apa itu yang lucu-lucu di etalase sana…? Ckckck benar saja, itu adalah boots yang sudah lama sekali saya idam-idamkan. Wuahaha…sekali menyelam minum bir (mabok dong…? *plakk !!..) pikir saya. Langsung saja saya meluncur ke sana. Hmm…saya butuh satu nomor lagi di atas ini. Dengan percaya diri saya bertanya.
“Uni, nomor 39 ada gak…?”, tanya saya dengan bersemangat sambil mengacungkan boots itu di depan hidung si Uni.
“Waduh Uni…maaf, itu nomor yang paling tinggi…”, jawabnya sambil tersenyum.
“Yaaa….”, saya kecewa berat…rat..rat….Hey…sejak kapan sepasang boots membuat saya jadi fashionista dadakan…?
Daan begitulaah…saya tetap nekat mencoba boots itu. Tolol ya..? Bangeeet….:P
Ya, pasti sakitlaah, maksain yang bukan ukuran kita untuk fit dengan sendirinya. Mana mungkin itu..? Mau kekecilan, mau kegedean, tetap saja tidak nyaman dipakai. Saya butuh yang pas.
Jadi, dengan berat hati, saya kembalikan lagi boots itu ke peraduannya. Akan ada pemilikmu yang lebih tepat, Nak…(yaeeelaah…it’s just a damn shoes..)
Dan kalau ingat ketololan saya sore itu, saya tiba-tiba merasa lucu sendiri. Ketika kita mengatakan dengan gampangnya pada orang lain “relakanlah”, tapi begitu kita mengalami sendiri, rasanya kok ya beraaaat banget getooh *makanmeja
Tapi, jika sesuatu itu, apapun itu, memang tidak pas untuk kita hingga tidak akan nyaman untuk dikenakan, betapapun indah terlihat dan kita sangat ingin memilikinya….haruskah kita memaksa…?
Padang, 9 September 2013
Dini hari dengan kopi

Reuni

Reuni. Ditunggu oleh sebagian besar alumni, dihindari oleh sebagian alumni lainnya.
“Hmm…cantik…”, suara Mama terdengar dari balik pintu. Ajeng yang sedang mematut diri di depan cermin, mau tidak mau tersenyum.
“Mama…bisa aja…”, jawabnya agak malu tapi dalam hati dia senang dipuji begitu, meskipun itu pujian dari Mama yang sudah pasti akan menyebutnya cantik, walau dia sedang terlihat jelek sekalipun.
“Jadi…reuninya jam berapa…?”, tanya Mama.
“Jam 4 sore, Ma…sebentar lagi…”, jawab Ajeng. Dia tercenung cukup lama.
“Ya udah, kalo gitu kamu berangkat sekarang aja…Pak Yadi juga udah dari tadi nungguin kamu…”, kata Mama tersenyum.
Ajeng mengangguk. Mama mengantarkannya sampai ke mobil, di mana sopir setianya Pak Yadi, sudah siap sedia menunggu instruksi.
Ya, akhirnya Ajeng memutuskan untuk menghadiri reuni ini setelah mempertimbangkan banyak hal. Dia tersenyum mengingat teman-teman lama yang mungkin juga akan menghadiri acara ini. Banyak sekali kenangan yang akan mereka bicarakan nanti setelah kehilangan kontak begitu lama.
Tapi, sesuatu hal membuatnya kembali merenung.  Kadang hal itulah yang membuatnya berat untuk bertemu orang-orang dari masa lalu. Dia tidak minder soal karir, walaupun dia tidak berkiprah di kantoran seperti kebanyakan temannya. Justru Ajeng tahu seharusnya dia bangga. Karirnya tidak pernah mengikatnya, tapi mampu menghidupinya lebih dari cukup. Jajaran novel-novel best seller, skenario-skenario yang memperoleh penghargaan itu sudah cukup jadi bukti eksistensinya. Tapi bukan itu yang membuatnya gundah. Sudahlah…
Ajeng kembali melamun. Virly, bagaimana kabarnya…? Winda…apakah masih suka ngerumpi..? Hadi, apakah masih jahil seperti dulu…? Seperti apakah mereka sekarang…? Sudah sukses ataukah bagaimana…? Ajeng sungguh ingin tahu. Dia tersenyum sendiri mengingat bagaimana mereka dulu. Bolos pelajaran Geografi dan nongkrong di toko kasetnya Bang Puji sambil membongkar semua koleksi poster di sana. Bang Puji yang baik itu tidak pernah marah, walaupun dia tahu mereka bolos dari sekolah untuk mengacak-acak tokonya.
Ajeng terbahak ketika memorinya sampai pada peristiwa konyol ulang tahun Hadi. Waktu itu Ajeng sedang asyik makan bakso gerobak dan Virly tiba-tiba datang merebut mangkok bakso yang masih berisi setengahnya itu.
Ajeng kontan kaget. Tiba-tiba terdengar teriakan Hadi.
“Panas bangeeeeettt….gila lo, Ly…!!!!”, katanya pada Virly yang ternyata menyiramnya dengan kuah bakso Ajeng.
“Selamat Ulang Tahuuuun…”, Virly bernyanyi sambil tertawa dan berlari menghindari kejaran Hadi.
“Wooooiiiii…..bakso gue tuuuh…gantiin gaaaak….???!!!!”, teriak Ajeng sewot pada waktu itu. Tapi, akhirnya dia malah ikut mengguyur Hadi dengan teh botol. Sungguh perbuatan mubazir tapi mereka tertawa gembira. Masa-masa yang indah pada waktu itu.
Ajeng menghela nafas panjang. Lucky…bagaimana kabarnya…? Masihkah dia ganteng seperti dulu…? ataukah dia masih menyesal setelah peristiwa itu…? Peristiwa yang menyebabkan Ajeng seperti sekarang.
“Non…sudah sampai…”, kata Pak Yadi sambil membelokkan mobil memasuki lapangan parkir SMA. Ajeng tersenyum. Dari jendela mobil terlihat teman-teman lamanya, wajah-wajah mereka masih ceria seperti dulu, dan juga….ada Lucky. Ajeng menurunkan kaca jendela.
“Wooooiiiii….”, teriaknya. Teman-temannya menoleh. Ini dia makhluk yang mereka tunggu. Mendengar teriakan itu saja, mereka sudah tahu siapa yang datang. Ajeng, si cadas dari geng mereka. Mereka tersenyum dan tertawa. Tapi hanya Lucky yang bersikap biasa.
“Ajeeeng…turun lo…!!!”, teriak Winda, wajahnya gembira.
“Bentaaar…!!!”, teriak Ajeng. Pak Yadi memarkir mobil, lalu mengangguk pada Ajeng.
Teman-temannya melihat Ajeng turun dari mobilnya. Susah payah. Mereka serta-merta terdiam. Ajeng turun dengan sebelah kaki, sedangkan kakinya yang lain telah digantikan oleh kruk yang menyangga tubuh kurusnya.
Lucky yang melihat itu menyadari, sejak kecelakaan motor mereka sepuluh tahun yang lalu, Ajeng tidak pernah sembuh lagi.
 
Padang, 25 September 2013

Dear Mirror Image

Hey you…my mirror image…
Apa kabarmu..? Aku harap baik-baik saja. Banyak sekali yang ingin kusampaikan padamu. Banyak kisah yang ingin kututurkan. Tentang kita, aku dan dirimu, tentang proses menjadi dewasa, tentang menjadi perempuan dan juga…tentang cinta.
Tidak mudah memang, Dear. Aku sendiri bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Proses pendewasaan yang sampai sekarangpun aku tidak bisa mendefinisikannya. Tapi, yang aku tahu…tidak mudah menjadi dewasa, juga tidak mudah menjadi perempuan. Dan kita mengalami keduanya….menjadi perempuan dewasa. Apa itu artinya…? Entahlah, Dear. Aku juga tidak tahu.
Hey Girl…tapi yang jelas, kita menikmatinya, bukan..? Di antara kebingungan, canda, tawa, air mata, kebahagiaan, pencapaian, kehilangan, mendapatkan dan juga cinta…kita menikmatinya dan bisa berbagi rahasia. Ada orang yang bilang “secrets make a woman a woman”. Benar adanya begitukah..? Jangan tanya sedalam apa hati perempuan, karena perempuan itu sendiri juga tidak mengerti.
Kita mengalami jatuh bangun. Tapi, kita masih bisa menemukan tawa di antara air mata. Mana lukamu..? Tunjukkan padaku…biar kuobati sebisaku, walau aku tidak bisa menjamin kesembuhanmu.
Girl, we are big girls now. Tidak lagi bermimpi jadi Barbie dan dijemput pangeran berkuda putih. Kita dihadapkan pada pilihan-pilihan, kita dipaksa memilih dan memutuskan. Salah atau benar, kita tetap memutuskan. 
Dan tiba-tiba saja…kita berakhir di tengah-tengah realita. Berusaha untuk tetap memiliki eksistensi diri di saat kita dituntut untuk bisa menjadi segalanya, mulai dari perempuan anggun, hingga menjadi cleaning service. Kita juga dituntut untuk menjadi dokter, guru, psikolog, konsultan keuangan, koki, tukang binatu, desainer interior dan semuanya.
Hebat ya…? Anehnya, kadang kita tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya kita inginkan. Siapakah kita yang sebenarnya. Apalagi, saat kita mengetahui, masih ada satu kepingan terpenting dari hati kita yang tertinggal di luar sana. Tapi, setidaknya kita bisa menjelaskan kenapa kita tidak lagi utuh.
Dear mirror image, aku menyayangimu, sungguh. Aku dan kamu….dekat dan direkatkan….karena dan oleh satu kata. Cinta.
 
Padang,
9 Oktober 2013

Ujian Kalkulus

Nana termanyun, menatap soal-soal ujian di hadapannya dengan putus asa. Kenapa ujian Kalkulus selalu begini? Kenapa juga gue ada di jurusan ini, rutuknya dalam hati. Kalkulus baginya tidak pernah mudah, keseluruhan Teknik Kimia memang tidak pernah mudah. Lalu apa yang mudah? Bernafas, barangkali. Nana memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. Well Nana, masih ada satu jurus lagi, kan? Haha…tentu saja, nyontek! Apalagi?
Nana mulai celingak-celinguk. Di depannya ada Wina, yang pelitnya minta ampun dalam segala hal, baik itu dari segi ngasih contekan ataupun ngasih sumbangan buat tim basket atau tim manapun. Di belakang ada Edwin, sohib akrabnya yang ganteng minta ampun, tapi selain itu juga bego minta ampun. 
Ada yang istimewa perihal Edwin ini. Dia tidak menyadari dirinya seperti orang lain sadar akan diri mereka. Dia tidak menyadari kalo dia tuh ganteng abis dan juga tidak menyadari dirinya itu bego abis. Karena itu, tentu saja Edwin dengan percaya diri terus menulis jawaban yang diyakininya benar. 
Walaupun sudah berulangkali memperoleh nilai di bawah standar, Edwin tetap yakin, nilai jelek itu cuma gara-gara dosen pada sirik padanya. Entah sirik dalam hal apa, Edwin sendiri tidak mampu menjelaskan. Nyontek ke Edwin jelas percuma. Nana kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Waktu tinggal 20 menit lagi…”, suara pengawas menggelegar mengagetkan sekaligus menyadarkan Nana bahwa dia bahkan belum menulis namanya. Buru-buru dia menulis nama dan melirik ke sebelah kanannya. 
Ada Fadli yang tampang dan otaknya berbanding lurus. Fadli ganteng sekaligus pintar. Inilah dewa penolong yang mungkin bisa menyelamatkan Nana dari mengulang kuliah Kalkulus lagi tahun depan. Nana tahu Fadli tidak pernah pelit ngasih contekan. Prinsipnya, nyontek aja kalo bisa. Asal gak ketahuan, Fadli rela berbagi jawaban.
“Sstt…sstt…Fadli…”, bisiknya. Sepertinya Fadli sudah selesai dari tadi, soalnya dia sedang sibuk menggaruk-garuk kaki. Fadli menoleh. Nana mengacungkan dua jarinya.
“Jawaban nomer 2 dong….”, bisik Nana lagi. Fadli mengangguk lalu membuka dan menggeser sedikit lembar jawabannya ke arah Nana. 
Nana agak lega dan bersiap menulis. Tapi, ya ampun, tulisan apaan tuh? Kecil-kecil banget. Irit kertas ya? Tulisan Fadli kecil-kecil sekali hingga sulit dibaca. Sambil mengeluarkan senyum patennya, Fadli terus menyemangati Nana untuk berusaha membaca tulisannya yang sulit dibaca itu.
“Tinggal 10 menit lagi…”, suara itu bagaikan mengguyur Nana dengan seember air dingin. 
Putus asa, Nana menatap ke luar jendela di sebelah kirinya. Ada satu ide lagi terlintas di kepalanya. Karang saja jawabannya. Mengarang jawaban?? Ini ujian Kalkulus, coy, bukan Pancasila. Buka catatan juga percuma. Catatan ada di dalam tasnya yang sekarang ditumpuk di depan kelas sampai ujian beres. Kalaupun ada kesempatan membuka catatan, Nana juga tidak akan mampu mengerjakan karena dia tidak mengerti sama sekali cara mengerjakan soal-soal ini.
“Waktunya habis, silahkan dikumpulkan”. Ya sudahlah. Nana pasrah harus mengulang tahun depan dan menjadi veteran di jurusan ini. Jurusan yang dipilih Papa untuknya tanpa menyadari kalau kemampuan putri kesayangan beliau ini tidak mampu menjangkau keinginan beliau. Seandainya saja Mama masih hidup.
Seseorang menepuk bahunya. “Na, tungguin dong, duluan aja, gimana ujiannya? Gampang kan?”, tanya Edwin polos sambil menjajari langkahnya.
“Tau deh”, jawab Nana singkat sambil mengangkat bahu.
“Tau gimana??? Lo gak yakin bisa?”, tanya Edwin lagi. Ngotot, tidak memperhatikan bahwa Nana sama sekali tidak mau membahas ujian. 
Mereka berjalan menuju tempat parkiran kampus. Nana melangkah gontai, berpikir untuk mencoba bicara dengan Papa agar beliau mengijinkan Nana pindah jurusan. Sastra Jepang, barangkali.
“Gorengan…?”, tawar Edwin sambil menyodorkan kantong kertas berisi gorengan. Dia sendiri sedang asik mengunyah bala-bala.
“Gak deh, makasih…”, tolak Nana.
“Yang bener lo gak mau? Biasanya lo borong tuh semua gorengan. Lo kenapa sih??”. Ucapan Edwin yang tanpa filter itu memberikan indikasi kalau dia memang tidak ngeh dengan suasana hati Nana.
Nana membuka pintu Estillo kuning hadiah ulang tahun dari Papa itu dengan perasaan gundah. Gimana kalau Papa kecewa? Atau kena serangan jantung? Atau tidak mengakuinya lagi sebagai anak? Apa reaksi Papa kalau tahu Nana tidak menulis apa-apa di lembar jawaban ujian kalkulus selain namanya sendiri? Cepat atau lambat Papa pasti tahu tanpa Nana harus bicara, karena Papa yang memeriksa ujian itu dan sekarang lembar jawaban itu pasti sudah berada di tangan beliau.
“Na…..!!!!”, panggil Edwin yang mulai khawatir karena Nana mulai keluar dari tempat parkir tanpa menutup pintu mobilnya. Nana berhenti.
          
 “Makan es krim yuk…”, ajaknya pada Edwin yang segera dibalas dengan anggukan. 
Dan kedua mahasiswa semester satu fakultas teknologi industri jurusan teknik kimia itupun meluncur menuju Sasha Café langganan mereka sejak dulu. Tempat mereka nongkrong bila salah satu atau keduanya sedang mengalamai hari yang buruk. Dalam hal ini, Edwin pun mengerti.
***
          
 Beberapa pasang mata dari gerombolan cewek-cewek berseragam SMU di meja sudut menatap dengan tak jemu-jemu pada Edwin begitu mereka memasuki café dan duduk di tempat favorit mereka, dekat dengan dapur, hingga gampang kalau ingin menambah pesanan.
          
“Gagal deh gue…”, keluh Nana begitu menghenyakkan bokongnya di tempat duduk.
          
 “Masa sih?”, Edwin melotot tidak percaya, seperti biasa. Tangannya meraih daftar menu walau yang selalu dia pesan adalah menu yang itu-itu saja dari jaman purba.
          
“Gue gak bisa jawab sama sekali”, Nana mengangkat bahu.
          
Edwin baru akan angkat bicara lagi ketika Sasha, sang pemilik café muncul. Sasha memang sudah kenal akrab dengan dua cecunguk ini. Mereka sudah nongkrong di café ini sejak SMP, sejak Sasha masih jadi mahasiswi. Sekarang Sasha adalah ibu 3 orang anak dan 2 cecunguk ini masih saja nongkrong di sini.
          
“Pasti Banana Split…”, tuduhnya langsung. Nana nyengir lalu mengangguk.
          
“Tambah roti pisang keju…”, Edwin mengangkat tangan seolah akan menjawab pertanyaan dosen. Sasha tersenyum sambil berlalu ke dapur.
          
 “Masa sih Na?”, Edwin kembali pada pertanyaannya semula,”Cuma persamaan kuadrat doang, apa susahnya sih?”. Kata-kata Edwin tadi membuat Nana mendelik. Dasar sok tau! Rutuknya dalam hati.
          
“Emang lo bisa jawab?”, tanya Nana. Pertanyaan retoris karena Nana sudah tahu dengan pasti jawaban Edwin.
          
“Bisa dong. Apa susahnya sih?”, jawabnya lagi menyebalkan,”tinggal masukin rumus ABC, beres deh”, sambung Edwin yakin.
          
 “Gue gak yakin, selama ini kan nilai ujian lo selalu jeblok meskipun lo kira jawaban lo bener semua”, kata Nana tajam sambil cemberut, memonyongkan bibirnya. Sasha muncul lagi dengan 2 banana split dan roti pisang keju.
          
“Selamat menikmati”, katanya, “Udah deh Na, ujian gak usah dipikirin, ntar stress lho. Mending pindah jurusan aja”, usulnya. Nana menghembuskan nafas panjang.
          
“Maunya sih gitu”, keluhnya, “tapi bokap gue…”
          
“Tenang aja Na”, kata Edwin lagi agak bernada sok tau, “kan dosennya bokap lo, pasti nilai lo bagus”.
          
“Enak aja! Yang ada juga bokap gue bakal mencak-mencak”, cetus Nana gusar.
          
“Pasti bokap lo malu kan kalo nilai lo jelek. Pasti lo dikasih nilai bagus”, Edwin mengangguk-angguk yakin. Sasha buru-buru kabur ke dapur karena sepertinya aroma peperangan mulai tercium.
          
“Trus bokap gue dituduh KKN, gitu?”
          
“Kura-kura ninja?”
          
“Goblok!!”
          
Edwin masih saja mengangguk-angguk. Wajah bak pemain sinetron, tapi kecerdasan di bawah standar ditambah dengan kepercayaan diri yang tinggi, Edwin bagaikan makhluk langka dalam mitologi negara manapun.
          
“Bisa juga lo liat dulu diskriminannya. Lo tau diskriminan kan?”, Edwin sepertinya masih ingin menjelaskan.
          
“Gak!” jawab Nana ketus. Edwin makin bersemangat. Dengan selembar kertas lecek dari dalam tasnya, Edwin mulai menulis.
          
“Diskriminan itu rumusnya b2-4ac. Nah, kalo diskriminan lo lebih besar dari nol, berarti persamaannya punya 2 akar yang berbeda”, Edwin berhenti sebentar untuk memakan banana split lalu melanjutkan tanpa peduli dengan perasaan Nana.
”Kalo diskriminan lo sama dengan nol, maka persamaan tersebut punya 2 akar yang sama. Kalo lebih kecil dari nol, maka persamaan lo punya akar bilangan kompleks, ngerti Na?”
          
“Gue gak yakin penjelasan lo bener!” Nana masih tidak yakin.
          
“Ya ampun, Na. Itu kan udah bolak balik diterangin bokap lo.”
          
“Yang bener?”
          
“Tanya aja bokap lo kalo gak percaya”
          
“Gue gak yakin cocok di jurusan ini”
         
“Gue yakin kita pasti berhasil lulus dengan nilai bagus”
          
Kepercayaan diri yang berlebihan dari Edwin entah kenapa memberikan sedikit hiburan. Walaupun entah apa yang akan terjadi di rumah nanti. Nana dengan pasrah mengunyah Banana Splitnya. Setidaknya walau hari ini buruk, rasa Banana Split ini tidak berubah.

 

Padang, pada suatu ketika ^_^

 

Gawat Dan Darurat

Citra pontang-panting di Instalasi Gawat Darurat malam ini. Barangkali tugas jaga tersibuk sepanjang sejarah hidupnya adalah saat ini. Beberapa hari menjelang lebaran dan banyak sekali pasien korban kecelakaan memenuhi IGD. Mereka semua berteriak, ada yang istighfar, ada yang takbir tapi ada juga yang menyumpah-nyumpah dengan kata-kata antah berantah.
Dan pasien berpenampilan punk ini salah satunya. Hidung, telinga bahkan lidahnya dipenuhi tindikan.  Rambutnya berpotongan mohawk, pakaiannya jangan dikata, penuh dengan emblem-emblem grup punk, mulai dari Greenday hingga Superman Is Dead. Akan tetapi…alamaaak…baru melihat jarum jahit saja dia sudah berteriak ketakutan.
“Aduuuh Dokteeer, jangan dijahiit….!!”, teriaknya norak.
Citra mendelik.
“Siapa suruh juga ngebut di jalanan..? Untung cuma bocor kepala”, jawab Citra galak sambil mempersiapkan jarum jahit dan benang kulit.
“Yaaaah…Dok, ngebut ya di jalanan, masa di sawah…ih aneh deh Dokter”, jawab Si Anak Punk dengan gaya super menyebalkan.
“Baiklaaah, berani ngebut, berani tanggung resiko kan….Pedrosa…”, sindir Citra sambil mulai menjahit kepala Si Anak Punk. Di luar dugaan, anak itu mulai menjerit.
“Gak mauuu….sakit Doook…”, teriaknya seraya berlari menjauhi Citra. Citra mengeluh. IGD sedang ramai, pasien kunyuk ini bertingkah pula.
“Ya udah, kalo gak mau, gak pa-pa..”, kata Citra, “biar kepalamu itu bocor terus, sampe kehabisan darah..”, ancamnya lagi.
“Eh, kehabisan darah..? Serius Dok…???”, Si Anak Punk mulai ketakutan.
“Ya iyalah, lihat aja tuh kepala, gak sakit apa..? Lagian, bukannya taraweh, malah balapan, ancur kan…”, jawab Citra tanpa basa-basi.
 
Si Anak Punk kembali duduk di hadapan Citra.
“Bukan balapan, Dok. Kerjaan, nganterin gambar pesanan orang…”, jawab Si Anak Punk mulai tenang.
“Oo…kamu pelukis aliran punk…”, kata Citra sambil mulai menjahit. Si Anak Punk sedikit meringis. Ternyata tidak sesakit yang dia bayangkan.
“Bukan, Dok, gambar desain rumah, saya arsitek..”, jawab Si Anak Punk lagi, membuat Citra berhenti sejenak menusukkan jarum jahitnya.
“Arsitek..? Arsitek punk…?”, tanya Citra geli, sedikit tidak percaya.
“Yaa tuh kan, selaluuuu aja orang-orang pada gak percaya kalo saya arsitek..ckckck….ada yang salah dengan saya…?”
“Penampilannya salah..”
“Lha…?? Emang arsitek harus selalu klimis ya, Dok..?”, tanyanya lugu.
“Gak juga sih..”,jawab Citra sambil kembali menjahit.
“Robert….”, katanya memperkenalkan diri.
“Gak nanya..”, jawab Citra judes.
 
“Ntar juga pasti ingin tahu…”, kata Robert lagi.
“Gak tuh..”, jawab Citra sambil menusukkan jahitan terakhirnya sedikit kuat dengan sengaja. Robert meringis lagi.
“Aw…aw…Dokter Citra, biasa aja dong…”. Dia pasti tahu nama Citra dari name tag di jas dokternya.
“Sudah..”, kata Citra akhirnya, “jangan digaruk ya, saya tuliskan resepnya sebentar”. Citra mengambil note resepnya dan mulai menulis.
“Buseeet, tulisannya jelek amat Dok…”, suara cempreng Robert benar-benar mengganggu telinganya.
“Udah, pergi sana…saya masih banyak pasien”, usir Citra.
“Yee…saya kan pasien juga Dok..”, sungut Robert makin mengganggu.
“Kamu…udah selesai, sekarang pergi ke apotek, sana..”
“Ok…ok..bye Dokter Citra….see you soon ya…”, Robert mengedipkan mata. Dia berlalu sambil menenteng tabung gambarnya yang mirip bazooka itu. Tak lama kemudian, dia berlalu dengan motor gedenya. Mungkin dia memang arsitek, siapa yang tahu. Penampilan seseorang kan bukan ukuran.
Citra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Firasatnya mengatakan akan bertemu lagi dengan Robert. Pasien memang bermacam ragam, semua unik. Karena merekalah Citra di sini, siap siaga, untuk mereka yang selalu gawat dan darurat.
Padang, 23 Juli 2013

Persinggahan

Keretaku akhirnya berangkat. Dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta. Aku dan beberapa teman telah berjanji untuk berkumpul di Malioboro lusa, membahas rencana keliling Yogya, ekspedisi ke Gunung Lawu dan kemungkinan terus ke Semarang. Kuperiksa kembali isi ranselku, cukup kurasa segala keperluanku untuk liburan sebulan penuh, jauh dari hiruk pikuk pekerjaan, jauh dari segala yang aku tahu. Hanya aku dan diriku, serta beberapa orang yang merasa sama denganku.

Pemandangan di luar sana benar-benar mencengangkan. Menjelang Stasiun Jatinegara, mentalku benar-benar diuji. Sejauh manakah aku mengenal Jakarta? Kota yang telah menjadi tempatku tinggal beberapa tahun terakhir ini. Kota yang memberi lebih pada golongan tertentu, namun juga tidak memberi cukup pada golongan lainnya. Lihatlah, di luar sana, gedung-gedung megah ternyata berdampingan dengan gubuk reyot, berdampingan dengan tempat pembuangan sampah, berdampingan dengan kepedihan dan harapan yang hanya tinggal harapan. Kenyataan yang tidak terbantahkan. 

Aku menarik nafas panjang, berharap suguhan pemandangan ini segera usai. Di antara harapan dan rasa nyaman pendingin ruangan dalam gerbong, akupun tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, mungkin cukup lama. Yang aku tahu, malam berangsur turun, gelap menyapa. Pemandangan di luar sana berubah menjadi bayangan kelam. Kelam. Pekat. Kelam.

Kereta tiba-tiba saja berhenti, cukup lama. Di dalam gerbong ini sudah tidak begitu banyak lagi penumpang. Apa sudah sampai? Pikirku dalam hati. Tapi masih terlalu cepat.

Kereta masih belum berjalan. Terlalu lama untuk sebuah persinggahan. Penerangan di dalam gerbong perlahan meredup. Semuanya berubah menjadi samar. Buram. Samar.

Kereta tidak juga beranjak. Perlahan aku mulai menyadari bahwa tidak ada penumpang lagi di gerbong ini selain aku. Tidak ada lagi hiruk pikuk. Sunyi. Gelap.

Aku berdiri. Kusandang ranselku keluar gerbong. Ya Tuhan, di mana aku..? Ini jelas-jelas bukan Stasiun Tugu. Ini stasiun antah berantah yang dipenuhi gerbong-gerbong usang nan lusuh. Termasuk gerbong yang kutempati tadi. Usang dan lusuh. Tidak ada penerangan di sini. Semua samar, hanya mengandalkan cahaya bulan purnama yang sebagian tertutup awan. Aku mulai merinding. Sendirian tidak selamanya menyenangkan.

Aku mencari-cari peta, mengandalkan penerangan dari telepon genggamku. Tidak ada sinyal di sini dan peta yang kubawa terasa percuma. Aku buta navigasi. Mataku masih mencari-cari.

Perlahan, saat mataku mulai beradaptasi dengan temaramnya cahaya bulan, aku menyadari ada sosok-sosok di pinggir peron. Sosok-sosok manusia yang juga lusuh. Mereka menjajakan sesuatu. Entah apa itu, aku tidak tahu. Bagaimana orang-orang ini muncul? Dari mana mereka berasal? Ini bukan mimpi, setidaknya mataku terasa panas dan kulitku mulai merasakan dingin, merinding yang luar biasa mencekam.

Sesuatu yang tidak kuduga tiba-tiba mendera. Rasa lapar yang amat sangat. Aku tidak membawa makanan apapun di dalam ransel. Aku menarik nafas panjang, berusaha menajamkan penglihatanku. Sosok-sosok di pinggir peron mulai memanggil-manggil dengan lambaian tangan. 

Aku mendekati salah satunya. Seorang pedagang tua yang luar biasa lusuh, selusuh dagangannya. Dia menjajakan kue-kue berdebu. Rasa lapar makin menderaku, mengalahkan naluri dan kesadaranku terhadap kebersihan. 

Aku mengambil salah satu kue berdebu itu. Samar namun pasti, kudengar si pedagang lusuh berkata lirih.

“Kalau kamu makan kue itu, kamu akan menjadi salah satu dari kami. Kau tidak akan pernah bisa kembali ke tempat asalmu.” 

Aku menelan ludah.

 
Padang, 15 April 2013

Interpretasi sebuah mimpi.

Buongiorno, Abimanyu

Buongiorno….”, sapa Abi sambil memasuki kelasnya. Baru satu mahasiswi di kelas itu, Frida.
          
“Buongiorno, Abi…”, jawab Frida ramah lalu kembali menekuni buku yang dibacanya.
          
Abi mengambil tempat di baris kedua. Itali menjelang musim dingin. Sudah dua minggu dia di sini. Abi melangkah menuju jendela. Matanya memandangi Grand Canal yang memanggil untuk dikunjungi di luar sana, seolah membawa banjir dari laut. Namun, begitulah pesona Venesia hingga wisatawan selalu ingin kembali ke kota ini.
          
Abimanyu memang tidak lagi berkutat dengan urusan adaptasi. Minggu lalu, dia masih tersasar ke Fakultas lain, berlari di sepanjang koridor dan terlambat masuk kelas. Kendala bukan sekedar bahasa, tapi juga waktu dan kesempatan beribadah, makanan yang boleh atau tidak dikonsumsi, toilet yang hanya menggunakan tisu ditambah lagi lokasi supermarket, apartemennya sendiri dan juga rambu-rambu untuk pengendara sepeda, satu-satunya kendaraan yang boleh dikemudikannya sendiri di negara ini.
          
Selain itu juga, Abi masih harus belajar Bahasa Itali, sedikit demi sedikit kalau ingin bertahan. Karena yang paling genting adalah masalah halal atau tidaknya makanan yang dia makan.
          
Abimanyu tersenyum menatap ke luar jendela. Bulan depan dia akan berusaha mencari cara untuk ke Munich, memberi kejutan pada Diandra.
          
Frida menangkap senyuman Abimanyu. Wajah Indonesia yang sedang memandang ke luar jendela, tersenyum tertimpa matahari musim dingin, ternyata menarik bagi Frida. Dua minggu sudah dia mengenal Abi dan tiba-tiba saja hari ini Abi terlihat sangat menarik. Ya, tentu saja Abi memang menarik, selain dari gaya seriusnya kalau sedang menjawab pertanyaan dosen. Abi itu….seolah ada bintang yang menyinari hatinya.
          
“Hey, Abi….bagaimana Venesia…? Sudah bisa beradaptasi…?”, tanyanya dengan Bahasa Inggris beraksen Italia.
          
Abi menoleh. Seorang gadis cantik dengan wajah khas Eropa Selatan tersenyum di sana. Tapi kenapa wajahnya jadi mirip Diandra…?
          
“Ya…lumayanlah…”, jawab Abi sambil mengangkat bahu. Masalah Magister dan adaptasi bukanlah hal penting baginya karena yang paling urgent adalah menemukan Diandra.
          
“Kamu harus coba naik Gondola, Bi…mau aku temani…?”, Frida masih tersenyum. Waw…ajakan yang menggiurkan tentu saja, sayang yang menawari bukanlah yang dia harapkan.
          
“Frida, bagaimana cara ke Munich dari sini…?”, tanya Abi mengalihkan pembicaraan.
          
“Wow…Abi, Venezie saja belum kamu jelajahi, sekarang malah ingin ke Munich. Mencari seseorang…?”, tanya Frida masih dengan senyum.
          
Abi mengangguk.
          
“Pacarmu…?”, tanya Frida lagi, sambil lalu berusaha menyembunyikan penasaran dalam hati.
          
“Bukan…”, jawab Abi. Ada secercah lega di wajah Frida.
          
“Saudara…?”
          
“Bukan…”
          
“Lalu…?”
          
“The love of my life…”
          
Seketika wajah Frida berubah. Ternyata lebih dari sekedar pacar, lebih dari sekedar soulmate. Mungkin bintang itulah yag menyinari hati Abi.
          
“Bisa dengan pesawat, dengan kereta cepat juga bisa. Ada Trenitalia atau German Railway. The City Night Line juga bagus…”, jawab Frida datar, kembali menekuni bukunya. Dasar pria, selalu mengesalkan !!! Kenapa kamu selalu saja ada yang punya saat aku merasa tertarik…???
          
Grazie, Frida…”, kata Abi sambil tersenyum lebar.
          
Teman-teman yang lain mulai berdatangan. Ada yang asli Italia, ada juga yang berasal dari negara lain. Beberapa di antara mereka seperti Abi, para penerima beasiswa.
          
Abi duduk di bangkunya. Professor Agnelli sudah memulai kelasnya. Abi memperhatikan dengan seksama, meninggalkan kesal di hati Frida.


*Available on novel