Hujan Bulan Januari

Image by Google


Hujan deras di bulan Januari turun membasahi jalanan Padang, terus menghitamkan aspalnya, membuatnya menjadi berkilau licin. Sekarang memang sedang musim hujan. Hujan membawa turun temperatur kota Padang di bawah temperatur biasanya. Hujan membasuh debu jalanan dan mengalirkannya entah ke mana. Hujan membawa cerita dan pelangi sesudahnya.

Aku memarkir mobilku di depan toko. Hari ini aku ingin buka lebih pagi walau hujan. Sendirian di rumah tidak membuatku betah kecuali kalau ada artikel yang harus aku selesaikan. Pantai Padang terlihat berkabut ditimpa hujan yang makin lama makin deras. Ombak yang bergulung di sana menghempas karang, tidak lagi berwarna biru sejati melainkan sudah bercampur abu-abu. Ini hampir menyerupai badai. Belum ada pedagang yang biasanya menghiasi sepanjang pantai dengan payung-payung mereka. Hujan terlalu deras mengguyur kota ini.
             
Kubuka pintu toko yang berwarna hijau daun. Loncengnya berbunyi menyenangkan di telingaku. Itu lonceng hadiah dari sahabatku Olivia. Dia bilang, bunyinya akan terus mengingatkan akan kehadiran sahabat lama, walaupun kita terpisah jauh. Tapi kenyataannya, aku dan Olivia hanya terpisah satu blok dari sini. Dia memutuskan untuk membuka kliniknya tidak jauh garden shop dan toko bukuku ini. Ada-ada saja. Padahal dia sudah enak tinggal di Jakarta, menuntut ilmu untuk menjadi seorang spesialis kanker. Tapi hanya dua bulan dia pergi. Dia pulang lagi membawa lonceng ini.

             
Beberapa bulan setelah kepulangannya, Olivia memutuskan untuk membuka klinik dokter umumnya di sini. Itu sudah satu tahun yang lalu. Pikirku saat itu, apa-apaan dia? Kenapa malah berhenti dari sekolah spesialisnya? Dia kan seorang dokter yang hebat. Pasti bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Tapi dia hanya tersenyum sambil mengangkat bahu dan aku sebagai sahabatnya mengerti kalau Olivia telah membuat keputusan.

             
Begitulah tentang Olivia. Aku Ria. Tidak jauh berbeda dengan dia. Aku malah melenceng dari keilmuan yang dulu kunikmati di bangku kuliah. Aku ini sarjana, oh ya, sekarang magister teknik kimia. Tapi aku malah memutuskan untuk membuka toko buku serta toko bibit dan benih tanaman import di sebelah. Apa yang ada dalam pikiranku? Entahlah. Ketika ditanya, aku hanya bersikap sama seperti Olivia, tersenyum sambil mengangkat bahu. Dan orang-orang yang mengerti akan tahu kalau aku telah membuat keputusan. Sedangkan yang tidak mengerti? Ah, aku tidak terlalu peduli.

             
Baru jam 7 pagi. Aku bersiap-siap membuka 2 toko. Sebentar lagi kalau hujan sedikit reda, Wanda mungkin akan muncul. Dia pegawai setiaku yang kutugaskan di garden shop. Sementara toko buku kecil ini bisa kutangani sendiri. Aku maklum kalau Wanda akan terlambat pagi ini. Dia kan harus naik angkot dan berkemungkinan ponselnya kehabisan pulsa untuk memberitahuku kalau dia terlambat.

            
Aku masih asyik dengan kemoceng mengusir debu-debu di rak-rak buku kesayanganku. Tiba-tiba lonceng pintu berbunyi, pertanda ada yang datang.

           
“Maaf, kami masih tutup,” ujarku tanpa melirik.

            
“Kamu benar-benar masih betah di sini.” Sebuah suara tajam yang sangat kukenal sampai di telingaku. Aku menoleh secepat yang aku bisa.

           
Perempuan itu berdiri di sana. Perempuan yang melahirkanku. Mamaku tercinta.

            
“Mama…?” kataku diselimuti heran sambil berjalan menyambut beliau. Kami berpelukan kaku,”Kapan datang dari Semarang?”

             
“Baru saja, Mama langsung ke sini,” jawab beliau masih dengan suara tajam.

            
“Kenapa sih Ma?” tanyaku yang tidak pernah bisa berhenti khawatir kalau menatap wajah masamnya.

            
“Mama hanya ingin mengunjungimu,” jawab Mama lagi sambil mulai berkeliling melihat-lihat tokoku. Aku mengawasi gerak-gerik Mama dengan khawatir.

            
 “Gak mungkin banget alasan Mama. Kan kemaren udah nelpon. Mama gak bilang kalau akan ke Padang.”

            
“Ya, memang banyak hal yang ingin dibicarakan denganmu”, tukas Mama akhirnya sambil kembali menatapku dalam-dalam.

            
Aroma harum muffin mulai tercium dari toko cake and bakery di sebelah. Wangi rempah-rempah khas yang hangat menyenangkan. Aroma yang memberi keyakinan bahwa tiap potong kue di toko itu dibuat dengan cinta.

           
“Kita bicara sambil minum kopi?” tawarku pada Mama. Beliau mengangguk setuju.

            
Hujan masih mengguyur Padang walau sudah tidak sederas tadi. Tiara, si pemilik toko menyambut kami dengan senyuman khasnya, dan mempersilahkan kami untuk duduk.

             
Aku dan Mama, jam 7 pagi lewat sedikit, duduk di meja segi empat dekat jendela dengan cafe au lait dan muffinyang masih hangat. Pantai Padang terlihat jelas di depan mata. Ombak masih mengganas. Air laut masih berwarna abu-abu.

Hujan kadang datang membawa jarak, kadang juga untuk menghilangkan jarak. Kenapa hatiku dan Mama begitu berjarak? Seolah ada rahasia dirinya yang aku tidak boleh tahu, sementara dia bisa bersikap seenaknya memaksaku melakukan apa yang dia mau. Hari ini, hujan datang membawa Mamaku.

*****

“Kapan kamu menikah?”
Aku tersedak kopi. Tidak habis pikir dengan pertanyaan Mama. Kenapa selalu pertanyaan ini? Tidak adakah hal lain yang ingin disampaikan? 

Aku menjawab sinis,”Bagaimana kalau dibuka dengan kata-kata “Mama sangat merindukanmu”? Itu akan lebih baik Ma.”

Tiara di balik meja kasir menatapku tak percaya. Mau tidak mau dia pasti mendengarkan pembicaraan kami. Aku balik memandangnya sambil mengangkat bahu. Tiap kali aku dan Mama bicara, pertanyaan inilah yang paling dulu diajukan. Kapan menikah? Yang benar saja. Pacarpun aku tidak punya.

Mama menghela nafas panjang dan menatapku dengan wajah prihatin.

“Kalau kamu belum juga menikah, kamu harus ikut Mama ke Semarang,” titahnya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena Mama ingin kamu meneruskan usaha Mama,” lanjutnya masih dengan nada memerintah, setidaknya begitulah yang terdengar olehku.

Tiara menahan nafas, aku memandangnya putus asa. Tapi diapun hanya bisa memasang wajah pasrah sambil geleng-geleng kepala.

“Aku tidak mengerti tentang perhiasan Ma,” jawabku beralasan.

“Kamu akan belajar.” Mama selalu menemukan jawaban untuk setiap bantahanku. Aku memandang ke luar jendela.

Mamaku seorang desainer perhiasan yang cukup sukses. Namanya cukup diperhitungkan di dunia perhiasan tanah air. Beliau memang seorang pekerja keras. Kemauannya untuk mengolah logam dan batu mulia menjadi perhiasan indah telah membuat namanya melambung terkenal sebagai seorang pengusaha sukses.

Tapi beliau telah lama tidak pulang ke kampung halaman dan sekarang anak satu-satunya belajar untuk benar-benar membangkang padanya.

“Aku tidak ingin belajar apapun dari Mama!” jawabku ketus. Kulihat Tiara melotot tajam padaku. 

“Mama tidak habis pikir apa yang kamu cari di tempat seperti ini,” ujar Mama tanpa basa-basi lagi. Kenapa sih, tiap kali bertemu Mama keadaannya selalu seperti ini?

“Mama tidak perlu khawatir. Aku punya toko, mobil, rumah dan tabungan,” kilahku.

Mama mendengus, “Hah! Toko kecil di pinggir pantai, mobil Starlet butut keluaran tahun entah kapan dan rumah kecil yang dijual murah oleh pemiliknya dengan buru-buru karena dia takut kena tsunami?”

“Apapun itu. Itu adalah kerja kerasku. Mama tidak berhak menghinaku!” jawabku mulai merasakan sesak. Betapa aku benci sekali pada wanita ini yang tidak menghargai kerja kerasku sama sekali. Tiara mulai beranjak ke pantry. Aku mengerti pertengkaran ini bisa merusak mood kami sepanjang hari. Hujan sudah reda dan sebentar lagi toko akan dibuka.

“Mama tidak menghina. Mama hanya mengingatkan bahwa kamu seharusnya bisa lebih baik. Hanya saja kamu kurang kompetitif.”

“Ini adalah yang kuinginkan. Mama jangan khawatir.”

“Kamu harus ikut Mama.”

“Aku tidak mau.”

“Kalau begitu kamu harus menikah.”

“Aku akan menikah kalau Mama dan Papa rujuk.”

“Urusan Mama dan Papa tidak ada hubungannya denganmu.”

“Kalau begitu pernikahan dan hidupku juga bukan urusan Mama.”

“Kamu masih tanggung jawab Mama.”

“Oh, jadi Mama ingin melepaskan tanggung jawab dengan memaksaku menikah?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Mama tidak memaksamu menikah.”

“Lalu?”

“Mama memaksamu untuk ikut Mama.”

“Mama tidak akan berhasil.”

“Kamu akan ikut dengan sukarela.”

“Coba saja.”

Aku keluar dan berjalan menuju toko bukuku. Garden shop telah sejak tadi buka. Wanda telah ada di sana dan melayani beberapa pembeli. Hujan berangsur reda walau mendung masih bergelayut di langit Padang.

Mama mengikutiku. Beliau memang keras kepala. Sifat yang disinyalir menurun padaku. Sifat itu juga mungkin yang menyebabkan Mama bercerai dengan Papa setahun yang lalu. Keluarga macam apa ini?

Aku memasang tanda buka di depan pintu. Menyiapkan meja baca tempat para pengunjungku bisa membaca beberapa buku tertentu, fasilitas yang membuat Mamaku geleng-geleng kepala. Kapan putrinya bisa kaya kalau begini?

Beberapa pengunjung mulai datang dan memilih-milih buku. Mama sekarang memeriksa semua rak dan mencermati beberapa judul buku. Beliau tidak berkata apa-apa lagi.

“Toko buku ini unik. Mama suka desainnya,” kata beliau tiba-tiba. Sekarang Mama tersenyum lalu duduk menghadap salah satu meja baca. Pantai Padang di luar jendela masih saja abu-abu.

Aku tersenyum sinis sambil ikut duduk di hadapan Mama.

“Mama tidak perlu bersikap ramah untuk membujukku,” kataku sadis.

“Mama serius. Mama suka desain tempat ini. Mengingatkan Mama pada toko rempah-rempah kesukaan Mama.”

Mendapatkan pernyataan seperti itu dari seseorang yang telah berpergian ke banyak tempat, aku yakin Mama serius. Tapi, kenapa jadi toko rempah-rempah?

“Mama hanya sedang berusaha menyelamatkan ahli waris Mama,” lanjut Mama masih berusaha.

“Sumbangkan saja semuanya,” kataku lagi.

Mama menatapku dengan pandangan yang sulit dimengerti.
“Duduklah, Mama akan ceritakan sesuatu.”
*Full story on draft