Menuliskan Seorang Pengelana

Image by: Google

Tentang pengelana itu. Dia yang pergi dan tidak berjanji untuk kembali. Dia tidak meminta untuk menunggu. Dia pergi dengan punggung semampai dan rambut ikal gondrong berkibar tertiup angin. 


“Jangan tunggu aku,” katanya lirih namun tegas, tersirat bahwa dia tidak akan kembali. Dia tidak ingin kembali. 

Tapi sebuah hati yang begitu ngotot memberi ruang untuk tetap menunggu. Walau dia tahu, pria itu tidak peduli. Dia tidak kembali karena dia tidak peduli. Dan perempuan itu tetap memutuskan untuk menyia-nyiakan umurnya, menatap cakrawala dari beranda hingga senja tiba walau tak sedikitpun bayangan pria pengelana itu muncul.

Begitulah hari berganti. Jaman berganti rupa dan fisiknya mulai menua, dia tetap menunggu.

Kekonyolan yang aneh. Tidak ada yang meminta dia untuk melakukan itu. Tidak juga cinta. Cinta itu hanyalah kegombalan yang hilang dalam sekejap.

Pria pengelana pastilah ada di salah satu titik dunia. Mungkin sedang bercinta dengan banyak wanita, menari Samba hingga kakinya jera, minum Vodka bersama teman-teman sesaatnya, berkostum Tarzan di festival kota atau barangkali tercampak di dekat tong sampah, mengais makanan sisa. Entahlah.

Perempuan yang menunggu tetap saja menunggu. Seolah takdir hidupnya hanyalah menunggu pria itu.

Bodoh, tidakkah kau sadari,dia bahkan tidak tahu namamu.

Mereka bertemu bertahun lalu, saat hujan badai disertai petir menyapa langit dunia. Pria itu mengetuk pintunya. Oh wajah yang sungguh tampan. Mata yang bersinar cerah penuh semangat. Kulit putih bersih dengan hidung mancung dan rahang yang menceritakan keteguhan hati. Semua ada pada pria bertubuh semampai itu. 

Dia datang membasuh kesendirian si perempuan yang baru saja kehilangan ayah ibunya. Dengan rasa percaya, dia menerima orang asing itu masuk.

Tanpa dia sadari, pria itu mencuri segenap hati dan seluruh sisa waktunya, yang sekarang dia abdikan untuk menunggu. Menunggu seseorang yang tidak akan kembali.
Dia memang melakukan hal yang sia-sia. Pria pengelana itu masih ada di satu titik dunia dan dia tidak mungkin kembali walaupun mungkin dia ingin. Kaki dan tubuhnya sekarang telah terikat. Rohnya telah bersatu di keabadian. Kanker paru-paru telah membuatnya berpindah alam. Dia tidak mungkin kembali ke rumah itu. Dia telah menyatu dengan tanah, diiringi nisan tanpa nama.

Perempuan itu masih setia menunggu. Mungkin menunggu sekarang memang tujuan hidupnya. Menunggu untuk dibawa pergi, bersama roh yang sekarang ikut menemani.

Padang, 4 November 2014

Telah kujelajahi dunia, hanya pada satu nama aku ingin kembali.
-Anita Daniel-



Advertisements

Omamori

Kimi o mamoru tame….untuk menjagamu…
“Ria-Chan…tunggu di sini sebentar ya….”, kata Masao padaku dengan sedikit terburu-buru.  
Kami sedang berkunjung ke Kuil Unpenji, daerah pegunungan Hagiwara. Saat ini musim dingin dan keseluruhan Unpenji tertutup kabut.
Aku hanya bisa melongo menatap abang angkatku itu. Tiga tahun tinggal bersama keluarga Okashita bukanlah jaminan untuk mengerti tindak tanduk Masao, putra sulung keluarga itu, yang sekaligus kakak angkatku.
Masao menghilang ke dalam kuil. Dua menit…lima menit…tujuh menit. Aku mulai tidak sabaran. Aku kedinginan di sini walaupun sudah memakai syal, sarung tangan dan penutup telinga. Tapi, sepuluh menit sudah belum ada tanda-tanda kemunculan Masao. Aku benar-benar kehilangan kesabaran.
“Nii-Chan….hayaku….!”, teriakku tak sabar, menyuruhnya cepat keluar, apapun itu yang sedang dikerjakannya.
Tapi Masao belum juga keluar dari tempat persemediannya.  
Hey, kamu tidak sopan, Ria. Orang sedang beribadah kok disuruh buru-buru, tiba-tiba saja aku teringat, jadi kuputuskan untuk menunggu sebentar lagi, sambil menuju mesin penjual minuman demi sekaleng cafe au lait hangat.
Setengah jam sudah Masao menghilang di dalam kuil. Aku tidak mengerti kenapa dia lama sekali. Masao tidak pernah beribadah selama ini.
Kugoyang-goyangkan lonceng negai dengan tidak sabar. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara mantram, makin lama makin jelas seperti dengungan lebah. Kurasakan tepukan di pundakku.
“Ayo, masuk saja, tidak apa-apa kok…”, suara Bhiksu Shoji mengagetkanku. 
Beliau sudah masuk ke dalam mendahuluiku. Jadi kuputuskan untuk mengikutinya. Mungkin tidak masalah, seperti waktu di Kyoto, pengunjung asing juga diperbolehkan untuk melihat ritual ibadah.
Aku masuk dan menemukan Masao bersimpuh di depan altar. Khusyuk, terhanyut dengan buku mantram ditangannya. Sepertinya dia berniat membaca sampai habis. Aku memutuskan untuk menunggu sambil menonton ritual ini. Tidak masalah bagiku. Aku ingin menikmatinya, karena minggu depan aku akan kembali ke tanah air.
“Ria-Chan…Ria-Chan….”, suara Masao terdengar jauh. Aku melihat wajahnya buram. Dia tersenyum.
Nii-Chan….“, jawabku.
“Kamu ketiduran….”, katanya geli. Ah benar saja. Segera aku bangkit dan mengucek mataku.
“Udah selesai negainya..?” tanyaku. Masao mengangguk.
“Maaf, membuatmu menunggu lama. Habis ini aku traktir makan Udon paling enak di Sanuki, ya…”, katanya sambil mengedipkan mata.
“Harus dan wajib…”, jawabku sambil pura-pura cemberut. Masao tertawa dan membantuku berdiri.
Bhiksu Shoji menghampiri kami.
“Okashita-Kun….”, katanya pada Masao, “…ini omamori pesanannya…”. 
Bhiksu Shoji melambaikan sebuah omamori di depan hidung Masao, tapi seperti teringat sesuatu, beliau urung menyerahkannya pada Masao. Omamori adalah semacam jimat pelindung dan dipercaya bisa melindungi diri dan biasa dibawa ke mana-mana, sebagai gantungan kunci atau pembatas buku.
“Ini omamori istimewa”, jelas Bhiksu Shoji tanpa ditanya sambil melirik Masao. Yang dilirik menundukkan kepalanya sambil tersipu-sipu. 
Sungguh, ini pemandangan aneh dan baru untukku. Untuk pertama kalinya kulihat kakak angkatku, Masao, seorang dokter bedah yang tegas, tersipu malu.
Naze…kenapa..?”, tanyaku agak kurang sopan.
“Okashita-Kun habis membaca satu buku mantram hanya untuk mendapatkan omamori ini. Hal yang belum pernah dia lakukan seumur hidup”, kata Bhiksu Shoji padaku.
Aku manggut-manggut. Ini pastilah omamori untuk Mama, untuk menjaga keselamatan beliau.
“Omamori ini didapat dengan susah payah, untuk menjaga seseorang yang istimewa dan Okashita-Kun memintaku untuk menyerahkannya padamu. Dia terlalu malu untuk melakukannya sendiri”.
Aku melongo sambil menerima omamori itu dari Bhiksu Shoji. Masao mengalihkan pandangannya pada pemandangan Hagiwara di bawah sana, menghindari tatapanku yang menuntut penjelasan.
Bhiksu Shoji pun berlalu. Unpenji menjelang sore. Aku masih melongo, tidak tahu harus berkata apa.
Nii-Chan...”, kataku pada Masao. Masao akhirnya menoleh padaku, sambil tersenyum.
“Omamori itu untukmu, untuk menjagamu…”, katanya singkat. Aku tersenyum. Dua jam aku menunggu sampai ketiduran, untuk menerima kejutan ini. Seseorang yang istimewa bagi Masao.
Arigatou, Nii-Chan….“, jawabku akhirnya balas tersenyum.
“Pulang yuk…aku masih harus traktir kamu Udon…”
Aku mengangguk. Udara musim dingin menusuk hingga ke tulang. Tapi kurasakan ada tangan yang menggenggam tanganku, lalu memasukkannya ke saku jaketnya. Sekedar menghangatkan sebelah tanganku, dan juga hatiku.
Masao terus menggandengku menuju tempat parkir, tanpa kata-kata.
Padang, 31 Agustus 2013
Untuk Hagiwara dan Unpenji

The Fortune Teller

Bhiksu itu masih muda dan ganteng, menurutku. Aku tidak tahu namanya. Tapi yang jelas dia menawarkan untuk meramal garis tanganku.
Sore itu, aku dan Tante Akemi baru saja selesai berbelanja di Takamatsu, Ibukota Prefektur Kagawa, tempat aku menghabiskan masa 3 tahun homestay bersama keluarga Fujiwara.
Kami sedang melewati toko buku ketika aku lihat Bhiksu muda itu, dengan caping di kepalanya, memegang mangkuk sumbangan di tangan kanan, berdiri sambil menawarkan ramalan pada kami.
Anehnya, dia hanya menawarkan untuk meramalku, dari sekian banyak pengunjung yang lalu lalang di Takamatsu Square. Ini musim panas terakhirku di Negeri Doraemon. Orang-orang dengan berbagai gaya sibuk hilir mudik menikmati suasana. Ada yang bergaya Rastafarian, ada yang bergaya Morroccan, ada yang bergaya Harajuku dan ada juga yang bergaya tanpa konsep, sepertiku.
“Sanuki….”, sapa Bhiksu itu. Aku tidak menyadari kalau yang dia maksud itu adalah aku, Tante Akemi yang menyadarinya saat melihat Bhiksu itu memandangku tanpa berkedip.
“Nadia-Chan….kamu dipanggil oleh Osho-San di sana itu…”, bisik Tante Akemi.
“Tapi tadi dia memanggil Sanuki”, bisikku lagi. Tante Akemi menjitak kepalaku dengan geli.
“Kamu ini, sudah 3 tahun tinggal di Hagiwara, masa tidak tahu kalau daerah sekitaran tempat kita tinggal juga disebut Sanuki…ckckck..”, Tante Akemi geleng-geleng kepala.
“Aku tahu, Ba-Chan…”, timpalku, “tapi yang dari Sanuki kan bukan cuma kita….”
“Iya, Ba-Chan tahu…tapi Osho-San itu cuma melambai ke arah kita…kamu lihat deh….”
“Sanuki…Sanuki….”, panggilnya ngotot. 
Aku menggeleng-geleng takut, Tante Akemi akhirnya memaksa menggandeng tanganku untuk menghampiri Bhiksu itu. Ini memang jarang sekali terjadi, karena itu Tante Akemi penasaran bukan main.
Konnichiwa…selamat siang”, sapaku hormat sambil membungkuk pada Bhiksu ganteng itu. Habisnya, aku harus bagaimana lagi…?
“Kamu…gadis dari Sanuki, kan…?”, tanyanya lagi. Aku menggeleng.
Indonesia no ko….Padang kara kimashita...”, jawabku sopan, menjelaskan aku ini anak Indonesia, tepatnya dari Padang.
“Tapi kamu tinggal di Sanuki, kan…?”, suara itu masih ngotot. Tante Akemi akhirnya menjawab.
“Iya, dia memang tinggal di Sanuki, bersama keluarga saya…”, jelas Tante Akemi. Bhiksu itu manggut-manggut.
“Kamu mau pergi ke luar negeri ya…?”, tanyanya lagi.
Aku menelan ludah. Bagaimana Bhiksu ini tahu aku bakalan pulang kampung minggu depan…?
Chotto ii…?“, tanyanya meminta izin untuk melihat garis tangan kiriku. Tante Akemi tanpa basa-basi langsung menyambar tanganku dan memperlihatkannya pada Bhiksu itu.
Ah, ini sih kesempatan aja elo pengen pegang-pegang tangan gue, gerutuku dalam hati.
Aku memang tidak begitu menyukai ramalan. Ramalan cenderung menguasai pola pikir kita. Kadang kita mengira ramalan itu jadi kenyataan, karena pikiran kita sudah diarahkan sebelumnya.
“Kamu tidak boleh bepergian jauh…”, larangnya tiba-tiba.
Whattt…? kataku dalam hati. 
Kalo gue gak pulang bisa dideportasi Om, gara-gara visa habis.
“Perpanjang visamu…”, suruhnya lagi seolah mengerti. 
Tante Akemi kulihat terperangah luar biasa. Aku juga jadi sedikit takjub. Orang ini bisa membaca pikiranku.
Muri desu..“, bantahku.” itu mustahil, tiket sudah dibeli…”
Dan aku kaget bukan kepalang ketika Bhiksu itu mengeluarkan sejumlah uang pecahan sepuluh ribu Yen lalu menyerahkannya pada Tante Akemi, yang juga terkaget-kaget luar biasa. 
Biasanya kamilah yang harus menyumbang pada Bhiksu, sekarang kami malah diberi uang, tidak tanggung-tanggung jumlahnya. Seratus ribu Yen sekarang ada di tangan Tante Akemi. Ya, jangan pernah membantah seorang Bhiksu, itu semboyannya.
Apalagi kalo Bhiksunya malah ngasih duit setara dengan sepuluh juta Rupiah, setara dengan tiket pulang-pergi Padang – Kansai.
“Perpanjang visa Gadis Sanuki ini dan dia tidak boleh ke luar negeri sampai tahun depan”, pesannya lalu kembali terdiam tanpa penjelasan, kembali khusyuk dengan tasbih besar dan mangkuk sumbangan di tangannya. Bhiksu itu tidak berkata apa-apa lagi.
“Namaku Nadia….”, kataku akhirnya,”Dan anda lumayan ganteng….”, isengku mulai kumat.
Tante Akemi menjitak kepalaku lagi dan menarikku pergi dari sana.
Kami lalu masuk ke Starbucks dan sedikit melupakan kejadian tadi. Cafe Au Laitnya enak, begitu juga Croissantnya, dan semboyan yang tidak akan pernah kulupa “Geography is Flavour“, terpampang besar-besar di dindingnya.
Aku sudah melupakan kejadian itu, tapi tidak Tante Akemi. Beliau langsung memperpanjang visa dan id cardku, dan juga menelepon keluargaku di Indonesia. Dia benar-benar ngotot.
Kami baru saja selesai makan malam ketika berita itu muncul di Fuji Terebi. Tante Akemi langsung histeris sambil mengaduk-aduk isi tasnya. 
Aku yang baru selesai mencuci piring tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi Tante Akemi langsung memelukku erat-erat.
“Nadia-Chan...yokatta…syukurlaaah”, katanya sambil menangis.
Pembaca berita itu mengatakan kalau pesawat JAL dengan nomor penerbangan JA8345 telah jatuh di Fukuoka, semua penumpang dan awak pesawat tewas.
JA8345, nomor persis yang tertera di tiketku. Siapa percaya ramalan…?
Padang, 3 September 2013

Reuni

Reuni. Ditunggu oleh sebagian besar alumni, dihindari oleh sebagian alumni lainnya.
“Hmm…cantik…”, suara Mama terdengar dari balik pintu. Ajeng yang sedang mematut diri di depan cermin, mau tidak mau tersenyum.
“Mama…bisa aja…”, jawabnya agak malu tapi dalam hati dia senang dipuji begitu, meskipun itu pujian dari Mama yang sudah pasti akan menyebutnya cantik, walau dia sedang terlihat jelek sekalipun.
“Jadi…reuninya jam berapa…?”, tanya Mama.
“Jam 4 sore, Ma…sebentar lagi…”, jawab Ajeng. Dia tercenung cukup lama.
“Ya udah, kalo gitu kamu berangkat sekarang aja…Pak Yadi juga udah dari tadi nungguin kamu…”, kata Mama tersenyum.
Ajeng mengangguk. Mama mengantarkannya sampai ke mobil, di mana sopir setianya Pak Yadi, sudah siap sedia menunggu instruksi.
Ya, akhirnya Ajeng memutuskan untuk menghadiri reuni ini setelah mempertimbangkan banyak hal. Dia tersenyum mengingat teman-teman lama yang mungkin juga akan menghadiri acara ini. Banyak sekali kenangan yang akan mereka bicarakan nanti setelah kehilangan kontak begitu lama.
Tapi, sesuatu hal membuatnya kembali merenung.  Kadang hal itulah yang membuatnya berat untuk bertemu orang-orang dari masa lalu. Dia tidak minder soal karir, walaupun dia tidak berkiprah di kantoran seperti kebanyakan temannya. Justru Ajeng tahu seharusnya dia bangga. Karirnya tidak pernah mengikatnya, tapi mampu menghidupinya lebih dari cukup. Jajaran novel-novel best seller, skenario-skenario yang memperoleh penghargaan itu sudah cukup jadi bukti eksistensinya. Tapi bukan itu yang membuatnya gundah. Sudahlah…
Ajeng kembali melamun. Virly, bagaimana kabarnya…? Winda…apakah masih suka ngerumpi..? Hadi, apakah masih jahil seperti dulu…? Seperti apakah mereka sekarang…? Sudah sukses ataukah bagaimana…? Ajeng sungguh ingin tahu. Dia tersenyum sendiri mengingat bagaimana mereka dulu. Bolos pelajaran Geografi dan nongkrong di toko kasetnya Bang Puji sambil membongkar semua koleksi poster di sana. Bang Puji yang baik itu tidak pernah marah, walaupun dia tahu mereka bolos dari sekolah untuk mengacak-acak tokonya.
Ajeng terbahak ketika memorinya sampai pada peristiwa konyol ulang tahun Hadi. Waktu itu Ajeng sedang asyik makan bakso gerobak dan Virly tiba-tiba datang merebut mangkok bakso yang masih berisi setengahnya itu.
Ajeng kontan kaget. Tiba-tiba terdengar teriakan Hadi.
“Panas bangeeeeettt….gila lo, Ly…!!!!”, katanya pada Virly yang ternyata menyiramnya dengan kuah bakso Ajeng.
“Selamat Ulang Tahuuuun…”, Virly bernyanyi sambil tertawa dan berlari menghindari kejaran Hadi.
“Wooooiiiii…..bakso gue tuuuh…gantiin gaaaak….???!!!!”, teriak Ajeng sewot pada waktu itu. Tapi, akhirnya dia malah ikut mengguyur Hadi dengan teh botol. Sungguh perbuatan mubazir tapi mereka tertawa gembira. Masa-masa yang indah pada waktu itu.
Ajeng menghela nafas panjang. Lucky…bagaimana kabarnya…? Masihkah dia ganteng seperti dulu…? ataukah dia masih menyesal setelah peristiwa itu…? Peristiwa yang menyebabkan Ajeng seperti sekarang.
“Non…sudah sampai…”, kata Pak Yadi sambil membelokkan mobil memasuki lapangan parkir SMA. Ajeng tersenyum. Dari jendela mobil terlihat teman-teman lamanya, wajah-wajah mereka masih ceria seperti dulu, dan juga….ada Lucky. Ajeng menurunkan kaca jendela.
“Wooooiiiii….”, teriaknya. Teman-temannya menoleh. Ini dia makhluk yang mereka tunggu. Mendengar teriakan itu saja, mereka sudah tahu siapa yang datang. Ajeng, si cadas dari geng mereka. Mereka tersenyum dan tertawa. Tapi hanya Lucky yang bersikap biasa.
“Ajeeeng…turun lo…!!!”, teriak Winda, wajahnya gembira.
“Bentaaar…!!!”, teriak Ajeng. Pak Yadi memarkir mobil, lalu mengangguk pada Ajeng.
Teman-temannya melihat Ajeng turun dari mobilnya. Susah payah. Mereka serta-merta terdiam. Ajeng turun dengan sebelah kaki, sedangkan kakinya yang lain telah digantikan oleh kruk yang menyangga tubuh kurusnya.
Lucky yang melihat itu menyadari, sejak kecelakaan motor mereka sepuluh tahun yang lalu, Ajeng tidak pernah sembuh lagi.
 
Padang, 25 September 2013

Ujian Kalkulus

Nana termanyun, menatap soal-soal ujian di hadapannya dengan putus asa. Kenapa ujian Kalkulus selalu begini? Kenapa juga gue ada di jurusan ini, rutuknya dalam hati. Kalkulus baginya tidak pernah mudah, keseluruhan Teknik Kimia memang tidak pernah mudah. Lalu apa yang mudah? Bernafas, barangkali. Nana memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. Well Nana, masih ada satu jurus lagi, kan? Haha…tentu saja, nyontek! Apalagi?
Nana mulai celingak-celinguk. Di depannya ada Wina, yang pelitnya minta ampun dalam segala hal, baik itu dari segi ngasih contekan ataupun ngasih sumbangan buat tim basket atau tim manapun. Di belakang ada Edwin, sohib akrabnya yang ganteng minta ampun, tapi selain itu juga bego minta ampun. 
Ada yang istimewa perihal Edwin ini. Dia tidak menyadari dirinya seperti orang lain sadar akan diri mereka. Dia tidak menyadari kalo dia tuh ganteng abis dan juga tidak menyadari dirinya itu bego abis. Karena itu, tentu saja Edwin dengan percaya diri terus menulis jawaban yang diyakininya benar. 
Walaupun sudah berulangkali memperoleh nilai di bawah standar, Edwin tetap yakin, nilai jelek itu cuma gara-gara dosen pada sirik padanya. Entah sirik dalam hal apa, Edwin sendiri tidak mampu menjelaskan. Nyontek ke Edwin jelas percuma. Nana kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Waktu tinggal 20 menit lagi…”, suara pengawas menggelegar mengagetkan sekaligus menyadarkan Nana bahwa dia bahkan belum menulis namanya. Buru-buru dia menulis nama dan melirik ke sebelah kanannya. 
Ada Fadli yang tampang dan otaknya berbanding lurus. Fadli ganteng sekaligus pintar. Inilah dewa penolong yang mungkin bisa menyelamatkan Nana dari mengulang kuliah Kalkulus lagi tahun depan. Nana tahu Fadli tidak pernah pelit ngasih contekan. Prinsipnya, nyontek aja kalo bisa. Asal gak ketahuan, Fadli rela berbagi jawaban.
“Sstt…sstt…Fadli…”, bisiknya. Sepertinya Fadli sudah selesai dari tadi, soalnya dia sedang sibuk menggaruk-garuk kaki. Fadli menoleh. Nana mengacungkan dua jarinya.
“Jawaban nomer 2 dong….”, bisik Nana lagi. Fadli mengangguk lalu membuka dan menggeser sedikit lembar jawabannya ke arah Nana. 
Nana agak lega dan bersiap menulis. Tapi, ya ampun, tulisan apaan tuh? Kecil-kecil banget. Irit kertas ya? Tulisan Fadli kecil-kecil sekali hingga sulit dibaca. Sambil mengeluarkan senyum patennya, Fadli terus menyemangati Nana untuk berusaha membaca tulisannya yang sulit dibaca itu.
“Tinggal 10 menit lagi…”, suara itu bagaikan mengguyur Nana dengan seember air dingin. 
Putus asa, Nana menatap ke luar jendela di sebelah kirinya. Ada satu ide lagi terlintas di kepalanya. Karang saja jawabannya. Mengarang jawaban?? Ini ujian Kalkulus, coy, bukan Pancasila. Buka catatan juga percuma. Catatan ada di dalam tasnya yang sekarang ditumpuk di depan kelas sampai ujian beres. Kalaupun ada kesempatan membuka catatan, Nana juga tidak akan mampu mengerjakan karena dia tidak mengerti sama sekali cara mengerjakan soal-soal ini.
“Waktunya habis, silahkan dikumpulkan”. Ya sudahlah. Nana pasrah harus mengulang tahun depan dan menjadi veteran di jurusan ini. Jurusan yang dipilih Papa untuknya tanpa menyadari kalau kemampuan putri kesayangan beliau ini tidak mampu menjangkau keinginan beliau. Seandainya saja Mama masih hidup.
Seseorang menepuk bahunya. “Na, tungguin dong, duluan aja, gimana ujiannya? Gampang kan?”, tanya Edwin polos sambil menjajari langkahnya.
“Tau deh”, jawab Nana singkat sambil mengangkat bahu.
“Tau gimana??? Lo gak yakin bisa?”, tanya Edwin lagi. Ngotot, tidak memperhatikan bahwa Nana sama sekali tidak mau membahas ujian. 
Mereka berjalan menuju tempat parkiran kampus. Nana melangkah gontai, berpikir untuk mencoba bicara dengan Papa agar beliau mengijinkan Nana pindah jurusan. Sastra Jepang, barangkali.
“Gorengan…?”, tawar Edwin sambil menyodorkan kantong kertas berisi gorengan. Dia sendiri sedang asik mengunyah bala-bala.
“Gak deh, makasih…”, tolak Nana.
“Yang bener lo gak mau? Biasanya lo borong tuh semua gorengan. Lo kenapa sih??”. Ucapan Edwin yang tanpa filter itu memberikan indikasi kalau dia memang tidak ngeh dengan suasana hati Nana.
Nana membuka pintu Estillo kuning hadiah ulang tahun dari Papa itu dengan perasaan gundah. Gimana kalau Papa kecewa? Atau kena serangan jantung? Atau tidak mengakuinya lagi sebagai anak? Apa reaksi Papa kalau tahu Nana tidak menulis apa-apa di lembar jawaban ujian kalkulus selain namanya sendiri? Cepat atau lambat Papa pasti tahu tanpa Nana harus bicara, karena Papa yang memeriksa ujian itu dan sekarang lembar jawaban itu pasti sudah berada di tangan beliau.
“Na…..!!!!”, panggil Edwin yang mulai khawatir karena Nana mulai keluar dari tempat parkir tanpa menutup pintu mobilnya. Nana berhenti.
          
 “Makan es krim yuk…”, ajaknya pada Edwin yang segera dibalas dengan anggukan. 
Dan kedua mahasiswa semester satu fakultas teknologi industri jurusan teknik kimia itupun meluncur menuju Sasha Café langganan mereka sejak dulu. Tempat mereka nongkrong bila salah satu atau keduanya sedang mengalamai hari yang buruk. Dalam hal ini, Edwin pun mengerti.
***
          
 Beberapa pasang mata dari gerombolan cewek-cewek berseragam SMU di meja sudut menatap dengan tak jemu-jemu pada Edwin begitu mereka memasuki café dan duduk di tempat favorit mereka, dekat dengan dapur, hingga gampang kalau ingin menambah pesanan.
          
“Gagal deh gue…”, keluh Nana begitu menghenyakkan bokongnya di tempat duduk.
          
 “Masa sih?”, Edwin melotot tidak percaya, seperti biasa. Tangannya meraih daftar menu walau yang selalu dia pesan adalah menu yang itu-itu saja dari jaman purba.
          
“Gue gak bisa jawab sama sekali”, Nana mengangkat bahu.
          
Edwin baru akan angkat bicara lagi ketika Sasha, sang pemilik café muncul. Sasha memang sudah kenal akrab dengan dua cecunguk ini. Mereka sudah nongkrong di café ini sejak SMP, sejak Sasha masih jadi mahasiswi. Sekarang Sasha adalah ibu 3 orang anak dan 2 cecunguk ini masih saja nongkrong di sini.
          
“Pasti Banana Split…”, tuduhnya langsung. Nana nyengir lalu mengangguk.
          
“Tambah roti pisang keju…”, Edwin mengangkat tangan seolah akan menjawab pertanyaan dosen. Sasha tersenyum sambil berlalu ke dapur.
          
 “Masa sih Na?”, Edwin kembali pada pertanyaannya semula,”Cuma persamaan kuadrat doang, apa susahnya sih?”. Kata-kata Edwin tadi membuat Nana mendelik. Dasar sok tau! Rutuknya dalam hati.
          
“Emang lo bisa jawab?”, tanya Nana. Pertanyaan retoris karena Nana sudah tahu dengan pasti jawaban Edwin.
          
“Bisa dong. Apa susahnya sih?”, jawabnya lagi menyebalkan,”tinggal masukin rumus ABC, beres deh”, sambung Edwin yakin.
          
 “Gue gak yakin, selama ini kan nilai ujian lo selalu jeblok meskipun lo kira jawaban lo bener semua”, kata Nana tajam sambil cemberut, memonyongkan bibirnya. Sasha muncul lagi dengan 2 banana split dan roti pisang keju.
          
“Selamat menikmati”, katanya, “Udah deh Na, ujian gak usah dipikirin, ntar stress lho. Mending pindah jurusan aja”, usulnya. Nana menghembuskan nafas panjang.
          
“Maunya sih gitu”, keluhnya, “tapi bokap gue…”
          
“Tenang aja Na”, kata Edwin lagi agak bernada sok tau, “kan dosennya bokap lo, pasti nilai lo bagus”.
          
“Enak aja! Yang ada juga bokap gue bakal mencak-mencak”, cetus Nana gusar.
          
“Pasti bokap lo malu kan kalo nilai lo jelek. Pasti lo dikasih nilai bagus”, Edwin mengangguk-angguk yakin. Sasha buru-buru kabur ke dapur karena sepertinya aroma peperangan mulai tercium.
          
“Trus bokap gue dituduh KKN, gitu?”
          
“Kura-kura ninja?”
          
“Goblok!!”
          
Edwin masih saja mengangguk-angguk. Wajah bak pemain sinetron, tapi kecerdasan di bawah standar ditambah dengan kepercayaan diri yang tinggi, Edwin bagaikan makhluk langka dalam mitologi negara manapun.
          
“Bisa juga lo liat dulu diskriminannya. Lo tau diskriminan kan?”, Edwin sepertinya masih ingin menjelaskan.
          
“Gak!” jawab Nana ketus. Edwin makin bersemangat. Dengan selembar kertas lecek dari dalam tasnya, Edwin mulai menulis.
          
“Diskriminan itu rumusnya b2-4ac. Nah, kalo diskriminan lo lebih besar dari nol, berarti persamaannya punya 2 akar yang berbeda”, Edwin berhenti sebentar untuk memakan banana split lalu melanjutkan tanpa peduli dengan perasaan Nana.
”Kalo diskriminan lo sama dengan nol, maka persamaan tersebut punya 2 akar yang sama. Kalo lebih kecil dari nol, maka persamaan lo punya akar bilangan kompleks, ngerti Na?”
          
“Gue gak yakin penjelasan lo bener!” Nana masih tidak yakin.
          
“Ya ampun, Na. Itu kan udah bolak balik diterangin bokap lo.”
          
“Yang bener?”
          
“Tanya aja bokap lo kalo gak percaya”
          
“Gue gak yakin cocok di jurusan ini”
         
“Gue yakin kita pasti berhasil lulus dengan nilai bagus”
          
Kepercayaan diri yang berlebihan dari Edwin entah kenapa memberikan sedikit hiburan. Walaupun entah apa yang akan terjadi di rumah nanti. Nana dengan pasrah mengunyah Banana Splitnya. Setidaknya walau hari ini buruk, rasa Banana Split ini tidak berubah.

 

Padang, pada suatu ketika ^_^

 

Gawat Dan Darurat

Citra pontang-panting di Instalasi Gawat Darurat malam ini. Barangkali tugas jaga tersibuk sepanjang sejarah hidupnya adalah saat ini. Beberapa hari menjelang lebaran dan banyak sekali pasien korban kecelakaan memenuhi IGD. Mereka semua berteriak, ada yang istighfar, ada yang takbir tapi ada juga yang menyumpah-nyumpah dengan kata-kata antah berantah.
Dan pasien berpenampilan punk ini salah satunya. Hidung, telinga bahkan lidahnya dipenuhi tindikan.  Rambutnya berpotongan mohawk, pakaiannya jangan dikata, penuh dengan emblem-emblem grup punk, mulai dari Greenday hingga Superman Is Dead. Akan tetapi…alamaaak…baru melihat jarum jahit saja dia sudah berteriak ketakutan.
“Aduuuh Dokteeer, jangan dijahiit….!!”, teriaknya norak.
Citra mendelik.
“Siapa suruh juga ngebut di jalanan..? Untung cuma bocor kepala”, jawab Citra galak sambil mempersiapkan jarum jahit dan benang kulit.
“Yaaaah…Dok, ngebut ya di jalanan, masa di sawah…ih aneh deh Dokter”, jawab Si Anak Punk dengan gaya super menyebalkan.
“Baiklaaah, berani ngebut, berani tanggung resiko kan….Pedrosa…”, sindir Citra sambil mulai menjahit kepala Si Anak Punk. Di luar dugaan, anak itu mulai menjerit.
“Gak mauuu….sakit Doook…”, teriaknya seraya berlari menjauhi Citra. Citra mengeluh. IGD sedang ramai, pasien kunyuk ini bertingkah pula.
“Ya udah, kalo gak mau, gak pa-pa..”, kata Citra, “biar kepalamu itu bocor terus, sampe kehabisan darah..”, ancamnya lagi.
“Eh, kehabisan darah..? Serius Dok…???”, Si Anak Punk mulai ketakutan.
“Ya iyalah, lihat aja tuh kepala, gak sakit apa..? Lagian, bukannya taraweh, malah balapan, ancur kan…”, jawab Citra tanpa basa-basi.
 
Si Anak Punk kembali duduk di hadapan Citra.
“Bukan balapan, Dok. Kerjaan, nganterin gambar pesanan orang…”, jawab Si Anak Punk mulai tenang.
“Oo…kamu pelukis aliran punk…”, kata Citra sambil mulai menjahit. Si Anak Punk sedikit meringis. Ternyata tidak sesakit yang dia bayangkan.
“Bukan, Dok, gambar desain rumah, saya arsitek..”, jawab Si Anak Punk lagi, membuat Citra berhenti sejenak menusukkan jarum jahitnya.
“Arsitek..? Arsitek punk…?”, tanya Citra geli, sedikit tidak percaya.
“Yaa tuh kan, selaluuuu aja orang-orang pada gak percaya kalo saya arsitek..ckckck….ada yang salah dengan saya…?”
“Penampilannya salah..”
“Lha…?? Emang arsitek harus selalu klimis ya, Dok..?”, tanyanya lugu.
“Gak juga sih..”,jawab Citra sambil kembali menjahit.
“Robert….”, katanya memperkenalkan diri.
“Gak nanya..”, jawab Citra judes.
 
“Ntar juga pasti ingin tahu…”, kata Robert lagi.
“Gak tuh..”, jawab Citra sambil menusukkan jahitan terakhirnya sedikit kuat dengan sengaja. Robert meringis lagi.
“Aw…aw…Dokter Citra, biasa aja dong…”. Dia pasti tahu nama Citra dari name tag di jas dokternya.
“Sudah..”, kata Citra akhirnya, “jangan digaruk ya, saya tuliskan resepnya sebentar”. Citra mengambil note resepnya dan mulai menulis.
“Buseeet, tulisannya jelek amat Dok…”, suara cempreng Robert benar-benar mengganggu telinganya.
“Udah, pergi sana…saya masih banyak pasien”, usir Citra.
“Yee…saya kan pasien juga Dok..”, sungut Robert makin mengganggu.
“Kamu…udah selesai, sekarang pergi ke apotek, sana..”
“Ok…ok..bye Dokter Citra….see you soon ya…”, Robert mengedipkan mata. Dia berlalu sambil menenteng tabung gambarnya yang mirip bazooka itu. Tak lama kemudian, dia berlalu dengan motor gedenya. Mungkin dia memang arsitek, siapa yang tahu. Penampilan seseorang kan bukan ukuran.
Citra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Firasatnya mengatakan akan bertemu lagi dengan Robert. Pasien memang bermacam ragam, semua unik. Karena merekalah Citra di sini, siap siaga, untuk mereka yang selalu gawat dan darurat.
Padang, 23 Juli 2013

Half Moon

Dia terjaga dengan kesadaran penuh, mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengingat hal yang membuatnya terjaga. Suara jangkrik? Suara motor yang masih lalu lalang? Suara tikus di atap rumah? Atau suara hatinya sendiri? Entahlah. Tapi semua suara-suara tadi memang ada dan selalu menjadi simfoni kesehariannya.

Kesadarannya mengingatkan pada sesuatu. Atau seseorang, barangkali. Sepasang mata sipit dengan pandangan terpana dan tak percaya yang melepasnya pergi di Bandara Kansai. Sudah berapa tahun berlalu? Apakah mata itu masih sama? Apakah wajah itu masih sama? Ah,dia sudah pasti bertambah tua, walau mereka sudah lama tidak berkirim kabar.

Dia adalah seorang kakak, walau kadang sikapnya lebih mirip pacar yang melindunginya dengan cara aneh yang berlebihan. Dia juga bagaikan orang tua yang kadang menasehati dengan kata-kata bijak yang diusahakannya untuk masuk akal. Dia juga seorang guru yang mengajarkan banyak hal dari kesalahan-kesalahan bodoh yang dia perbuat. Tapi, terkadang dia bisa menjadi seorang bocah kecil yang sangat keras kepala, tukang ngambek luar biasa.

Tapi, kenapa hanya dia yang sanggup bertahan menghadapi orang itu? Orang yang mengatakan “aku akan kesepian kalau kamu menikah”. Orang yang banyak sekali teka-teki dan tanpa diduga memberinya hadiah jurnal panjang lebar di hari perpisahan. Dia mendapatkan sebuah catatan panjang dari orang itu. Catatan yang menceritakan segala yang dirasakannya, diinterpretasikannya dengan nyata dalam Kanji, Hiragana dan Katakana.

Aku kehilangan saudara perempuanku hari ini. Dia, dengan keceriaan dan kecerdasannya, membuatku menyadari kalau aku melewati rumahnya esok hari, dia tidak akan lagi ada di sana. Aku sungguh berharap dia menjadi Presiden dunia.

Catatan yang sungguh lucu, tapi justru mengalirkan air mata di ruang tunggu Gate 13 Bandara Kansai. Ketika sepasang mata itu tidak lagi melihatnya. Ketika wajah itu tidak lagi bisa diingatnya. Bagaimanapun, mereka tetaplah saudara.

Kakakku yang baik, aku melihat bulan separoh malam ini. Apakah ini saatnya kita berbincang-bincang lagi? Aku tahu kamu tidak pernah lupa, namun sulitnya hidup membuatmu tidak sempat. Itu saja. Walaupun waktu tidak akan berhenti, aku hanya meminta satu hal darimu. Janganlah pernah menjadi tua, itu tidak cocok untukmu. Bagaimanapun bagiku, kamu tetaplah kakakku.
 
Padang, 9 November 2013