Diksi

Betapa sebuah perjalanan panjang hingga mencapai detik ini. Perjalanan yang mungkin bisa berakhir sebentar lagi, atau masih akan berlanjut. Kita tidak akan pernah tahu kapan perjalanan ini berakhir, apa dan siapa yang menunggu kita di ujung jalan yang kita lalui. Kita hanya menjalani, memilih lalu menjalani lagi.
Mengalami banyak hal adalah cara Tuhan memberikan pelajaran dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tuhan merangkul kita dengan berbagai cara, kebahagian, ujian, jatuh bangun, menangis, tersenyum, gundah, tertawa….betapa kadang air mata jatuh sebegitu gampangnya seiring dengan teririsnya hati. 
Sedikit demi sedikit, begitulah cara Tuhan berbicara, merangkul umat-Nya. Sang Pemilik Jiwa yang menampung seluruh cinta di dunia.
Kita berjalan dalam irama. Kadang monoton, kadang politon. Kita mengejar hal yang menurut kita adalah sebuah impian, hingga kadang kita lupa untuk berhenti sejenak, menari dengan hidup yang lucu ini. Mensyukuri apa yang kita punya, melepaskan apa yang bukan milik kita. Sungguh melegakan saat kita menyadarinya, tapi betapa menyesakkan ketika kita ngotot ingin memiliki semua. Seandainya kita menyadari, tak satupun di dunia ini yang benar-benar kita miliki.
Kita juga tahu, sebaik-baik kita berusaha, tetap Dialah Sang Penentu pada akhirnya. Kadang ada riak penyesalan yang timbul karena lupa menangkap momentum-momentum kecil yang ternyata jadi penyesalan tak berujung. 
Karena itu, menarilah dengan indah, lihatlah sekeliling, tangkaplah momentum-momentum, tak perlu terburu-buru, kita belum tentu masih akan menikmatinya esok hari.
Apapun yang diberikan semesta pada kita, percayalah Tuhan memberikannya dengan cinta. Cinta yang teramat besar, cinta yang selalu ada di sana, cinta yang siap menangkap dan merangkul kita saat kita terjatuh dan menangis. Cinta yang tidak pernah mengecewakan.
Berharaplah hanya pada-Nya. Dia yang mengerti kita.
 
Padang, 17 Juni 2013
Teruntuk Anita dan sahabat-sahabatnya….

Penghormatan Terakhir

Layar tertutup sudah. Puluhan karangan bunga di depan rumah menunjukkan kiprah dan rekam jejakmu yang tidak main-main di dunia ini. Ratusan pelayat datang silih berganti, mereka semua menangis, mereka semua ikut men-shalatkan, mereka semua ikut mengantar ke peristirahatanmu yang terakhir, menunjukkan betapa semasa hidup dirimu begitu dicintai.
Aku mengenangmu sebagai sosok yang tegas dan disiplin, tapi juga penuh kasih sayang. Sosok yang siap memarahiku kapan saja, tapi juga siap menemaniku kapan saja. Di antara kesibukanmu dalam pengabdian pada negara, dirimu tidak pernah lupa bahwa seorang ibu tetaplah seorang ibu, yang tidak pernah absen berdoa untuk anak-anaknya. Dengan suara rendah tertahan di setiap malam sepanjang hidupmu, doamu selalu melindungi kami.
Ibu, adalah sosok yang tak terbayangkan. Saat dirimu mampu menggenggam segalanya, memeluk kami, anak-anakmu, di pihak lain juga sangat membanggakan. Amanah memegang jabatan, membuatmu begitu dicintai, sekaligus juga banyak yang kecewa ketika dirimu dengan tegas menolak apa-apa yang tidak sesuai nurani.
Kritikmu kadang mengecewakan, tapi selalu membanggakanku di hadapan orang lain. Ibu, membuktikan tiada kekuatan dan pertolongan selain dari ALLAH SWT.  Membimbingku saat membutuhkan, menemani perjalananku menjadi seorang perempuan dan juga seorang ibu.  Itulah ibuku.
Tiada kata yang mampu melukiskanmu. Perempuan terhebat yang aku tahu. Ibu meninggalkanku dengan segala yang lebih dari yang aku butuhkan. Bahwa tidak ada cara untuk menjadi lebih kuat selain jadilah lebih kuat.
Dengan penghormatan terakhir, aku memelukmu, membersihkan tubuhmu, perempuan yang telah menghadirkanku ke dunia. Terima kasih untuk setiap kesempatan indah yang Ibu berikan, kesempatanku melihat dunia dan meninggalkan jejakku di mana-mana.
Aku mencintaimu, Ibu dan akan selalu begitu. Maafkan aku belum mampu menjadi sepertimu.
Air Haji, 28 Juli 2013
In memoriam of my beloved mother : Dra. Hj. Asnidar Agus, M. Pd
16 Februari 1951 – 25 Juli 2013
Dari Ayah, Anita dan Ade…We’re missing you, always

Apa Kabar, Gaza..?

Dear Gaza,
Apa kabar…? Kudengar ratusan orang menjadi syahid lagi hari ini. Aku tidak pernah bisa membayangkan apa yang kamu alami. Hidupku terlalu tentram di sini. Aku sibuk meratapi masalah demi masalah yang sekarang kusadari, tidaklah segenting masalahmu. 
Anak-anakmu, berjuang antara hidup dan mati setiap hari. Kehilangan dan kepedihan menjadi hal yang biasa bagimu. Gaza, bagaimana kamu bisa menanggung semua ini…? Katakan padaku, adakah dirimu belajar cara mengobati luka..? Sementara luka di atas luka terjadi setiap menitnya. 
Bagaimana bisa dirimu begitu tabah…? Dan aku….hanya bisa menitikkan air mata di depan televisi, setiap kali melihatmu, dan begitu aku melangkah ke luar rumah, aku dengan mudah terlupa padamu. Gaza, maafkan aku.
Hey, Gaza…di langitku ada kembang api malam ini, indah sekali. Tapi, aku tahu, langit yang berkilauan di tempatmu bukanlah pertanda baik. Kilau langitmu selalu diikuti suara menggelegar dan disusul bau sangit hangus daging manusia. 
Hatimupun kembali terkoyak. Bayi-bayi mungil lucu dalam pangkuan, tak mengerti kenapa mereka tidak lagi memiliki orang tua. Dan sebelum sempat tanya mereka terjawab, merekapun diambil paksa, dari hidup ini, dari masa depan yang seharusnya cerah. 
Mereka….anak-anak Gaza, seharusnya bisa bercita-cita tinggi, selayaknya anak-anak pada umumnya. Tapi, aku tahu tidak ada lagi cita-cita yang lebih tinggi selain menjadi bagian dari para syuhada. Sekali lagi, aku merasa perih, Gaza….
Mereka manusia, bukan seonggok daging tanpa jiwa. Tapi, mereka menyerahkan segalanya demi satu kata. Syahid.
Gaza, aku malu padamu. Sungguh aku malu. Dirimu bahkan tidak tahu apakah anak-anakmu masih bisa melihat hari esok..? Apakah seorang ayah masih akan kembali pada keluarganya…? Dunia begitu ribut di sekitarmu, tapi bukan suara musik. Gempuran demi gempuran harus kau hadapi, dan tetap bertahan. Gaza, bagaimakah rasanya terusir dari negeri sendiri…? Tak bisa kubayangkan rasanya, 
Gaza…
Aku tahu, takkan bisa mengobati apalagi menyembuhkan lukamu. Tapi kumohon, Gaza, izinkan aku merasa sedikit berarti…sedikit saja….
Padang, 4 Agustus 2013
Donasi solidaritas Palestina
BCA cab Kwitang: No. Rek. 686.0153678 a.n Medical Emergency Rescue Commitee
BSM cab. Kramat: No. Rek. 009.0121.773  a.n Medical Emergency Rescue Commitee

Me And The Boots

Ketika kamu menemukan sesuatu yang telah lama kamu idam-idamkan, tapi ternyata tidak diciptakan untukmu, akankah kamu memaksa untuk memilikinya…?
Hujan deras mengguyur Padang hampir tiap sore akhir-akhir ini. Tapi, hari ini mau tidak mau saya terpaksa berlari di bawah hujan demi sepasang high heels bling-bling untuk keperluan wisuda besok. Kenapa bisa…?
Ya…berhubung sudah mencari ke mana-mana dan tidak juga menemukan high heels yang pas di hati (lha….bukan di kaki ya…? *plakk, abaikan), saya hampir saja menyerah. 
Tapi, ketika akan keluar dari parkiran basement Plaza Andalas, saya tiba-tiba teringat dengan sebuah tempat yang mungkin bisa menjawab kebutuhan (atau keinginan..?) saya.
Tempatnya persis di seberang Plaza Andalas, tempat khusus menjual bags and shoes. Akhirnya, mobil tetap terparkir di basement dan saya berlari keluar di bawah hujan, demi menemukan yang saya cari.
Dan firasat umumnya tidak pernah salah, apalagi firasat perempuan, yang kadang sering dicemooh diabaikan oleh kaum adam, yang katanya terlalu mementingkan perasaan lah, kurang pake logika lah…kayak laki-laki dong, mikir dengan 9 pemikiran dan satu perasaan saja, tanpa mereka menyadari bahwa tanpa perempuan mereka bakal kelabakan. Lho…kenapa jadi curhat…? *sekali lagi, abaikan.
Dan benar saja, koleksi high heels di sana lumayan “nyelekit”…hehehe…langsung saja saya pilih yang saya mau, cobain trus diorder. Nah, pas lagi nungguin packingnya, tiba-tiba…ow…ow…apa itu yang lucu-lucu di etalase sana…? Ckckck benar saja, itu adalah boots yang sudah lama sekali saya idam-idamkan. Wuahaha…sekali menyelam minum bir (mabok dong…? *plakk !!..) pikir saya. Langsung saja saya meluncur ke sana. Hmm…saya butuh satu nomor lagi di atas ini. Dengan percaya diri saya bertanya.
“Uni, nomor 39 ada gak…?”, tanya saya dengan bersemangat sambil mengacungkan boots itu di depan hidung si Uni.
“Waduh Uni…maaf, itu nomor yang paling tinggi…”, jawabnya sambil tersenyum.
“Yaaa….”, saya kecewa berat…rat..rat….Hey…sejak kapan sepasang boots membuat saya jadi fashionista dadakan…?
Daan begitulaah…saya tetap nekat mencoba boots itu. Tolol ya..? Bangeeet….:P
Ya, pasti sakitlaah, maksain yang bukan ukuran kita untuk fit dengan sendirinya. Mana mungkin itu..? Mau kekecilan, mau kegedean, tetap saja tidak nyaman dipakai. Saya butuh yang pas.
Jadi, dengan berat hati, saya kembalikan lagi boots itu ke peraduannya. Akan ada pemilikmu yang lebih tepat, Nak…(yaeeelaah…it’s just a damn shoes..)
Dan kalau ingat ketololan saya sore itu, saya tiba-tiba merasa lucu sendiri. Ketika kita mengatakan dengan gampangnya pada orang lain “relakanlah”, tapi begitu kita mengalami sendiri, rasanya kok ya beraaaat banget getooh *makanmeja
Tapi, jika sesuatu itu, apapun itu, memang tidak pas untuk kita hingga tidak akan nyaman untuk dikenakan, betapapun indah terlihat dan kita sangat ingin memilikinya….haruskah kita memaksa…?
Padang, 9 September 2013
Dini hari dengan kopi

Dear Mirror Image

Hey you…my mirror image…
Apa kabarmu..? Aku harap baik-baik saja. Banyak sekali yang ingin kusampaikan padamu. Banyak kisah yang ingin kututurkan. Tentang kita, aku dan dirimu, tentang proses menjadi dewasa, tentang menjadi perempuan dan juga…tentang cinta.
Tidak mudah memang, Dear. Aku sendiri bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Proses pendewasaan yang sampai sekarangpun aku tidak bisa mendefinisikannya. Tapi, yang aku tahu…tidak mudah menjadi dewasa, juga tidak mudah menjadi perempuan. Dan kita mengalami keduanya….menjadi perempuan dewasa. Apa itu artinya…? Entahlah, Dear. Aku juga tidak tahu.
Hey Girl…tapi yang jelas, kita menikmatinya, bukan..? Di antara kebingungan, canda, tawa, air mata, kebahagiaan, pencapaian, kehilangan, mendapatkan dan juga cinta…kita menikmatinya dan bisa berbagi rahasia. Ada orang yang bilang “secrets make a woman a woman”. Benar adanya begitukah..? Jangan tanya sedalam apa hati perempuan, karena perempuan itu sendiri juga tidak mengerti.
Kita mengalami jatuh bangun. Tapi, kita masih bisa menemukan tawa di antara air mata. Mana lukamu..? Tunjukkan padaku…biar kuobati sebisaku, walau aku tidak bisa menjamin kesembuhanmu.
Girl, we are big girls now. Tidak lagi bermimpi jadi Barbie dan dijemput pangeran berkuda putih. Kita dihadapkan pada pilihan-pilihan, kita dipaksa memilih dan memutuskan. Salah atau benar, kita tetap memutuskan. 
Dan tiba-tiba saja…kita berakhir di tengah-tengah realita. Berusaha untuk tetap memiliki eksistensi diri di saat kita dituntut untuk bisa menjadi segalanya, mulai dari perempuan anggun, hingga menjadi cleaning service. Kita juga dituntut untuk menjadi dokter, guru, psikolog, konsultan keuangan, koki, tukang binatu, desainer interior dan semuanya.
Hebat ya…? Anehnya, kadang kita tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya kita inginkan. Siapakah kita yang sebenarnya. Apalagi, saat kita mengetahui, masih ada satu kepingan terpenting dari hati kita yang tertinggal di luar sana. Tapi, setidaknya kita bisa menjelaskan kenapa kita tidak lagi utuh.
Dear mirror image, aku menyayangimu, sungguh. Aku dan kamu….dekat dan direkatkan….karena dan oleh satu kata. Cinta.
 
Padang,
9 Oktober 2013

Seriously Unserious

Nah yaaa..tidak tahu juga harus mulai dari mana, jadi saya memutuskan postingan ini akan menjadi postingan ngalor ngidul saja. Berhubung banyak yang bilang blog saya isinya kebanyakan cerita tragis dan air mata lebay bombay, saya memutuskan pada akhirnya, setelah perdebatan yang cukup panjang dengan entah siapa, saya akan berusaha untuk sedikit bersikap tidak jelas. Jelas kan? *apanyaaa?

Sebenernya bukannya saya sok serius, sok sendu, sok galau, sok tau cinta, sok tau patah hati. Tapi memang dasarnya saya ini sok tau, jadi ya begitu. Setiap hal yang lahir dari otak saya, ujung-ujungnya berisi semua rasa sok saya itu *ngomong opo?

Baiklah, abaikan. Otak saya kadang tidak bisa serius saat dibutuhkan. Justru aneh, kebalikannya terjadi saat saya gak butuh serius. Sungguh, kadang saya sudah berusaha untuk serius sampe amit-amit, tapi tetap saja saya tidak mampu.

Keanehan demi keanehan terus berlanjut. Dari satu karya, menjadi tiga karya, yang….entahlah. Apakah itu terlahir dari sebuah keseriusan atau tidak? Saya juga tidak punya jawaban.

Pembaca juga cenderung menganggap bahwa yang tertulis adalah yang sesungguhnya terjadi….ohohohoho….kenapa berpikiran begitu? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Karena yang saya tulis merubah pembaca menjadi yang saya tulis? Atau pembaca selalu menganggap yang saya tulis adalah saya? Yippie…yippie…yeay…kalau begitu, setidaknya saya berhasil membuat pembaca bertanya, setidaknya saya bisa menyentuh juga sedikit banyaknya.

Tuh kan….serius lagi deh. Percayalah, serius atau bercanda itu beda tipis. Tapi saya memang selalu memaksudkan yang saya tulis, saya punya sasaran dan tujuan. Menulis bagi saya adalah proses serius, terlepas dari apakah yang saya tulis adalah hal serius atau bukan.

Jadi kapan saatnya saya benar-benar serius? Saya juga tidak mampu mendeteksinya. Jadi nikmati sajalah dalam ketidaktahuan.

Jadi buat apa artikel ini ditulis? Saya gak tau, anggap saja saya kesurupan, begitu lebih baik untuk menggantikan jawaban yang panjang. Kesurupan….hahahaha….iyaaa…..
Nikmati saja walau tidak suka. 

Percayalah, saya sedang tidak serius.
 
Padang, 1 Mei 2014