Ujian Kalkulus

Nana termanyun, menatap soal-soal ujian di hadapannya dengan putus asa. Kenapa ujian Kalkulus selalu begini? Kenapa juga gue ada di jurusan ini, rutuknya dalam hati. Kalkulus baginya tidak pernah mudah, keseluruhan Teknik Kimia memang tidak pernah mudah. Lalu apa yang mudah? Bernafas, barangkali. Nana memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. Well Nana, masih ada satu jurus lagi, kan? Haha…tentu saja, nyontek! Apalagi?
Nana mulai celingak-celinguk. Di depannya ada Wina, yang pelitnya minta ampun dalam segala hal, baik itu dari segi ngasih contekan ataupun ngasih sumbangan buat tim basket atau tim manapun. Di belakang ada Edwin, sohib akrabnya yang ganteng minta ampun, tapi selain itu juga bego minta ampun. 
Ada yang istimewa perihal Edwin ini. Dia tidak menyadari dirinya seperti orang lain sadar akan diri mereka. Dia tidak menyadari kalo dia tuh ganteng abis dan juga tidak menyadari dirinya itu bego abis. Karena itu, tentu saja Edwin dengan percaya diri terus menulis jawaban yang diyakininya benar. 
Walaupun sudah berulangkali memperoleh nilai di bawah standar, Edwin tetap yakin, nilai jelek itu cuma gara-gara dosen pada sirik padanya. Entah sirik dalam hal apa, Edwin sendiri tidak mampu menjelaskan. Nyontek ke Edwin jelas percuma. Nana kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Waktu tinggal 20 menit lagi…”, suara pengawas menggelegar mengagetkan sekaligus menyadarkan Nana bahwa dia bahkan belum menulis namanya. Buru-buru dia menulis nama dan melirik ke sebelah kanannya. 
Ada Fadli yang tampang dan otaknya berbanding lurus. Fadli ganteng sekaligus pintar. Inilah dewa penolong yang mungkin bisa menyelamatkan Nana dari mengulang kuliah Kalkulus lagi tahun depan. Nana tahu Fadli tidak pernah pelit ngasih contekan. Prinsipnya, nyontek aja kalo bisa. Asal gak ketahuan, Fadli rela berbagi jawaban.
“Sstt…sstt…Fadli…”, bisiknya. Sepertinya Fadli sudah selesai dari tadi, soalnya dia sedang sibuk menggaruk-garuk kaki. Fadli menoleh. Nana mengacungkan dua jarinya.
“Jawaban nomer 2 dong….”, bisik Nana lagi. Fadli mengangguk lalu membuka dan menggeser sedikit lembar jawabannya ke arah Nana. 
Nana agak lega dan bersiap menulis. Tapi, ya ampun, tulisan apaan tuh? Kecil-kecil banget. Irit kertas ya? Tulisan Fadli kecil-kecil sekali hingga sulit dibaca. Sambil mengeluarkan senyum patennya, Fadli terus menyemangati Nana untuk berusaha membaca tulisannya yang sulit dibaca itu.
“Tinggal 10 menit lagi…”, suara itu bagaikan mengguyur Nana dengan seember air dingin. 
Putus asa, Nana menatap ke luar jendela di sebelah kirinya. Ada satu ide lagi terlintas di kepalanya. Karang saja jawabannya. Mengarang jawaban?? Ini ujian Kalkulus, coy, bukan Pancasila. Buka catatan juga percuma. Catatan ada di dalam tasnya yang sekarang ditumpuk di depan kelas sampai ujian beres. Kalaupun ada kesempatan membuka catatan, Nana juga tidak akan mampu mengerjakan karena dia tidak mengerti sama sekali cara mengerjakan soal-soal ini.
“Waktunya habis, silahkan dikumpulkan”. Ya sudahlah. Nana pasrah harus mengulang tahun depan dan menjadi veteran di jurusan ini. Jurusan yang dipilih Papa untuknya tanpa menyadari kalau kemampuan putri kesayangan beliau ini tidak mampu menjangkau keinginan beliau. Seandainya saja Mama masih hidup.
Seseorang menepuk bahunya. “Na, tungguin dong, duluan aja, gimana ujiannya? Gampang kan?”, tanya Edwin polos sambil menjajari langkahnya.
“Tau deh”, jawab Nana singkat sambil mengangkat bahu.
“Tau gimana??? Lo gak yakin bisa?”, tanya Edwin lagi. Ngotot, tidak memperhatikan bahwa Nana sama sekali tidak mau membahas ujian. 
Mereka berjalan menuju tempat parkiran kampus. Nana melangkah gontai, berpikir untuk mencoba bicara dengan Papa agar beliau mengijinkan Nana pindah jurusan. Sastra Jepang, barangkali.
“Gorengan…?”, tawar Edwin sambil menyodorkan kantong kertas berisi gorengan. Dia sendiri sedang asik mengunyah bala-bala.
“Gak deh, makasih…”, tolak Nana.
“Yang bener lo gak mau? Biasanya lo borong tuh semua gorengan. Lo kenapa sih??”. Ucapan Edwin yang tanpa filter itu memberikan indikasi kalau dia memang tidak ngeh dengan suasana hati Nana.
Nana membuka pintu Estillo kuning hadiah ulang tahun dari Papa itu dengan perasaan gundah. Gimana kalau Papa kecewa? Atau kena serangan jantung? Atau tidak mengakuinya lagi sebagai anak? Apa reaksi Papa kalau tahu Nana tidak menulis apa-apa di lembar jawaban ujian kalkulus selain namanya sendiri? Cepat atau lambat Papa pasti tahu tanpa Nana harus bicara, karena Papa yang memeriksa ujian itu dan sekarang lembar jawaban itu pasti sudah berada di tangan beliau.
“Na…..!!!!”, panggil Edwin yang mulai khawatir karena Nana mulai keluar dari tempat parkir tanpa menutup pintu mobilnya. Nana berhenti.
          
 “Makan es krim yuk…”, ajaknya pada Edwin yang segera dibalas dengan anggukan. 
Dan kedua mahasiswa semester satu fakultas teknologi industri jurusan teknik kimia itupun meluncur menuju Sasha Café langganan mereka sejak dulu. Tempat mereka nongkrong bila salah satu atau keduanya sedang mengalamai hari yang buruk. Dalam hal ini, Edwin pun mengerti.
***
          
 Beberapa pasang mata dari gerombolan cewek-cewek berseragam SMU di meja sudut menatap dengan tak jemu-jemu pada Edwin begitu mereka memasuki café dan duduk di tempat favorit mereka, dekat dengan dapur, hingga gampang kalau ingin menambah pesanan.
          
“Gagal deh gue…”, keluh Nana begitu menghenyakkan bokongnya di tempat duduk.
          
 “Masa sih?”, Edwin melotot tidak percaya, seperti biasa. Tangannya meraih daftar menu walau yang selalu dia pesan adalah menu yang itu-itu saja dari jaman purba.
          
“Gue gak bisa jawab sama sekali”, Nana mengangkat bahu.
          
Edwin baru akan angkat bicara lagi ketika Sasha, sang pemilik café muncul. Sasha memang sudah kenal akrab dengan dua cecunguk ini. Mereka sudah nongkrong di café ini sejak SMP, sejak Sasha masih jadi mahasiswi. Sekarang Sasha adalah ibu 3 orang anak dan 2 cecunguk ini masih saja nongkrong di sini.
          
“Pasti Banana Split…”, tuduhnya langsung. Nana nyengir lalu mengangguk.
          
“Tambah roti pisang keju…”, Edwin mengangkat tangan seolah akan menjawab pertanyaan dosen. Sasha tersenyum sambil berlalu ke dapur.
          
 “Masa sih Na?”, Edwin kembali pada pertanyaannya semula,”Cuma persamaan kuadrat doang, apa susahnya sih?”. Kata-kata Edwin tadi membuat Nana mendelik. Dasar sok tau! Rutuknya dalam hati.
          
“Emang lo bisa jawab?”, tanya Nana. Pertanyaan retoris karena Nana sudah tahu dengan pasti jawaban Edwin.
          
“Bisa dong. Apa susahnya sih?”, jawabnya lagi menyebalkan,”tinggal masukin rumus ABC, beres deh”, sambung Edwin yakin.
          
 “Gue gak yakin, selama ini kan nilai ujian lo selalu jeblok meskipun lo kira jawaban lo bener semua”, kata Nana tajam sambil cemberut, memonyongkan bibirnya. Sasha muncul lagi dengan 2 banana split dan roti pisang keju.
          
“Selamat menikmati”, katanya, “Udah deh Na, ujian gak usah dipikirin, ntar stress lho. Mending pindah jurusan aja”, usulnya. Nana menghembuskan nafas panjang.
          
“Maunya sih gitu”, keluhnya, “tapi bokap gue…”
          
“Tenang aja Na”, kata Edwin lagi agak bernada sok tau, “kan dosennya bokap lo, pasti nilai lo bagus”.
          
“Enak aja! Yang ada juga bokap gue bakal mencak-mencak”, cetus Nana gusar.
          
“Pasti bokap lo malu kan kalo nilai lo jelek. Pasti lo dikasih nilai bagus”, Edwin mengangguk-angguk yakin. Sasha buru-buru kabur ke dapur karena sepertinya aroma peperangan mulai tercium.
          
“Trus bokap gue dituduh KKN, gitu?”
          
“Kura-kura ninja?”
          
“Goblok!!”
          
Edwin masih saja mengangguk-angguk. Wajah bak pemain sinetron, tapi kecerdasan di bawah standar ditambah dengan kepercayaan diri yang tinggi, Edwin bagaikan makhluk langka dalam mitologi negara manapun.
          
“Bisa juga lo liat dulu diskriminannya. Lo tau diskriminan kan?”, Edwin sepertinya masih ingin menjelaskan.
          
“Gak!” jawab Nana ketus. Edwin makin bersemangat. Dengan selembar kertas lecek dari dalam tasnya, Edwin mulai menulis.
          
“Diskriminan itu rumusnya b2-4ac. Nah, kalo diskriminan lo lebih besar dari nol, berarti persamaannya punya 2 akar yang berbeda”, Edwin berhenti sebentar untuk memakan banana split lalu melanjutkan tanpa peduli dengan perasaan Nana.
”Kalo diskriminan lo sama dengan nol, maka persamaan tersebut punya 2 akar yang sama. Kalo lebih kecil dari nol, maka persamaan lo punya akar bilangan kompleks, ngerti Na?”
          
“Gue gak yakin penjelasan lo bener!” Nana masih tidak yakin.
          
“Ya ampun, Na. Itu kan udah bolak balik diterangin bokap lo.”
          
“Yang bener?”
          
“Tanya aja bokap lo kalo gak percaya”
          
“Gue gak yakin cocok di jurusan ini”
         
“Gue yakin kita pasti berhasil lulus dengan nilai bagus”
          
Kepercayaan diri yang berlebihan dari Edwin entah kenapa memberikan sedikit hiburan. Walaupun entah apa yang akan terjadi di rumah nanti. Nana dengan pasrah mengunyah Banana Splitnya. Setidaknya walau hari ini buruk, rasa Banana Split ini tidak berubah.

 

Padang, pada suatu ketika ^_^

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s