The Fortune Teller

Bhiksu itu masih muda dan ganteng, menurutku. Aku tidak tahu namanya. Tapi yang jelas dia menawarkan untuk meramal garis tanganku.
Sore itu, aku dan Tante Akemi baru saja selesai berbelanja di Takamatsu, Ibukota Prefektur Kagawa, tempat aku menghabiskan masa 3 tahun homestay bersama keluarga Fujiwara.
Kami sedang melewati toko buku ketika aku lihat Bhiksu muda itu, dengan caping di kepalanya, memegang mangkuk sumbangan di tangan kanan, berdiri sambil menawarkan ramalan pada kami.
Anehnya, dia hanya menawarkan untuk meramalku, dari sekian banyak pengunjung yang lalu lalang di Takamatsu Square. Ini musim panas terakhirku di Negeri Doraemon. Orang-orang dengan berbagai gaya sibuk hilir mudik menikmati suasana. Ada yang bergaya Rastafarian, ada yang bergaya Morroccan, ada yang bergaya Harajuku dan ada juga yang bergaya tanpa konsep, sepertiku.
“Sanuki….”, sapa Bhiksu itu. Aku tidak menyadari kalau yang dia maksud itu adalah aku, Tante Akemi yang menyadarinya saat melihat Bhiksu itu memandangku tanpa berkedip.
“Nadia-Chan….kamu dipanggil oleh Osho-San di sana itu…”, bisik Tante Akemi.
“Tapi tadi dia memanggil Sanuki”, bisikku lagi. Tante Akemi menjitak kepalaku dengan geli.
“Kamu ini, sudah 3 tahun tinggal di Hagiwara, masa tidak tahu kalau daerah sekitaran tempat kita tinggal juga disebut Sanuki…ckckck..”, Tante Akemi geleng-geleng kepala.
“Aku tahu, Ba-Chan…”, timpalku, “tapi yang dari Sanuki kan bukan cuma kita….”
“Iya, Ba-Chan tahu…tapi Osho-San itu cuma melambai ke arah kita…kamu lihat deh….”
“Sanuki…Sanuki….”, panggilnya ngotot. 
Aku menggeleng-geleng takut, Tante Akemi akhirnya memaksa menggandeng tanganku untuk menghampiri Bhiksu itu. Ini memang jarang sekali terjadi, karena itu Tante Akemi penasaran bukan main.
Konnichiwa…selamat siang”, sapaku hormat sambil membungkuk pada Bhiksu ganteng itu. Habisnya, aku harus bagaimana lagi…?
“Kamu…gadis dari Sanuki, kan…?”, tanyanya lagi. Aku menggeleng.
Indonesia no ko….Padang kara kimashita...”, jawabku sopan, menjelaskan aku ini anak Indonesia, tepatnya dari Padang.
“Tapi kamu tinggal di Sanuki, kan…?”, suara itu masih ngotot. Tante Akemi akhirnya menjawab.
“Iya, dia memang tinggal di Sanuki, bersama keluarga saya…”, jelas Tante Akemi. Bhiksu itu manggut-manggut.
“Kamu mau pergi ke luar negeri ya…?”, tanyanya lagi.
Aku menelan ludah. Bagaimana Bhiksu ini tahu aku bakalan pulang kampung minggu depan…?
Chotto ii…?“, tanyanya meminta izin untuk melihat garis tangan kiriku. Tante Akemi tanpa basa-basi langsung menyambar tanganku dan memperlihatkannya pada Bhiksu itu.
Ah, ini sih kesempatan aja elo pengen pegang-pegang tangan gue, gerutuku dalam hati.
Aku memang tidak begitu menyukai ramalan. Ramalan cenderung menguasai pola pikir kita. Kadang kita mengira ramalan itu jadi kenyataan, karena pikiran kita sudah diarahkan sebelumnya.
“Kamu tidak boleh bepergian jauh…”, larangnya tiba-tiba.
Whattt…? kataku dalam hati. 
Kalo gue gak pulang bisa dideportasi Om, gara-gara visa habis.
“Perpanjang visamu…”, suruhnya lagi seolah mengerti. 
Tante Akemi kulihat terperangah luar biasa. Aku juga jadi sedikit takjub. Orang ini bisa membaca pikiranku.
Muri desu..“, bantahku.” itu mustahil, tiket sudah dibeli…”
Dan aku kaget bukan kepalang ketika Bhiksu itu mengeluarkan sejumlah uang pecahan sepuluh ribu Yen lalu menyerahkannya pada Tante Akemi, yang juga terkaget-kaget luar biasa. 
Biasanya kamilah yang harus menyumbang pada Bhiksu, sekarang kami malah diberi uang, tidak tanggung-tanggung jumlahnya. Seratus ribu Yen sekarang ada di tangan Tante Akemi. Ya, jangan pernah membantah seorang Bhiksu, itu semboyannya.
Apalagi kalo Bhiksunya malah ngasih duit setara dengan sepuluh juta Rupiah, setara dengan tiket pulang-pergi Padang – Kansai.
“Perpanjang visa Gadis Sanuki ini dan dia tidak boleh ke luar negeri sampai tahun depan”, pesannya lalu kembali terdiam tanpa penjelasan, kembali khusyuk dengan tasbih besar dan mangkuk sumbangan di tangannya. Bhiksu itu tidak berkata apa-apa lagi.
“Namaku Nadia….”, kataku akhirnya,”Dan anda lumayan ganteng….”, isengku mulai kumat.
Tante Akemi menjitak kepalaku lagi dan menarikku pergi dari sana.
Kami lalu masuk ke Starbucks dan sedikit melupakan kejadian tadi. Cafe Au Laitnya enak, begitu juga Croissantnya, dan semboyan yang tidak akan pernah kulupa “Geography is Flavour“, terpampang besar-besar di dindingnya.
Aku sudah melupakan kejadian itu, tapi tidak Tante Akemi. Beliau langsung memperpanjang visa dan id cardku, dan juga menelepon keluargaku di Indonesia. Dia benar-benar ngotot.
Kami baru saja selesai makan malam ketika berita itu muncul di Fuji Terebi. Tante Akemi langsung histeris sambil mengaduk-aduk isi tasnya. 
Aku yang baru selesai mencuci piring tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi Tante Akemi langsung memelukku erat-erat.
“Nadia-Chan...yokatta…syukurlaaah”, katanya sambil menangis.
Pembaca berita itu mengatakan kalau pesawat JAL dengan nomor penerbangan JA8345 telah jatuh di Fukuoka, semua penumpang dan awak pesawat tewas.
JA8345, nomor persis yang tertera di tiketku. Siapa percaya ramalan…?
Padang, 3 September 2013
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s