Omamori

Kimi o mamoru tame….untuk menjagamu…
“Ria-Chan…tunggu di sini sebentar ya….”, kata Masao padaku dengan sedikit terburu-buru.  
Kami sedang berkunjung ke Kuil Unpenji, daerah pegunungan Hagiwara. Saat ini musim dingin dan keseluruhan Unpenji tertutup kabut.
Aku hanya bisa melongo menatap abang angkatku itu. Tiga tahun tinggal bersama keluarga Okashita bukanlah jaminan untuk mengerti tindak tanduk Masao, putra sulung keluarga itu, yang sekaligus kakak angkatku.
Masao menghilang ke dalam kuil. Dua menit…lima menit…tujuh menit. Aku mulai tidak sabaran. Aku kedinginan di sini walaupun sudah memakai syal, sarung tangan dan penutup telinga. Tapi, sepuluh menit sudah belum ada tanda-tanda kemunculan Masao. Aku benar-benar kehilangan kesabaran.
“Nii-Chan….hayaku….!”, teriakku tak sabar, menyuruhnya cepat keluar, apapun itu yang sedang dikerjakannya.
Tapi Masao belum juga keluar dari tempat persemediannya.  
Hey, kamu tidak sopan, Ria. Orang sedang beribadah kok disuruh buru-buru, tiba-tiba saja aku teringat, jadi kuputuskan untuk menunggu sebentar lagi, sambil menuju mesin penjual minuman demi sekaleng cafe au lait hangat.
Setengah jam sudah Masao menghilang di dalam kuil. Aku tidak mengerti kenapa dia lama sekali. Masao tidak pernah beribadah selama ini.
Kugoyang-goyangkan lonceng negai dengan tidak sabar. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara mantram, makin lama makin jelas seperti dengungan lebah. Kurasakan tepukan di pundakku.
“Ayo, masuk saja, tidak apa-apa kok…”, suara Bhiksu Shoji mengagetkanku. 
Beliau sudah masuk ke dalam mendahuluiku. Jadi kuputuskan untuk mengikutinya. Mungkin tidak masalah, seperti waktu di Kyoto, pengunjung asing juga diperbolehkan untuk melihat ritual ibadah.
Aku masuk dan menemukan Masao bersimpuh di depan altar. Khusyuk, terhanyut dengan buku mantram ditangannya. Sepertinya dia berniat membaca sampai habis. Aku memutuskan untuk menunggu sambil menonton ritual ini. Tidak masalah bagiku. Aku ingin menikmatinya, karena minggu depan aku akan kembali ke tanah air.
“Ria-Chan…Ria-Chan….”, suara Masao terdengar jauh. Aku melihat wajahnya buram. Dia tersenyum.
Nii-Chan….“, jawabku.
“Kamu ketiduran….”, katanya geli. Ah benar saja. Segera aku bangkit dan mengucek mataku.
“Udah selesai negainya..?” tanyaku. Masao mengangguk.
“Maaf, membuatmu menunggu lama. Habis ini aku traktir makan Udon paling enak di Sanuki, ya…”, katanya sambil mengedipkan mata.
“Harus dan wajib…”, jawabku sambil pura-pura cemberut. Masao tertawa dan membantuku berdiri.
Bhiksu Shoji menghampiri kami.
“Okashita-Kun….”, katanya pada Masao, “…ini omamori pesanannya…”. 
Bhiksu Shoji melambaikan sebuah omamori di depan hidung Masao, tapi seperti teringat sesuatu, beliau urung menyerahkannya pada Masao. Omamori adalah semacam jimat pelindung dan dipercaya bisa melindungi diri dan biasa dibawa ke mana-mana, sebagai gantungan kunci atau pembatas buku.
“Ini omamori istimewa”, jelas Bhiksu Shoji tanpa ditanya sambil melirik Masao. Yang dilirik menundukkan kepalanya sambil tersipu-sipu. 
Sungguh, ini pemandangan aneh dan baru untukku. Untuk pertama kalinya kulihat kakak angkatku, Masao, seorang dokter bedah yang tegas, tersipu malu.
Naze…kenapa..?”, tanyaku agak kurang sopan.
“Okashita-Kun habis membaca satu buku mantram hanya untuk mendapatkan omamori ini. Hal yang belum pernah dia lakukan seumur hidup”, kata Bhiksu Shoji padaku.
Aku manggut-manggut. Ini pastilah omamori untuk Mama, untuk menjaga keselamatan beliau.
“Omamori ini didapat dengan susah payah, untuk menjaga seseorang yang istimewa dan Okashita-Kun memintaku untuk menyerahkannya padamu. Dia terlalu malu untuk melakukannya sendiri”.
Aku melongo sambil menerima omamori itu dari Bhiksu Shoji. Masao mengalihkan pandangannya pada pemandangan Hagiwara di bawah sana, menghindari tatapanku yang menuntut penjelasan.
Bhiksu Shoji pun berlalu. Unpenji menjelang sore. Aku masih melongo, tidak tahu harus berkata apa.
Nii-Chan...”, kataku pada Masao. Masao akhirnya menoleh padaku, sambil tersenyum.
“Omamori itu untukmu, untuk menjagamu…”, katanya singkat. Aku tersenyum. Dua jam aku menunggu sampai ketiduran, untuk menerima kejutan ini. Seseorang yang istimewa bagi Masao.
Arigatou, Nii-Chan….“, jawabku akhirnya balas tersenyum.
“Pulang yuk…aku masih harus traktir kamu Udon…”
Aku mengangguk. Udara musim dingin menusuk hingga ke tulang. Tapi kurasakan ada tangan yang menggenggam tanganku, lalu memasukkannya ke saku jaketnya. Sekedar menghangatkan sebelah tanganku, dan juga hatiku.
Masao terus menggandengku menuju tempat parkir, tanpa kata-kata.
Padang, 31 Agustus 2013
Untuk Hagiwara dan Unpenji
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s