Menuliskan Seorang Pengelana

Image by: Google

Tentang pengelana itu. Dia yang pergi dan tidak berjanji untuk kembali. Dia tidak meminta untuk menunggu. Dia pergi dengan punggung semampai dan rambut ikal gondrong berkibar tertiup angin. 


“Jangan tunggu aku,” katanya lirih namun tegas, tersirat bahwa dia tidak akan kembali. Dia tidak ingin kembali. 

Tapi sebuah hati yang begitu ngotot memberi ruang untuk tetap menunggu. Walau dia tahu, pria itu tidak peduli. Dia tidak kembali karena dia tidak peduli. Dan perempuan itu tetap memutuskan untuk menyia-nyiakan umurnya, menatap cakrawala dari beranda hingga senja tiba walau tak sedikitpun bayangan pria pengelana itu muncul.

Begitulah hari berganti. Jaman berganti rupa dan fisiknya mulai menua, dia tetap menunggu.

Kekonyolan yang aneh. Tidak ada yang meminta dia untuk melakukan itu. Tidak juga cinta. Cinta itu hanyalah kegombalan yang hilang dalam sekejap.

Pria pengelana pastilah ada di salah satu titik dunia. Mungkin sedang bercinta dengan banyak wanita, menari Samba hingga kakinya jera, minum Vodka bersama teman-teman sesaatnya, berkostum Tarzan di festival kota atau barangkali tercampak di dekat tong sampah, mengais makanan sisa. Entahlah.

Perempuan yang menunggu tetap saja menunggu. Seolah takdir hidupnya hanyalah menunggu pria itu.

Bodoh, tidakkah kau sadari,dia bahkan tidak tahu namamu.

Mereka bertemu bertahun lalu, saat hujan badai disertai petir menyapa langit dunia. Pria itu mengetuk pintunya. Oh wajah yang sungguh tampan. Mata yang bersinar cerah penuh semangat. Kulit putih bersih dengan hidung mancung dan rahang yang menceritakan keteguhan hati. Semua ada pada pria bertubuh semampai itu. 

Dia datang membasuh kesendirian si perempuan yang baru saja kehilangan ayah ibunya. Dengan rasa percaya, dia menerima orang asing itu masuk.

Tanpa dia sadari, pria itu mencuri segenap hati dan seluruh sisa waktunya, yang sekarang dia abdikan untuk menunggu. Menunggu seseorang yang tidak akan kembali.
Dia memang melakukan hal yang sia-sia. Pria pengelana itu masih ada di satu titik dunia dan dia tidak mungkin kembali walaupun mungkin dia ingin. Kaki dan tubuhnya sekarang telah terikat. Rohnya telah bersatu di keabadian. Kanker paru-paru telah membuatnya berpindah alam. Dia tidak mungkin kembali ke rumah itu. Dia telah menyatu dengan tanah, diiringi nisan tanpa nama.

Perempuan itu masih setia menunggu. Mungkin menunggu sekarang memang tujuan hidupnya. Menunggu untuk dibawa pergi, bersama roh yang sekarang ikut menemani.

Padang, 4 November 2014

Telah kujelajahi dunia, hanya pada satu nama aku ingin kembali.
-Anita Daniel-



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s