Selamat Pagi, Diandra

Auf Wiedersehen…

Auf Wiedersehen, Katrina”, jawab Diandra sambil melambaikan tangan pada rekan satu timnya itu. 

Masing-masing berjalan menuju flat terpisah. Semalam mereka terpaksa tidur di laboratorium. Mereka, senasib seperjuangan menempuh program doktoral di sebuah kota asing bernama Munchen. Ini masih awal musim gugur di Jerman, tiga bulan berlalu sejak Diandra menginjakkan kaki pertama kali di bandara Frankfurt, lulus sebagai salah satu awardee di Technische Universität München. 

Diandra dan Katrina adalah dua orang dari hanya dua perempuan yang belajar di sini untuk bidang Material dan Konversi Energi. Diandra dari Indonesia dan Katrina dari Rusia. Apakah ini artinya teknik masih dikuasai kaum adam..? Ataukah sedikit sekali kaum hawa yang tertarik..?

Ah, sudahlah, yang penting misinya ke Eropa tercapai sudah. Bulan depan Aditya dan anak-anak akan menyusul. Aditya juga menjadi awardee di Universitas ini. Sempurna bukan…? Hebatnya Aditya dengan aplikasi doktoralnya malah sudah diminta untuk ikut beberapa riset post doctoral di sini. Itu artinya, keluarga mereka “terancam” untuk tinggal di Jerman dalam jangka waktu yang cukup lama.

Diandra memasuki flatnya yang mulai dingin karena udara musim gugur. Dia menyeduh secangkir kopi. Dia selalu menyukai kopi. Aromanya mengingatkan pada seseorang. Ah, sudah setahun lebih orang itu tidak ada kabar. Dia menghilang pada saat Diandra sedang dalam tahap persiapan beasiswa. Dia tidak membalas sms, tidak mengangkat telepon dan facebooknya ditutup. Diandra kehilangan, amat sangat. Tapi dia tahu, dia masih harus mengejar mimpi.

Seharusnya mereka mengejar mimpi bersama. Tapi Diandra kemudian tersadar, mana ada kata seharusnya…? Itu hanyalah keinginan mereka. Diandra duduk di sofa, meminum kopinya. Rasa sakit di ulu hati itu masih nyata dirasa, senyata perasaan yang tidak pernah pergi. 

Berhari-hari sebelum dia menyadari kepergian Abi, suara jeritan ponsel selalu mengagetkannya, berharap itu dari Abi. Tapi, dirinya selalu kecewa. Hingga akhirnya dia dipaksa mengalah, walau belum menyerah. Diandra tersenyum dan berbisik di udara. Abimanyu, semoga kamu bahagia, babe….

Full Story on “After Sunset”
Hubungi 0821 6912 0820 untuk pemesanan
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s