Pesan Dalam Tong Sampah

Danu berteriak kaget sekaligus kegirangan,”Waduuuh….orang gila mana nih yang ngebuang hape sebagus ini?”

Dia memungut ponsel itu sambil mengecek fungsi-fungsi aplikasinya. Tidak ada yang salah, semua bagus. Yang salah mungkin otak orang yang membuang ponsel ini. Ponsel curiankah? Kalau iya, seharusnya berada di tangan penadah, bukannya tong sampah.

Ini memang pagi yang penuh hoki, batinnya. Dia tidak perlu bersesak-sesak di kereta Jakarta-Bogor untuk pergi kuliah. Semuanya lancar pagi ini. Dan begitu dia bermaksud membuang sampah bekas gorengan, dia malah menemukan ponsel bagus ini. Danu memasukkannya ke dalam ransel dan melanjutkan perjalanannya menuju kampus.

“Waaah….hape baru nih…!” cengir Aika sahabat baiknya. Satu lagi keberuntungan hari ini. Kuliah ditiadakan karena dosennya ada seminar mendadak. Danu memutuskan untuk minum kopi di kantin dan mengecek ponsel yangg baru ditemukannya.

“Ah gak, gue nemu di tong sampah stasiun, Ka,” jawab Danu sambil terus mengotak atik ponsel.

“Apaa?? Ada orang kaya yang buang-buang hape ya?” lanjut Aika ingin tahu.

Danu tidak menjawab. Dia terpaku pada pesan-pesan yang masuk di ponsel itu. Pesan-pesan yang masuk tadi pagi dan belum dibaca. Banyak pesan berasal dari satu nomor yang sama. Pengirimnya bernama Dave.

Maafkan aku telah mengecewakanmu, bunyi pesan pertama yang dibuka Danu.

Biasa, ini terdengar seperti pesan biasa. Pesan cinta. Apalagi?

Aku tahu, ini terlalu berat buat kita. Kita tidak akan bisa sama-sama. Lupakan saja aku.
Demikian bunyi pesan kedua. 

Danu mengangkat bahu sambil minum kopi. Dia memutuskan untuk terus membaca.

Maaf, jangan menangis untuk pria seperti aku.

Pria macam apa si Dave ini? Danu mulai penasaran.

Iya, aku jatuh cinta padanya dan ingin menikahinya. Tolong maafkan.

Oh, tipe seperti ini, batin Danu.

Aku tahu kamu telah begitu baik padaku, maafkan aku.

Maaf-maaf melulu. Pantaskah seseorang yang telah begitu baik dihadiahi ucapan-ucapan seperti ini? Danu mulai ikut emosi.

Dia membuatku lebih baik, terima kasih untuk semua kebaikan kamu.

Danu merasa miris dalam hati. Dia ikut merasakan sekarang hal yang dirasakan si pemilik hape ini.

Maaf, gampang diucapkan. Tapi luka yang tertinggal tidak akan mudah dilupakan. Pantaskah si penerima pesan ini dihadiahi ucapan itu? Ini bualan di pagi hari. Danu berdiri sambil menghabiskan kopinya. Dia berjalan ke luar kantin sambil memasukkan ponsel itu lagi dalam tong sampah.

“Waaah….Mas Danu, hapenya buat saya saja ya!!??” sorak Udin penjaga kampus.

“Ambil saja,” kata Danu singkat sambil ngeloyor pergi diiringi tatapan bingung Aika.
 
Padang, 19 April 2014
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s