Persinggahan

Keretaku akhirnya berangkat. Dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Tugu, Yogyakarta. Aku dan beberapa teman telah berjanji untuk berkumpul di Malioboro lusa, membahas rencana keliling Yogya, ekspedisi ke Gunung Lawu dan kemungkinan terus ke Semarang. Kuperiksa kembali isi ranselku, cukup kurasa segala keperluanku untuk liburan sebulan penuh, jauh dari hiruk pikuk pekerjaan, jauh dari segala yang aku tahu. Hanya aku dan diriku, serta beberapa orang yang merasa sama denganku.

Pemandangan di luar sana benar-benar mencengangkan. Menjelang Stasiun Jatinegara, mentalku benar-benar diuji. Sejauh manakah aku mengenal Jakarta? Kota yang telah menjadi tempatku tinggal beberapa tahun terakhir ini. Kota yang memberi lebih pada golongan tertentu, namun juga tidak memberi cukup pada golongan lainnya. Lihatlah, di luar sana, gedung-gedung megah ternyata berdampingan dengan gubuk reyot, berdampingan dengan tempat pembuangan sampah, berdampingan dengan kepedihan dan harapan yang hanya tinggal harapan. Kenyataan yang tidak terbantahkan. 

Aku menarik nafas panjang, berharap suguhan pemandangan ini segera usai. Di antara harapan dan rasa nyaman pendingin ruangan dalam gerbong, akupun tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, mungkin cukup lama. Yang aku tahu, malam berangsur turun, gelap menyapa. Pemandangan di luar sana berubah menjadi bayangan kelam. Kelam. Pekat. Kelam.

Kereta tiba-tiba saja berhenti, cukup lama. Di dalam gerbong ini sudah tidak begitu banyak lagi penumpang. Apa sudah sampai? Pikirku dalam hati. Tapi masih terlalu cepat.

Kereta masih belum berjalan. Terlalu lama untuk sebuah persinggahan. Penerangan di dalam gerbong perlahan meredup. Semuanya berubah menjadi samar. Buram. Samar.

Kereta tidak juga beranjak. Perlahan aku mulai menyadari bahwa tidak ada penumpang lagi di gerbong ini selain aku. Tidak ada lagi hiruk pikuk. Sunyi. Gelap.

Aku berdiri. Kusandang ranselku keluar gerbong. Ya Tuhan, di mana aku..? Ini jelas-jelas bukan Stasiun Tugu. Ini stasiun antah berantah yang dipenuhi gerbong-gerbong usang nan lusuh. Termasuk gerbong yang kutempati tadi. Usang dan lusuh. Tidak ada penerangan di sini. Semua samar, hanya mengandalkan cahaya bulan purnama yang sebagian tertutup awan. Aku mulai merinding. Sendirian tidak selamanya menyenangkan.

Aku mencari-cari peta, mengandalkan penerangan dari telepon genggamku. Tidak ada sinyal di sini dan peta yang kubawa terasa percuma. Aku buta navigasi. Mataku masih mencari-cari.

Perlahan, saat mataku mulai beradaptasi dengan temaramnya cahaya bulan, aku menyadari ada sosok-sosok di pinggir peron. Sosok-sosok manusia yang juga lusuh. Mereka menjajakan sesuatu. Entah apa itu, aku tidak tahu. Bagaimana orang-orang ini muncul? Dari mana mereka berasal? Ini bukan mimpi, setidaknya mataku terasa panas dan kulitku mulai merasakan dingin, merinding yang luar biasa mencekam.

Sesuatu yang tidak kuduga tiba-tiba mendera. Rasa lapar yang amat sangat. Aku tidak membawa makanan apapun di dalam ransel. Aku menarik nafas panjang, berusaha menajamkan penglihatanku. Sosok-sosok di pinggir peron mulai memanggil-manggil dengan lambaian tangan. 

Aku mendekati salah satunya. Seorang pedagang tua yang luar biasa lusuh, selusuh dagangannya. Dia menjajakan kue-kue berdebu. Rasa lapar makin menderaku, mengalahkan naluri dan kesadaranku terhadap kebersihan. 

Aku mengambil salah satu kue berdebu itu. Samar namun pasti, kudengar si pedagang lusuh berkata lirih.

“Kalau kamu makan kue itu, kamu akan menjadi salah satu dari kami. Kau tidak akan pernah bisa kembali ke tempat asalmu.” 

Aku menelan ludah.

 
Padang, 15 April 2013

Interpretasi sebuah mimpi.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s