Mengingat Hingga Jera

Terlalu banyak peristiwa datang silih berganti dalam hidupnya. Tapi sebagian hanya meninggalkan jejak sementara lalu terhapus. 

Tidak sama halnya terhadap kisah di ujung jalan ini. Kisah ini membekas begitu lama membuatnya tak mampu lupa. Bagaimana mungkin lupa? Dia punya memori yang membuatnya mampu mengingat hal yang penting.

Lalu dia menjadi sulit lupa begitu saatnya tiba. Kenapa? Karena peristiwa ini termasuk penting. Amat sangat penting malah. Peristiwa ini adalah titik balik hidupnya yang membuatnya mempertanyakan segalanya. Dia mengalami apa saja di titik ini. Dia mengorbankan kestabilan yang dulu dia punya. Dia mengeluarkan semua emosinya. Tumpah. Ruah. Dia tertawa, menangis, marah, terluka, lalu tersenyum lagi, untuk kemudian….terluka lagi.

Dia berusaha pergi, tapi titik itu ternyata punya tali. Tali yang mengikatnya terlalu kuat. Dia mencoba melepaskan diri, lari, melupakan, menutup pintu…tapi beberapa saat kemudian, dia tahu ini sia-sia karena dia tidak akan mampu. Memorinya terlalu tajam untuk mengingat semua detail. Bagaimana? Bagaimana? Kenapa?? Kenapa?? Seandainya…seandainya…seandainya…ah seandainya…

Indah dalam khayalan, belum tentu indah dalam kenyataan. Begitulah akal sehatnya berbicara. Adrenalin kembali menipunya, membuatnya menginginkan lebih…lebih dan lebih, hanya karena…dia tidak bisa memilikinya. Tidak bisa memiliki sesuatu akan membuat sesuatu itu menjadi lebih indah, menjadi lebih diinginkan. Dan keindahan yang dimilikinya sekarang menjadi terlihat biasa-biasa saja.

Hey adrenalin, sahabat lamaku. Maaf aku tekan dirimu sekarang. Aku lindas dan gencet kamu dengan buldozer. Kamu indah dalam kepala. Keindahan yang kumiliki adalah nyata, bukan hanya dalam kepala. Matilah kau adrenalin !!!

Adrenalinpun mengalah. Ini bukan ujung jalan. Dia tahu dirinya telah kalah. Perang telah usai, menyisakan kemenangan di pihak memori dalam kepala. Karena memori tahu dengan pasti, dia akan kalah ketika mencoba lari. Jadi memori memutuskan untuk menghadapi. 

Apapun yang terjadi, memori tidak akan mundur. Dia terus mengingat, mengingat dan mengingat. Hingga pada suatu titik, adrenalin memudar, terhapus, jenuh, jera. 

Kemenangan memori bukan karena lari melainkan karena dia mampu mengingat hingga jera.
 
Padang, 24 Maret 2013
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s