Lipstik Merah

Untuk yang ketiga kalinya mesin kopi itu bertingkah. Dia hanya diam saat tombol “on” diaktifkan walau kabelnya tersambung sempurna ke terminal listrik.

“Sempurna…” guman Viena setengah malas. 

Dia akhirnya mengaduk-aduk lemari dan menemukan satu sachet kopi instan yang – syukurlah – belum kadaluarsa. Ini bisa sedikit menolong adiksinya terhadap kafein di pagi hari.

Koran pagi telah tersembul dari balik pintu, seperti biasa. Ini memang hari yang biasa. Tidak ada yang istimewa. Mesin kopipun rusak, seperti biasa. Biasa dan tenang, seolah menunggu terjadinya sebuah ledakan, apapun itu.

Viena tidak perlu terburu-buru ke kantor pagi ini. Dan sejujurnya seharian ini dia tidak perlu ke kantor. Tidak ada kesibukan hari ini, entah kenapa. Viena baru menyadari keanehan ini ketika membaca koran pagi. Hari-harinya selalu terburu-buru, tapi hari ini sekretarisnya bilang dia tidak ada jadwal. Bukankah ini aneh? Dia seharusnya sibuk. Tinggal sendirian berarti sunyi. Dan kesunyian ini mulai mencurigakan.

Viena kembali mengecek agenda. Benar tidak ada jadwal apapun. Diteleponnya kembali sekretarisnya yang teliti itu.

“Tidak ada jadwal, Bu. Beneran,” jawab Risti, Sang Sekretaris.
“Oke baiklah. Terima kasih Risti.”

Jadwal kosong seharian tidak pernah terjadi sejak Viena menjadi managing director di perusahaan perminyakan 7 tahun yang lalu. Tapi kenapa hari ini kosong? Tidak ada meeting, tidak ada inspeksi, tidak ada apa-apa. Kosong. Sunyi. Kosong.

Viena melangkah ke dapur. Dia perlu memasak sesuatu untuk menenangkan perutnya yang mulai berteriak dan juga mendistraksi pikirannya yang mulai butuh kesibukan. Kenapa lalu lintas pikiran hari ini begitu sunyi? Tidak ada umpan yang membuatnya berpikir, tidak ada strategi yang harus disusun, tidak ada proyek yang harus dimenangkan.

Dia mulai merebus spaghetti dan menyiapkan saus pasta. Lemari esnya nyaris kosong. Viena bernafas lega, setidaknya ini peringatan kalau dia harus berbelanja. Dia menutup pintu kulkas dengan sedikit keras. 

Tiba-tiba sesuatu menggelinding keluar dari kolong kulkas. Sebatang lipstik. Viena memungut lipstik itu dengan heran. Ini lipstik siapa? Dia tidak ingat pernah menyimpan lipstik di kolong kulkas, karena tentu saja itu adalah tempat penyimpanan yang tidak biasa.

Viena membukanya. Woo….lipstik berwarna merah menyala dengan kemasan yang terlihat jelas bahwa ini lipstik murahan. Jelas ini bukan miliknya. Viena tidak pernah cocok dengan lipstik berwarna merah membara seperti ini.

Dimatikannya kompor. Mood memasaknya sudah setengah hilang. Lipstik siapa yang ada di kolong kulkasnya? Viena duduk di meja makan. Sesuatu menggelinding menyentuh kakinya. Lagi-lagi sebatang lipstik dengan kemasan dan warna yang sama. Viena berjongkok di kolong meja. Dia menemukan tiga batang lipstik lagi di sana. Ini benar-benar aneh, tentu saja. Sangat aneh. Dari mana datangnya lipstik ini?

Viena mulai memeriksa seluruh ruangan dengan hati-hati dan dia benar-benar terkesiap. Bulu kuduknya mulai berdiri. Seluruh ruangan rumahnya sekarang dipenuhi berbatang-batang lipstik yang bisa menggelinding sendiri di lantai. Viena mulai diliputi kecemasan. Mungkinkah ini halusinasi? Apakah dia bermimpi?

Ditamparnya dirinya sendiri. Sakit luar biasa. Ini bukan mimpi. Seluruh lantai ruang tamu, ruang tengah, ruang makan hingga dapur sekarang dipenuhi lipstik-lipstik merah yang saling menggelinding dan saling beradu. Tiba-tiba terdengar suara air dari kamar mandi. Viena makin terkesiap. Dia segera berlari menuju kamar mandi dan tercengang luar biasa.

Keran bath up menyala sendiri, mencurahkan air dengan derasnya. Lantai kamar mandi dipenuhi batangan lipstik. Viena memandang sekeliling dan menemukan tulisan di cermin kamar mandi, ditulis dengan lipstik merah menyala.

Hai, Viena…
Darahnya serasa hilang. Viena berlari mencari ponselnya. Tapi sebelum sempat dia menghubungi seseorang, ponsel itu telah berbunyi terlebih dahulu. Risti.

“Ya…” kata Viena berusaha tenang.
“Ada paket Bu. Untuk Bu Viena,” suara Risti di seberang sana.
“Buka sekarang, beritahu saya isinya sekarang juga,” perintah Viena.
“Baik Bu,” jawab Risti patuh.

Terdengar suara berkerisik di seberang sana. Lalu Risti kembali bicara.

“Bu Viena, isinya banyak sekali lipstik.”

Viena merasakan tangannya lemas. Ponsel terlepas dari tangannya. Apa yang sedang terjadi?

Risti belum mengecek kantor Viena. Seandainya saja dia ada di sana, pasti dia sudah melaporkan pada bosnya itu, bahwa lantai kantornya dipenuhi lipstik yang saling menggelinding dan saling beradu. Dia juga pasti akan melihat tulisan di meja kerja Viena, yang ditulis dengan lipstik merah menyala.

Hai, Viena….

Ini bukan hari biasa.
Padang, 28 Mei 2014
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s