Kupertanyakan Rasa

“Huuueeeekkksss….!!!” komentar spontan Randi begitu membaca judul artikelku.
Aku mendelik kesal. Orang ini selalu saja mengganggu konsentrasi saat terkena deadline. Sama sekali tidak ada nada prihatin dalam komentarnya itu. Tapi aku tahu, dia juga barangkali muak dengan judul itu. Tidak heran, aku saja sebagai penulisnya sudah dari dulu muak dan siap muntah kapan saja.

Tapi apa daya, aku tidak punya pilihan banyak saat berhadapan dengan deadline.

“Teruuuus aja begitu. Komen lo membantu banget!” seruku kesal sambil menatap monitor.

Randi terbahak. “Hari gini masih laku ya cerita cinta-cintaan, Nit?” tanyanya akhirnya.

“Menurut lo? Semua orang butuh cerita kan. Apa yang membuat lo muak, bisa jadi menyenangkan buat orang lain,” sahutku masih ketus.

Randi mengangkat bahu, “Gue gak bilang muak Nit. Gue bener-bener ingin tahu apakah dunia masih butuh cerita cinta?”

Aku mulai memandang Randi dengan serius. “Trus apa maksud komen lo tadi?”

“Cuma mempertanyakan apakah dunia memang butuh cerita cinta? Karena kalau memang iya, gue punya banyak,” jelas Randi mulai serius. Sepertinya dia memang serius.

Randi mengeluarkan sebuah buku catatan. Sekarang giliranku yang terbahak. Dia mendelik kesal.

“Silahkan tertawa,” katanya singkat.

“Hehehe…lo…cowok heavy metal kayak lo nulis buku harian?” tanyaku takjub dengan sisa-sisa tawa masih tergambar di wajah.

“Cinta itu sederhana, tapi rumit, don’t you think Anita?” tanyanya kembali serius.

Aku mengangguk tanpa pilihan. Jutaan kisah cinta mengalir di jagad raya. Begitu tak terhingga hati yang terkoyak dan bahagia. Tapi tetap saja kita butuh ceritanya tanpa pernah bosan terhadapnya.

“Cinta selalu diwarnai pertengkaran. Itulah yang gue alami,” papar Randi.

“Tapi lo gak pernah ingin pergi. Lo selalu kembali pada cinta yang sama,” lanjutku.

“Karena cinta yang itu jugalah yang mampu membuat gue bahagia, walau sulit diraih, walau jalannya gak mulus. Kadang gue iri dengan hubungan orang-orang yang mulus-mulus aja. Mereka terlihat bahagia. Tapi, kebahagiaan gue adalah bertengkar dengannya. Sungguh lucu.”

Aku tersenyum. Memang lucu. Aku kembali ke artikelku, meninggalkan Randi yang sepertinya mulai menulis catatan di buku itu.

Sebuah hubungan cinta akan selalu berfluktuasi. Cinta tidak pernah datar. Cinta mempertanyakan semuanya, mencereweti semuanya dan membuatmu merasa diatur-atur. Cinta membuatmu kesal. Cinta membuatmu marah dan bertengkar. Kenapa? Karena cinta yang sama jugalah yang mampu membuatmu tertawa, yang mampu menyemangatimu meraih mimpi, yang mampu membuatmu merasa sanggup jadi apa saja. Kamu akan selalu kembali padanya. Karena dia adalah….cinta.

Jika cintamu datar-datar saja, maka kupertanyakan rasamu terhadapnya.
 
Padang, 8 Mei 2014
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s