Half Moon

Dia terjaga dengan kesadaran penuh, mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengingat hal yang membuatnya terjaga. Suara jangkrik? Suara motor yang masih lalu lalang? Suara tikus di atap rumah? Atau suara hatinya sendiri? Entahlah. Tapi semua suara-suara tadi memang ada dan selalu menjadi simfoni kesehariannya.

Kesadarannya mengingatkan pada sesuatu. Atau seseorang, barangkali. Sepasang mata sipit dengan pandangan terpana dan tak percaya yang melepasnya pergi di Bandara Kansai. Sudah berapa tahun berlalu? Apakah mata itu masih sama? Apakah wajah itu masih sama? Ah,dia sudah pasti bertambah tua, walau mereka sudah lama tidak berkirim kabar.

Dia adalah seorang kakak, walau kadang sikapnya lebih mirip pacar yang melindunginya dengan cara aneh yang berlebihan. Dia juga bagaikan orang tua yang kadang menasehati dengan kata-kata bijak yang diusahakannya untuk masuk akal. Dia juga seorang guru yang mengajarkan banyak hal dari kesalahan-kesalahan bodoh yang dia perbuat. Tapi, terkadang dia bisa menjadi seorang bocah kecil yang sangat keras kepala, tukang ngambek luar biasa.

Tapi, kenapa hanya dia yang sanggup bertahan menghadapi orang itu? Orang yang mengatakan “aku akan kesepian kalau kamu menikah”. Orang yang banyak sekali teka-teki dan tanpa diduga memberinya hadiah jurnal panjang lebar di hari perpisahan. Dia mendapatkan sebuah catatan panjang dari orang itu. Catatan yang menceritakan segala yang dirasakannya, diinterpretasikannya dengan nyata dalam Kanji, Hiragana dan Katakana.

Aku kehilangan saudara perempuanku hari ini. Dia, dengan keceriaan dan kecerdasannya, membuatku menyadari kalau aku melewati rumahnya esok hari, dia tidak akan lagi ada di sana. Aku sungguh berharap dia menjadi Presiden dunia.

Catatan yang sungguh lucu, tapi justru mengalirkan air mata di ruang tunggu Gate 13 Bandara Kansai. Ketika sepasang mata itu tidak lagi melihatnya. Ketika wajah itu tidak lagi bisa diingatnya. Bagaimanapun, mereka tetaplah saudara.

Kakakku yang baik, aku melihat bulan separoh malam ini. Apakah ini saatnya kita berbincang-bincang lagi? Aku tahu kamu tidak pernah lupa, namun sulitnya hidup membuatmu tidak sempat. Itu saja. Walaupun waktu tidak akan berhenti, aku hanya meminta satu hal darimu. Janganlah pernah menjadi tua, itu tidak cocok untukmu. Bagaimanapun bagiku, kamu tetaplah kakakku.
 
Padang, 9 November 2013
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s