Buongiorno, Abimanyu

Buongiorno….”, sapa Abi sambil memasuki kelasnya. Baru satu mahasiswi di kelas itu, Frida.
          
“Buongiorno, Abi…”, jawab Frida ramah lalu kembali menekuni buku yang dibacanya.
          
Abi mengambil tempat di baris kedua. Itali menjelang musim dingin. Sudah dua minggu dia di sini. Abi melangkah menuju jendela. Matanya memandangi Grand Canal yang memanggil untuk dikunjungi di luar sana, seolah membawa banjir dari laut. Namun, begitulah pesona Venesia hingga wisatawan selalu ingin kembali ke kota ini.
          
Abimanyu memang tidak lagi berkutat dengan urusan adaptasi. Minggu lalu, dia masih tersasar ke Fakultas lain, berlari di sepanjang koridor dan terlambat masuk kelas. Kendala bukan sekedar bahasa, tapi juga waktu dan kesempatan beribadah, makanan yang boleh atau tidak dikonsumsi, toilet yang hanya menggunakan tisu ditambah lagi lokasi supermarket, apartemennya sendiri dan juga rambu-rambu untuk pengendara sepeda, satu-satunya kendaraan yang boleh dikemudikannya sendiri di negara ini.
          
Selain itu juga, Abi masih harus belajar Bahasa Itali, sedikit demi sedikit kalau ingin bertahan. Karena yang paling genting adalah masalah halal atau tidaknya makanan yang dia makan.
          
Abimanyu tersenyum menatap ke luar jendela. Bulan depan dia akan berusaha mencari cara untuk ke Munich, memberi kejutan pada Diandra.
          
Frida menangkap senyuman Abimanyu. Wajah Indonesia yang sedang memandang ke luar jendela, tersenyum tertimpa matahari musim dingin, ternyata menarik bagi Frida. Dua minggu sudah dia mengenal Abi dan tiba-tiba saja hari ini Abi terlihat sangat menarik. Ya, tentu saja Abi memang menarik, selain dari gaya seriusnya kalau sedang menjawab pertanyaan dosen. Abi itu….seolah ada bintang yang menyinari hatinya.
          
“Hey, Abi….bagaimana Venesia…? Sudah bisa beradaptasi…?”, tanyanya dengan Bahasa Inggris beraksen Italia.
          
Abi menoleh. Seorang gadis cantik dengan wajah khas Eropa Selatan tersenyum di sana. Tapi kenapa wajahnya jadi mirip Diandra…?
          
“Ya…lumayanlah…”, jawab Abi sambil mengangkat bahu. Masalah Magister dan adaptasi bukanlah hal penting baginya karena yang paling urgent adalah menemukan Diandra.
          
“Kamu harus coba naik Gondola, Bi…mau aku temani…?”, Frida masih tersenyum. Waw…ajakan yang menggiurkan tentu saja, sayang yang menawari bukanlah yang dia harapkan.
          
“Frida, bagaimana cara ke Munich dari sini…?”, tanya Abi mengalihkan pembicaraan.
          
“Wow…Abi, Venezie saja belum kamu jelajahi, sekarang malah ingin ke Munich. Mencari seseorang…?”, tanya Frida masih dengan senyum.
          
Abi mengangguk.
          
“Pacarmu…?”, tanya Frida lagi, sambil lalu berusaha menyembunyikan penasaran dalam hati.
          
“Bukan…”, jawab Abi. Ada secercah lega di wajah Frida.
          
“Saudara…?”
          
“Bukan…”
          
“Lalu…?”
          
“The love of my life…”
          
Seketika wajah Frida berubah. Ternyata lebih dari sekedar pacar, lebih dari sekedar soulmate. Mungkin bintang itulah yag menyinari hati Abi.
          
“Bisa dengan pesawat, dengan kereta cepat juga bisa. Ada Trenitalia atau German Railway. The City Night Line juga bagus…”, jawab Frida datar, kembali menekuni bukunya. Dasar pria, selalu mengesalkan !!! Kenapa kamu selalu saja ada yang punya saat aku merasa tertarik…???
          
Grazie, Frida…”, kata Abi sambil tersenyum lebar.
          
Teman-teman yang lain mulai berdatangan. Ada yang asli Italia, ada juga yang berasal dari negara lain. Beberapa di antara mereka seperti Abi, para penerima beasiswa.
          
Abi duduk di bangkunya. Professor Agnelli sudah memulai kelasnya. Abi memperhatikan dengan seksama, meninggalkan kesal di hati Frida.


*Available on novel
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s