Biar Kusimpan Sendiri, Diandra

Ingin kubawa dirimu ke sini untuk bisa menikmatinya bersama, Babe.
     
Sudah sebulan surat-surat dari Mamanya Abi berhenti datang. Diandra benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ingin terus berkirim surat tanpa balasan itu membuatnya merasa seperti orang gila yang berbicara sendiri. Kembali merasakan sakit itu membuat air mata Dian kembali mengalir, otomatis, tanpa diperintah, tanpa dikendalikan, tanpa bisa dihentikan.
     
Diandra beranjak dari kafe tempatnya sarapan dan minum kopi lalu setengah berlari ke halte bis di seberang jalan. Bis yang akan membawanya ke Nuremberg akan segera tiba. Akan sangat tidak lucu kalau dia sampai ketinggalan.
     
Nuremberg, kota tua dengan segudang sejarah, terletak di dekat aliran sungai Pegnitz dan Kanal Rhine-Main-Danube, sekitar 170 Kilometer sebelah utara Munich. Diandra tersenyum. Dia akan jadi backpacker hari ini. Lumayan, sedikit kebebasan sebelum Aditya datang. Diceknya lagi barang-barang dalam ransel. Netbook yang selalu setia, kamera saku dan catatan perjalanan. Cukup. Ini akan menjadi hari yang sempurna.
     
Bis akhirnya datang. Diandra naik dan memilih tempat duduk yang cukup nyaman baginya. Keseluruhan bis ini tentu saja nyaman. Tapi, tiba-tiba kenyamanan itu dirusak dengan kehadiran seseorang.
     
Wajah itu cengengesan mendapatinya di dalam bis. Mata sipit yang selalu berbinar tiap kali melihatnya. Holly crap, batin Diandra.
     
“Diandra, what a coincindent..!! Kamu ke Nuremberg juga…?”, tanyanya pura-pura kaget, sambil tersenyum.
     
“Yes, Lee, what do you want from me…?”, tanya Diandra kesal. Terlambat sudah untuk berubah pikiran. 

Pintu bis telah tertutup dan bis sudah mulai berangkat. Halte tempat Diandra menunggu adalah halte terakhir. Bis akan langsung menuju Nuremberg tanpa singgah lagi di halte-halte.
     
So…ada festival…?”, tanya Lee yang tanpa basa basi sudah duduk di samping Diandra.
     
“Kenapa kamu mengikuti saya, Lee..?”, Diandra balik bertanya.
     
“Siapa yang mengikuti…? Aku juga kebetulan memutuskan untuk ke Nuremberg kok…”, Lee berkilah.
     
“Ngapain..?”
     
“Mengunjungi pabrik Steadler…”, jawab Lee lugas, jenaka. Mau tidak mau Diandra tersenyum dan teringat dengan pensil 2B yang akrab menemaninya dari dulu. Steadler memang diproduksi di Nuremberg.
     
“Baiklah, I see sekarang tim membran juga ingin memproduksi pensil…”, timpal Diandra.
     
“Grafit, tepatnya, Di. Alotropi dari karbon…hehehe”, Lee terkekeh dengan leluconnya sendiri. Diandra benar-benar mati gaya. Kunyuk ini sepertinya tidak menyadari bahwa kehadirannya tidak diinginkan.
     
“Bikin intan saja sekalian”, jawab Diandra akhirnya.
     
Lee menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata, sepertinya sedang mengumpulkan tekad untuk bertanya.
     
“Kenapa sih Di…?”
     
“Kenapa apanya…?”
     
“Kamu selalu saja ketus. Aku hanya ingin berteman, sungguh…”. Diandra menolehkan pandangan dari luar bis pada Lee. Mata itu tulus memang menawarkan persahabatan. 

Tapi, bukankah dengan Abimanyu juga awalnya adalah persahabatan…? Hati seseorang selalu membingungkan. Sekarang Diandra tidak mau lagi ambil pusing.

“Aku tidak terbuka untuk hubungan apapun, Lee, termasuk persahabatan”, jawab Diandra sambil menerawang.
     
“Tapi kenapa…? Sahabat tidak akan melukaimu”, Lee masih belum terima. Diandra tersenyum sinis.
     
“Kamu tidak akan tahu kapan sahabatmu berpotensi melukaimu, dan saat kamu menyadarinya, sudah terlambat”
     
“Let me guess….someone else on your marriage…?”. Tusukan yang tajam dari Lee dan menikam langsung ke jantung Diandra. Diandra terdiam. Lee sudah mengerti jawabannya.
     
“Berawal dari persahabatan, lalu cinta…sementara kamu sudah menikah…I can see that…”, suara Lee menerjemahkan dengan tepat isi hati Diandra. Diandra memandang Lee dengan tatapan yang sulit dimengerti. Tapi Lee mengerti dan dia mengangguk.
     
I promise, I won’t Di. Aku janji tidak akan jatuh cinta padamu…crossed my heart and hope to die”, janji Lee. Diandra tergelak. Lee mulai menyenangkan  kalau begini.
     
Keep your promise then…”, ujar Diandra.
     
“Ok”, jawab Lee mantap. 

Biar aku simpan sendiri, Diandra.

*Available on novel
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s