Autumn In Nuremberg

Diandra masih sibuk menulis catatan ketika seseorang menghampiri.

“Hi, Diandra, busy…?”,suara yang ramah.

Diandra mendongak sedikit sambil memperbaiki letak kaca mata minusnya. Dia tersenyum sedikit.
     
“Yes Lee, I’m busy…”, jawab Dian tanpa basa-basi. Dia kembali melanjutkan menulis.

“Kamu beneran besok gak jadi ikut ke Marienplatz…?”, tanya Lee tanpa mempedulikan bahasa tubuh Diandra yang menandakan dia sedang tidak ingin diganggu.
     
“Gak, buat apa…?”, pertanyaan basa-basi.

“Kan jalan-jalan, refreshing, Dian. Ayolah, semua teman-teman ikut…”, ajak Lee ngotot.

“Teman-reman Tim Membran mungkin, Lee. Teman-teman Tim Metal gak ada libur”, Diandra beralasan.
     
“Tapi, kata Katrina besok semua tim off…”. Lee sepertinya sudah mencari tahu, “Katrina besok ikut…”, lanjutnya.

Diandra menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya, pertanda dia mulai kehilangan kesabaran. Ya, sudah sejak lama Diandra tidak lagi kenal kata sabar.

No, Danke….terima kasih untuk ajakannya,Lee, but I’m not going…”
     
“Tapi, kamu kan suka tempat-tempat bersejarah ataupun ikon-ikon dunia. Kamu kan suka traveling, Di”. Diandra mulai heran. 

Sepertinya Lee mengetahui banyak tentangnya. Tapi, Diandra memutuskan untuk kembali menulis.

“Ya memang, tapi tidak traveling rame-rame”, jawab Dian sambil lalu.
     
“Oh ya..?”, Lee berbinar, “Kalo begitu, kita pergi berdua saja, Di…”.
     
Sepertinya Diandra mulai mengerti maksud pembicaraan Lee.
     
“Tidak, terima kasih, Lee. Saya sudah punya rencana sendiri”
     
“Kemana…?”. Buset deh nih cowok, mau tahu aja, batin Diandra.
     
“Not your business…”, jawab Dian sambil tersenyum. 

Tapi Lee, awardee asal Taiwan ini tetap saja ngotot. Baginya Diandra ibarat ujian beasiswa yang harus dimenangkan, entah kenapa, padahal dia tahu Dian sudah menikah.
     
Ya semenjak pindah ke Eropa, Dian mendadak jadi sedikit judes dan menemukan ketegasan yang dulu tidak dimilikinya. 

Jangan buat aku repot lagi dengan yang baru. Cukup sudah dengan Abimanyu. Dia bahkan tidak mau memperjuangkan aku. Cukup sudah semua ini.Tidak tahukan dia, aku bahkan tidak berani hadir di acara pernikahan dan mengucapkan “selamat berbahagia, semoga langgeng”
     
Ingat Abimanyu membuat bening itu kembali membayangi kedua matanya. Buru-buru Dian mengalihkan pandangannya pada hasil sintesis high performance metal yang telah gagal lolos uji mekanik. Benda itu ternyata sangat rapuh, serapuh hatinya saat ini. Diandra menarik nafas panjang. Keseluruhan sintesis harus diulang lagi dari awal. Dia berdiri, membereskan berkas-berkasnya dan berlalu dari hadapan Lee tanpa kata-kata.

*Available on novel
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s