Akanezora

“Apa arti namamu?” tanya Masao pada suatu sore yang indah di musim gugur. Mereka baru saja pulang dari menanami ladang dengan tunas-tunas lettuce dan berjalan santai menuju rumah yang tidak begitu jauh dari sana. Okasan pasti sedang sibuk menyiapkan makan malam.

“Itu adalah warna,” jawab Jingga. “Kamu tahu? Seperti langit sore…warna itu. Aku tidak tahu padanannya dalam bahasa Jepang.”

“Ooo…nama yang indah, kalau begitu,” timpal Masao lagi sambil tersenyum.

Jingga mengangkat bahu, “Entahlah, aku tidak pernah menganggapnya indah.”

Masao terbahak spontan. “Hahahaha…itu karena kamu terlalu cuek untuk menganggapnya indah.”

Begitukah? Jingga tidak pernah menyadari betapa bagi orang lain, namanya ternyata indah. Baginya itu hanya sebuah warna senja yang akan hilang kalau langit mendung. Itu berarti dia bisa ada bisa tidak, tergantung cuaca.
Begitulah pembicaraan hari itu. Di akhir masa tiga tahunnya bersama keluarga Okashita, baru kali itulah terpikir oleh Masao untuk menanyakan arti namanya. Itu juga karena Jingga bertanya lebih dulu.

“Apa arti nama Masao?” tanyanya sambil lalu.

Masao berhenti sejenak dari benih-benih yang sedang disemainya di seedling tray dan menjelaskan pada Jingga.

“Ada begitu banyak cara penulisan Masao, tergantung kanji dan arti yang diinginkan oleh si pemberi nama. 

Namaku ditulis dengan kanji “tadashii” yang artinya benar dan “otoko” yang artinya laki-laki.”

“Kalau begitu, kamu pasti laki-laki yang selalu benar,” cetus Jingga spontan.

Masao menggeleng cepat. “Aku diharapkan agar selalu berpegang pada hal yang kuanggap benar. Kenyataannya aku banyak sekali melakukan kesalahan.”

Jingga mengangguk-angguk sambil meneruskan pekerjaannya menyirami tunas dalam rumah plastik.

“Kamu akan segera pulang. Aku akan kehilangan,” kata Masao jujur.

“Aku juga akan kehilangan tapi aku harus pulang,” jawab Jingga tak kalah jujur.

Karena itulah, ketika hari-hari mereka semakin singkat, Masao jadi semakin sering menatap langit senja. Dia merenung dalam bahasa yang tak terkatakan. Ada perasaan yang tidak mungkin disampaikan di tengah perbedaan.

Jingga mengerti itu. Dia juga jadi lebih sering menatap sosok setegar samurai itu dengan air mata yang ditelannya dalam-dalam. Mereka seperti puisi dalam bisu. Semua musim telah terlewati bersama hingga mereka seolah lupa bahwa perpisahan itu ada.

Yang satu adalah lantunan mantram suci di kuil Unpenji sedangkan yang lainnya adalah untaian doa-doa panjang di atas sajadah di malam sunyi. Mereka berdua begitu berbeda. Cinta tidak akan cukup untuk merekatkan semuanya.

Tapi tahun-tahun berlalu sesudahnya. Setelah tatapan sunyi perpisahan di bandara Kansai, mereka masih bisa tertawa via email dan telepon. Mereka mungkin masih bisa direkatkan, oleh sesuatu yang tidak terlihat, tapi bisa dimengerti hanya oleh mereka.

Masao menutup telepon untuk kesekian kalinya. Dia kembali memandang langit senja dan terngiang sebuah suara. Jingga.

“Lalu…apa bahasa Jepang untuk langit senja yang warnanya seperti namaku itu?”

“Kamu cari tahu saja sendiri,” jawab Masao waktu itu sambil nyengir.

“Dasar pelit, nanti aku tanya Okasan,” sungut Jingga.

Tapi hingga hari kepulangannya, Jingga tetap tidak tahu padanan namanya.

Hari ini, di benak Masao telah tergenggam sebuah tekad. Dari sekian banyak penyesalan dalam hidupnya, dia tidak ingin menyesal lebih jauh lagi. Dia tidak ingin kehilangan Jingga lebih lama lagi.

Aku akan menyusulmu, Langit Senjaku. Untuk memintamu mencoba merekat perbedaan kita, bagaimanapun caranya. Akan kukatakan arti namamu begitu aku melihatmu nanti.

Tunggu aku di sana, Jingga. Langit Senja. Akanezora.

Padang, 2 Juni 2014
Anita Oktomia Daniel
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s