Hujan Bulan Januari

Image by Google


Hujan deras di bulan Januari turun membasahi jalanan Padang, terus menghitamkan aspalnya, membuatnya menjadi berkilau licin. Sekarang memang sedang musim hujan. Hujan membawa turun temperatur kota Padang di bawah temperatur biasanya. Hujan membasuh debu jalanan dan mengalirkannya entah ke mana. Hujan membawa cerita dan pelangi sesudahnya.

Aku memarkir mobilku di depan toko. Hari ini aku ingin buka lebih pagi walau hujan. Sendirian di rumah tidak membuatku betah kecuali kalau ada artikel yang harus aku selesaikan. Pantai Padang terlihat berkabut ditimpa hujan yang makin lama makin deras. Ombak yang bergulung di sana menghempas karang, tidak lagi berwarna biru sejati melainkan sudah bercampur abu-abu. Ini hampir menyerupai badai. Belum ada pedagang yang biasanya menghiasi sepanjang pantai dengan payung-payung mereka. Hujan terlalu deras mengguyur kota ini.
             
Kubuka pintu toko yang berwarna hijau daun. Loncengnya berbunyi menyenangkan di telingaku. Itu lonceng hadiah dari sahabatku Olivia. Dia bilang, bunyinya akan terus mengingatkan akan kehadiran sahabat lama, walaupun kita terpisah jauh. Tapi kenyataannya, aku dan Olivia hanya terpisah satu blok dari sini. Dia memutuskan untuk membuka kliniknya tidak jauh garden shop dan toko bukuku ini. Ada-ada saja. Padahal dia sudah enak tinggal di Jakarta, menuntut ilmu untuk menjadi seorang spesialis kanker. Tapi hanya dua bulan dia pergi. Dia pulang lagi membawa lonceng ini.

             
Beberapa bulan setelah kepulangannya, Olivia memutuskan untuk membuka klinik dokter umumnya di sini. Itu sudah satu tahun yang lalu. Pikirku saat itu, apa-apaan dia? Kenapa malah berhenti dari sekolah spesialisnya? Dia kan seorang dokter yang hebat. Pasti bisa menyelesaikan studinya dengan baik. Tapi dia hanya tersenyum sambil mengangkat bahu dan aku sebagai sahabatnya mengerti kalau Olivia telah membuat keputusan.

             
Begitulah tentang Olivia. Aku Ria. Tidak jauh berbeda dengan dia. Aku malah melenceng dari keilmuan yang dulu kunikmati di bangku kuliah. Aku ini sarjana, oh ya, sekarang magister teknik kimia. Tapi aku malah memutuskan untuk membuka toko buku serta toko bibit dan benih tanaman import di sebelah. Apa yang ada dalam pikiranku? Entahlah. Ketika ditanya, aku hanya bersikap sama seperti Olivia, tersenyum sambil mengangkat bahu. Dan orang-orang yang mengerti akan tahu kalau aku telah membuat keputusan. Sedangkan yang tidak mengerti? Ah, aku tidak terlalu peduli.

             
Baru jam 7 pagi. Aku bersiap-siap membuka 2 toko. Sebentar lagi kalau hujan sedikit reda, Wanda mungkin akan muncul. Dia pegawai setiaku yang kutugaskan di garden shop. Sementara toko buku kecil ini bisa kutangani sendiri. Aku maklum kalau Wanda akan terlambat pagi ini. Dia kan harus naik angkot dan berkemungkinan ponselnya kehabisan pulsa untuk memberitahuku kalau dia terlambat.

            
Aku masih asyik dengan kemoceng mengusir debu-debu di rak-rak buku kesayanganku. Tiba-tiba lonceng pintu berbunyi, pertanda ada yang datang.

           
“Maaf, kami masih tutup,” ujarku tanpa melirik.

            
“Kamu benar-benar masih betah di sini.” Sebuah suara tajam yang sangat kukenal sampai di telingaku. Aku menoleh secepat yang aku bisa.

           
Perempuan itu berdiri di sana. Perempuan yang melahirkanku. Mamaku tercinta.

            
“Mama…?” kataku diselimuti heran sambil berjalan menyambut beliau. Kami berpelukan kaku,”Kapan datang dari Semarang?”

             
“Baru saja, Mama langsung ke sini,” jawab beliau masih dengan suara tajam.

            
“Kenapa sih Ma?” tanyaku yang tidak pernah bisa berhenti khawatir kalau menatap wajah masamnya.

            
“Mama hanya ingin mengunjungimu,” jawab Mama lagi sambil mulai berkeliling melihat-lihat tokoku. Aku mengawasi gerak-gerik Mama dengan khawatir.

            
 “Gak mungkin banget alasan Mama. Kan kemaren udah nelpon. Mama gak bilang kalau akan ke Padang.”

            
“Ya, memang banyak hal yang ingin dibicarakan denganmu”, tukas Mama akhirnya sambil kembali menatapku dalam-dalam.

            
Aroma harum muffin mulai tercium dari toko cake and bakery di sebelah. Wangi rempah-rempah khas yang hangat menyenangkan. Aroma yang memberi keyakinan bahwa tiap potong kue di toko itu dibuat dengan cinta.

           
“Kita bicara sambil minum kopi?” tawarku pada Mama. Beliau mengangguk setuju.

            
Hujan masih mengguyur Padang walau sudah tidak sederas tadi. Tiara, si pemilik toko menyambut kami dengan senyuman khasnya, dan mempersilahkan kami untuk duduk.

             
Aku dan Mama, jam 7 pagi lewat sedikit, duduk di meja segi empat dekat jendela dengan cafe au lait dan muffinyang masih hangat. Pantai Padang terlihat jelas di depan mata. Ombak masih mengganas. Air laut masih berwarna abu-abu.

Hujan kadang datang membawa jarak, kadang juga untuk menghilangkan jarak. Kenapa hatiku dan Mama begitu berjarak? Seolah ada rahasia dirinya yang aku tidak boleh tahu, sementara dia bisa bersikap seenaknya memaksaku melakukan apa yang dia mau. Hari ini, hujan datang membawa Mamaku.

*****

“Kapan kamu menikah?”
Aku tersedak kopi. Tidak habis pikir dengan pertanyaan Mama. Kenapa selalu pertanyaan ini? Tidak adakah hal lain yang ingin disampaikan? 

Aku menjawab sinis,”Bagaimana kalau dibuka dengan kata-kata “Mama sangat merindukanmu”? Itu akan lebih baik Ma.”

Tiara di balik meja kasir menatapku tak percaya. Mau tidak mau dia pasti mendengarkan pembicaraan kami. Aku balik memandangnya sambil mengangkat bahu. Tiap kali aku dan Mama bicara, pertanyaan inilah yang paling dulu diajukan. Kapan menikah? Yang benar saja. Pacarpun aku tidak punya.

Mama menghela nafas panjang dan menatapku dengan wajah prihatin.

“Kalau kamu belum juga menikah, kamu harus ikut Mama ke Semarang,” titahnya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Karena Mama ingin kamu meneruskan usaha Mama,” lanjutnya masih dengan nada memerintah, setidaknya begitulah yang terdengar olehku.

Tiara menahan nafas, aku memandangnya putus asa. Tapi diapun hanya bisa memasang wajah pasrah sambil geleng-geleng kepala.

“Aku tidak mengerti tentang perhiasan Ma,” jawabku beralasan.

“Kamu akan belajar.” Mama selalu menemukan jawaban untuk setiap bantahanku. Aku memandang ke luar jendela.

Mamaku seorang desainer perhiasan yang cukup sukses. Namanya cukup diperhitungkan di dunia perhiasan tanah air. Beliau memang seorang pekerja keras. Kemauannya untuk mengolah logam dan batu mulia menjadi perhiasan indah telah membuat namanya melambung terkenal sebagai seorang pengusaha sukses.

Tapi beliau telah lama tidak pulang ke kampung halaman dan sekarang anak satu-satunya belajar untuk benar-benar membangkang padanya.

“Aku tidak ingin belajar apapun dari Mama!” jawabku ketus. Kulihat Tiara melotot tajam padaku. 

“Mama tidak habis pikir apa yang kamu cari di tempat seperti ini,” ujar Mama tanpa basa-basi lagi. Kenapa sih, tiap kali bertemu Mama keadaannya selalu seperti ini?

“Mama tidak perlu khawatir. Aku punya toko, mobil, rumah dan tabungan,” kilahku.

Mama mendengus, “Hah! Toko kecil di pinggir pantai, mobil Starlet butut keluaran tahun entah kapan dan rumah kecil yang dijual murah oleh pemiliknya dengan buru-buru karena dia takut kena tsunami?”

“Apapun itu. Itu adalah kerja kerasku. Mama tidak berhak menghinaku!” jawabku mulai merasakan sesak. Betapa aku benci sekali pada wanita ini yang tidak menghargai kerja kerasku sama sekali. Tiara mulai beranjak ke pantry. Aku mengerti pertengkaran ini bisa merusak mood kami sepanjang hari. Hujan sudah reda dan sebentar lagi toko akan dibuka.

“Mama tidak menghina. Mama hanya mengingatkan bahwa kamu seharusnya bisa lebih baik. Hanya saja kamu kurang kompetitif.”

“Ini adalah yang kuinginkan. Mama jangan khawatir.”

“Kamu harus ikut Mama.”

“Aku tidak mau.”

“Kalau begitu kamu harus menikah.”

“Aku akan menikah kalau Mama dan Papa rujuk.”

“Urusan Mama dan Papa tidak ada hubungannya denganmu.”

“Kalau begitu pernikahan dan hidupku juga bukan urusan Mama.”

“Kamu masih tanggung jawab Mama.”

“Oh, jadi Mama ingin melepaskan tanggung jawab dengan memaksaku menikah?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Mama tidak memaksamu menikah.”

“Lalu?”

“Mama memaksamu untuk ikut Mama.”

“Mama tidak akan berhasil.”

“Kamu akan ikut dengan sukarela.”

“Coba saja.”

Aku keluar dan berjalan menuju toko bukuku. Garden shop telah sejak tadi buka. Wanda telah ada di sana dan melayani beberapa pembeli. Hujan berangsur reda walau mendung masih bergelayut di langit Padang.

Mama mengikutiku. Beliau memang keras kepala. Sifat yang disinyalir menurun padaku. Sifat itu juga mungkin yang menyebabkan Mama bercerai dengan Papa setahun yang lalu. Keluarga macam apa ini?

Aku memasang tanda buka di depan pintu. Menyiapkan meja baca tempat para pengunjungku bisa membaca beberapa buku tertentu, fasilitas yang membuat Mamaku geleng-geleng kepala. Kapan putrinya bisa kaya kalau begini?

Beberapa pengunjung mulai datang dan memilih-milih buku. Mama sekarang memeriksa semua rak dan mencermati beberapa judul buku. Beliau tidak berkata apa-apa lagi.

“Toko buku ini unik. Mama suka desainnya,” kata beliau tiba-tiba. Sekarang Mama tersenyum lalu duduk menghadap salah satu meja baca. Pantai Padang di luar jendela masih saja abu-abu.

Aku tersenyum sinis sambil ikut duduk di hadapan Mama.

“Mama tidak perlu bersikap ramah untuk membujukku,” kataku sadis.

“Mama serius. Mama suka desain tempat ini. Mengingatkan Mama pada toko rempah-rempah kesukaan Mama.”

Mendapatkan pernyataan seperti itu dari seseorang yang telah berpergian ke banyak tempat, aku yakin Mama serius. Tapi, kenapa jadi toko rempah-rempah?

“Mama hanya sedang berusaha menyelamatkan ahli waris Mama,” lanjut Mama masih berusaha.

“Sumbangkan saja semuanya,” kataku lagi.

Mama menatapku dengan pandangan yang sulit dimengerti.
“Duduklah, Mama akan ceritakan sesuatu.”
*Full story on draft



Advertisements

Menuliskan Seorang Pengelana

Image by: Google

Tentang pengelana itu. Dia yang pergi dan tidak berjanji untuk kembali. Dia tidak meminta untuk menunggu. Dia pergi dengan punggung semampai dan rambut ikal gondrong berkibar tertiup angin. 


“Jangan tunggu aku,” katanya lirih namun tegas, tersirat bahwa dia tidak akan kembali. Dia tidak ingin kembali. 

Tapi sebuah hati yang begitu ngotot memberi ruang untuk tetap menunggu. Walau dia tahu, pria itu tidak peduli. Dia tidak kembali karena dia tidak peduli. Dan perempuan itu tetap memutuskan untuk menyia-nyiakan umurnya, menatap cakrawala dari beranda hingga senja tiba walau tak sedikitpun bayangan pria pengelana itu muncul.

Begitulah hari berganti. Jaman berganti rupa dan fisiknya mulai menua, dia tetap menunggu.

Kekonyolan yang aneh. Tidak ada yang meminta dia untuk melakukan itu. Tidak juga cinta. Cinta itu hanyalah kegombalan yang hilang dalam sekejap.

Pria pengelana pastilah ada di salah satu titik dunia. Mungkin sedang bercinta dengan banyak wanita, menari Samba hingga kakinya jera, minum Vodka bersama teman-teman sesaatnya, berkostum Tarzan di festival kota atau barangkali tercampak di dekat tong sampah, mengais makanan sisa. Entahlah.

Perempuan yang menunggu tetap saja menunggu. Seolah takdir hidupnya hanyalah menunggu pria itu.

Bodoh, tidakkah kau sadari,dia bahkan tidak tahu namamu.

Mereka bertemu bertahun lalu, saat hujan badai disertai petir menyapa langit dunia. Pria itu mengetuk pintunya. Oh wajah yang sungguh tampan. Mata yang bersinar cerah penuh semangat. Kulit putih bersih dengan hidung mancung dan rahang yang menceritakan keteguhan hati. Semua ada pada pria bertubuh semampai itu. 

Dia datang membasuh kesendirian si perempuan yang baru saja kehilangan ayah ibunya. Dengan rasa percaya, dia menerima orang asing itu masuk.

Tanpa dia sadari, pria itu mencuri segenap hati dan seluruh sisa waktunya, yang sekarang dia abdikan untuk menunggu. Menunggu seseorang yang tidak akan kembali.
Dia memang melakukan hal yang sia-sia. Pria pengelana itu masih ada di satu titik dunia dan dia tidak mungkin kembali walaupun mungkin dia ingin. Kaki dan tubuhnya sekarang telah terikat. Rohnya telah bersatu di keabadian. Kanker paru-paru telah membuatnya berpindah alam. Dia tidak mungkin kembali ke rumah itu. Dia telah menyatu dengan tanah, diiringi nisan tanpa nama.

Perempuan itu masih setia menunggu. Mungkin menunggu sekarang memang tujuan hidupnya. Menunggu untuk dibawa pergi, bersama roh yang sekarang ikut menemani.

Padang, 4 November 2014

Telah kujelajahi dunia, hanya pada satu nama aku ingin kembali.
-Anita Daniel-



Diksi

Betapa sebuah perjalanan panjang hingga mencapai detik ini. Perjalanan yang mungkin bisa berakhir sebentar lagi, atau masih akan berlanjut. Kita tidak akan pernah tahu kapan perjalanan ini berakhir, apa dan siapa yang menunggu kita di ujung jalan yang kita lalui. Kita hanya menjalani, memilih lalu menjalani lagi.
Mengalami banyak hal adalah cara Tuhan memberikan pelajaran dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tuhan merangkul kita dengan berbagai cara, kebahagian, ujian, jatuh bangun, menangis, tersenyum, gundah, tertawa….betapa kadang air mata jatuh sebegitu gampangnya seiring dengan teririsnya hati. 
Sedikit demi sedikit, begitulah cara Tuhan berbicara, merangkul umat-Nya. Sang Pemilik Jiwa yang menampung seluruh cinta di dunia.
Kita berjalan dalam irama. Kadang monoton, kadang politon. Kita mengejar hal yang menurut kita adalah sebuah impian, hingga kadang kita lupa untuk berhenti sejenak, menari dengan hidup yang lucu ini. Mensyukuri apa yang kita punya, melepaskan apa yang bukan milik kita. Sungguh melegakan saat kita menyadarinya, tapi betapa menyesakkan ketika kita ngotot ingin memiliki semua. Seandainya kita menyadari, tak satupun di dunia ini yang benar-benar kita miliki.
Kita juga tahu, sebaik-baik kita berusaha, tetap Dialah Sang Penentu pada akhirnya. Kadang ada riak penyesalan yang timbul karena lupa menangkap momentum-momentum kecil yang ternyata jadi penyesalan tak berujung. 
Karena itu, menarilah dengan indah, lihatlah sekeliling, tangkaplah momentum-momentum, tak perlu terburu-buru, kita belum tentu masih akan menikmatinya esok hari.
Apapun yang diberikan semesta pada kita, percayalah Tuhan memberikannya dengan cinta. Cinta yang teramat besar, cinta yang selalu ada di sana, cinta yang siap menangkap dan merangkul kita saat kita terjatuh dan menangis. Cinta yang tidak pernah mengecewakan.
Berharaplah hanya pada-Nya. Dia yang mengerti kita.
 
Padang, 17 Juni 2013
Teruntuk Anita dan sahabat-sahabatnya….

Penghormatan Terakhir

Layar tertutup sudah. Puluhan karangan bunga di depan rumah menunjukkan kiprah dan rekam jejakmu yang tidak main-main di dunia ini. Ratusan pelayat datang silih berganti, mereka semua menangis, mereka semua ikut men-shalatkan, mereka semua ikut mengantar ke peristirahatanmu yang terakhir, menunjukkan betapa semasa hidup dirimu begitu dicintai.
Aku mengenangmu sebagai sosok yang tegas dan disiplin, tapi juga penuh kasih sayang. Sosok yang siap memarahiku kapan saja, tapi juga siap menemaniku kapan saja. Di antara kesibukanmu dalam pengabdian pada negara, dirimu tidak pernah lupa bahwa seorang ibu tetaplah seorang ibu, yang tidak pernah absen berdoa untuk anak-anaknya. Dengan suara rendah tertahan di setiap malam sepanjang hidupmu, doamu selalu melindungi kami.
Ibu, adalah sosok yang tak terbayangkan. Saat dirimu mampu menggenggam segalanya, memeluk kami, anak-anakmu, di pihak lain juga sangat membanggakan. Amanah memegang jabatan, membuatmu begitu dicintai, sekaligus juga banyak yang kecewa ketika dirimu dengan tegas menolak apa-apa yang tidak sesuai nurani.
Kritikmu kadang mengecewakan, tapi selalu membanggakanku di hadapan orang lain. Ibu, membuktikan tiada kekuatan dan pertolongan selain dari ALLAH SWT.  Membimbingku saat membutuhkan, menemani perjalananku menjadi seorang perempuan dan juga seorang ibu.  Itulah ibuku.
Tiada kata yang mampu melukiskanmu. Perempuan terhebat yang aku tahu. Ibu meninggalkanku dengan segala yang lebih dari yang aku butuhkan. Bahwa tidak ada cara untuk menjadi lebih kuat selain jadilah lebih kuat.
Dengan penghormatan terakhir, aku memelukmu, membersihkan tubuhmu, perempuan yang telah menghadirkanku ke dunia. Terima kasih untuk setiap kesempatan indah yang Ibu berikan, kesempatanku melihat dunia dan meninggalkan jejakku di mana-mana.
Aku mencintaimu, Ibu dan akan selalu begitu. Maafkan aku belum mampu menjadi sepertimu.
Air Haji, 28 Juli 2013
In memoriam of my beloved mother : Dra. Hj. Asnidar Agus, M. Pd
16 Februari 1951 – 25 Juli 2013
Dari Ayah, Anita dan Ade…We’re missing you, always

Apa Kabar, Gaza..?

Dear Gaza,
Apa kabar…? Kudengar ratusan orang menjadi syahid lagi hari ini. Aku tidak pernah bisa membayangkan apa yang kamu alami. Hidupku terlalu tentram di sini. Aku sibuk meratapi masalah demi masalah yang sekarang kusadari, tidaklah segenting masalahmu. 
Anak-anakmu, berjuang antara hidup dan mati setiap hari. Kehilangan dan kepedihan menjadi hal yang biasa bagimu. Gaza, bagaimana kamu bisa menanggung semua ini…? Katakan padaku, adakah dirimu belajar cara mengobati luka..? Sementara luka di atas luka terjadi setiap menitnya. 
Bagaimana bisa dirimu begitu tabah…? Dan aku….hanya bisa menitikkan air mata di depan televisi, setiap kali melihatmu, dan begitu aku melangkah ke luar rumah, aku dengan mudah terlupa padamu. Gaza, maafkan aku.
Hey, Gaza…di langitku ada kembang api malam ini, indah sekali. Tapi, aku tahu, langit yang berkilauan di tempatmu bukanlah pertanda baik. Kilau langitmu selalu diikuti suara menggelegar dan disusul bau sangit hangus daging manusia. 
Hatimupun kembali terkoyak. Bayi-bayi mungil lucu dalam pangkuan, tak mengerti kenapa mereka tidak lagi memiliki orang tua. Dan sebelum sempat tanya mereka terjawab, merekapun diambil paksa, dari hidup ini, dari masa depan yang seharusnya cerah. 
Mereka….anak-anak Gaza, seharusnya bisa bercita-cita tinggi, selayaknya anak-anak pada umumnya. Tapi, aku tahu tidak ada lagi cita-cita yang lebih tinggi selain menjadi bagian dari para syuhada. Sekali lagi, aku merasa perih, Gaza….
Mereka manusia, bukan seonggok daging tanpa jiwa. Tapi, mereka menyerahkan segalanya demi satu kata. Syahid.
Gaza, aku malu padamu. Sungguh aku malu. Dirimu bahkan tidak tahu apakah anak-anakmu masih bisa melihat hari esok..? Apakah seorang ayah masih akan kembali pada keluarganya…? Dunia begitu ribut di sekitarmu, tapi bukan suara musik. Gempuran demi gempuran harus kau hadapi, dan tetap bertahan. Gaza, bagaimakah rasanya terusir dari negeri sendiri…? Tak bisa kubayangkan rasanya, 
Gaza…
Aku tahu, takkan bisa mengobati apalagi menyembuhkan lukamu. Tapi kumohon, Gaza, izinkan aku merasa sedikit berarti…sedikit saja….
Padang, 4 Agustus 2013
Donasi solidaritas Palestina
BCA cab Kwitang: No. Rek. 686.0153678 a.n Medical Emergency Rescue Commitee
BSM cab. Kramat: No. Rek. 009.0121.773  a.n Medical Emergency Rescue Commitee

Omamori

Kimi o mamoru tame….untuk menjagamu…
“Ria-Chan…tunggu di sini sebentar ya….”, kata Masao padaku dengan sedikit terburu-buru.  
Kami sedang berkunjung ke Kuil Unpenji, daerah pegunungan Hagiwara. Saat ini musim dingin dan keseluruhan Unpenji tertutup kabut.
Aku hanya bisa melongo menatap abang angkatku itu. Tiga tahun tinggal bersama keluarga Okashita bukanlah jaminan untuk mengerti tindak tanduk Masao, putra sulung keluarga itu, yang sekaligus kakak angkatku.
Masao menghilang ke dalam kuil. Dua menit…lima menit…tujuh menit. Aku mulai tidak sabaran. Aku kedinginan di sini walaupun sudah memakai syal, sarung tangan dan penutup telinga. Tapi, sepuluh menit sudah belum ada tanda-tanda kemunculan Masao. Aku benar-benar kehilangan kesabaran.
“Nii-Chan….hayaku….!”, teriakku tak sabar, menyuruhnya cepat keluar, apapun itu yang sedang dikerjakannya.
Tapi Masao belum juga keluar dari tempat persemediannya.  
Hey, kamu tidak sopan, Ria. Orang sedang beribadah kok disuruh buru-buru, tiba-tiba saja aku teringat, jadi kuputuskan untuk menunggu sebentar lagi, sambil menuju mesin penjual minuman demi sekaleng cafe au lait hangat.
Setengah jam sudah Masao menghilang di dalam kuil. Aku tidak mengerti kenapa dia lama sekali. Masao tidak pernah beribadah selama ini.
Kugoyang-goyangkan lonceng negai dengan tidak sabar. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara mantram, makin lama makin jelas seperti dengungan lebah. Kurasakan tepukan di pundakku.
“Ayo, masuk saja, tidak apa-apa kok…”, suara Bhiksu Shoji mengagetkanku. 
Beliau sudah masuk ke dalam mendahuluiku. Jadi kuputuskan untuk mengikutinya. Mungkin tidak masalah, seperti waktu di Kyoto, pengunjung asing juga diperbolehkan untuk melihat ritual ibadah.
Aku masuk dan menemukan Masao bersimpuh di depan altar. Khusyuk, terhanyut dengan buku mantram ditangannya. Sepertinya dia berniat membaca sampai habis. Aku memutuskan untuk menunggu sambil menonton ritual ini. Tidak masalah bagiku. Aku ingin menikmatinya, karena minggu depan aku akan kembali ke tanah air.
“Ria-Chan…Ria-Chan….”, suara Masao terdengar jauh. Aku melihat wajahnya buram. Dia tersenyum.
Nii-Chan….“, jawabku.
“Kamu ketiduran….”, katanya geli. Ah benar saja. Segera aku bangkit dan mengucek mataku.
“Udah selesai negainya..?” tanyaku. Masao mengangguk.
“Maaf, membuatmu menunggu lama. Habis ini aku traktir makan Udon paling enak di Sanuki, ya…”, katanya sambil mengedipkan mata.
“Harus dan wajib…”, jawabku sambil pura-pura cemberut. Masao tertawa dan membantuku berdiri.
Bhiksu Shoji menghampiri kami.
“Okashita-Kun….”, katanya pada Masao, “…ini omamori pesanannya…”. 
Bhiksu Shoji melambaikan sebuah omamori di depan hidung Masao, tapi seperti teringat sesuatu, beliau urung menyerahkannya pada Masao. Omamori adalah semacam jimat pelindung dan dipercaya bisa melindungi diri dan biasa dibawa ke mana-mana, sebagai gantungan kunci atau pembatas buku.
“Ini omamori istimewa”, jelas Bhiksu Shoji tanpa ditanya sambil melirik Masao. Yang dilirik menundukkan kepalanya sambil tersipu-sipu. 
Sungguh, ini pemandangan aneh dan baru untukku. Untuk pertama kalinya kulihat kakak angkatku, Masao, seorang dokter bedah yang tegas, tersipu malu.
Naze…kenapa..?”, tanyaku agak kurang sopan.
“Okashita-Kun habis membaca satu buku mantram hanya untuk mendapatkan omamori ini. Hal yang belum pernah dia lakukan seumur hidup”, kata Bhiksu Shoji padaku.
Aku manggut-manggut. Ini pastilah omamori untuk Mama, untuk menjaga keselamatan beliau.
“Omamori ini didapat dengan susah payah, untuk menjaga seseorang yang istimewa dan Okashita-Kun memintaku untuk menyerahkannya padamu. Dia terlalu malu untuk melakukannya sendiri”.
Aku melongo sambil menerima omamori itu dari Bhiksu Shoji. Masao mengalihkan pandangannya pada pemandangan Hagiwara di bawah sana, menghindari tatapanku yang menuntut penjelasan.
Bhiksu Shoji pun berlalu. Unpenji menjelang sore. Aku masih melongo, tidak tahu harus berkata apa.
Nii-Chan...”, kataku pada Masao. Masao akhirnya menoleh padaku, sambil tersenyum.
“Omamori itu untukmu, untuk menjagamu…”, katanya singkat. Aku tersenyum. Dua jam aku menunggu sampai ketiduran, untuk menerima kejutan ini. Seseorang yang istimewa bagi Masao.
Arigatou, Nii-Chan….“, jawabku akhirnya balas tersenyum.
“Pulang yuk…aku masih harus traktir kamu Udon…”
Aku mengangguk. Udara musim dingin menusuk hingga ke tulang. Tapi kurasakan ada tangan yang menggenggam tanganku, lalu memasukkannya ke saku jaketnya. Sekedar menghangatkan sebelah tanganku, dan juga hatiku.
Masao terus menggandengku menuju tempat parkir, tanpa kata-kata.
Padang, 31 Agustus 2013
Untuk Hagiwara dan Unpenji

The Fortune Teller

Bhiksu itu masih muda dan ganteng, menurutku. Aku tidak tahu namanya. Tapi yang jelas dia menawarkan untuk meramal garis tanganku.
Sore itu, aku dan Tante Akemi baru saja selesai berbelanja di Takamatsu, Ibukota Prefektur Kagawa, tempat aku menghabiskan masa 3 tahun homestay bersama keluarga Fujiwara.
Kami sedang melewati toko buku ketika aku lihat Bhiksu muda itu, dengan caping di kepalanya, memegang mangkuk sumbangan di tangan kanan, berdiri sambil menawarkan ramalan pada kami.
Anehnya, dia hanya menawarkan untuk meramalku, dari sekian banyak pengunjung yang lalu lalang di Takamatsu Square. Ini musim panas terakhirku di Negeri Doraemon. Orang-orang dengan berbagai gaya sibuk hilir mudik menikmati suasana. Ada yang bergaya Rastafarian, ada yang bergaya Morroccan, ada yang bergaya Harajuku dan ada juga yang bergaya tanpa konsep, sepertiku.
“Sanuki….”, sapa Bhiksu itu. Aku tidak menyadari kalau yang dia maksud itu adalah aku, Tante Akemi yang menyadarinya saat melihat Bhiksu itu memandangku tanpa berkedip.
“Nadia-Chan….kamu dipanggil oleh Osho-San di sana itu…”, bisik Tante Akemi.
“Tapi tadi dia memanggil Sanuki”, bisikku lagi. Tante Akemi menjitak kepalaku dengan geli.
“Kamu ini, sudah 3 tahun tinggal di Hagiwara, masa tidak tahu kalau daerah sekitaran tempat kita tinggal juga disebut Sanuki…ckckck..”, Tante Akemi geleng-geleng kepala.
“Aku tahu, Ba-Chan…”, timpalku, “tapi yang dari Sanuki kan bukan cuma kita….”
“Iya, Ba-Chan tahu…tapi Osho-San itu cuma melambai ke arah kita…kamu lihat deh….”
“Sanuki…Sanuki….”, panggilnya ngotot. 
Aku menggeleng-geleng takut, Tante Akemi akhirnya memaksa menggandeng tanganku untuk menghampiri Bhiksu itu. Ini memang jarang sekali terjadi, karena itu Tante Akemi penasaran bukan main.
Konnichiwa…selamat siang”, sapaku hormat sambil membungkuk pada Bhiksu ganteng itu. Habisnya, aku harus bagaimana lagi…?
“Kamu…gadis dari Sanuki, kan…?”, tanyanya lagi. Aku menggeleng.
Indonesia no ko….Padang kara kimashita...”, jawabku sopan, menjelaskan aku ini anak Indonesia, tepatnya dari Padang.
“Tapi kamu tinggal di Sanuki, kan…?”, suara itu masih ngotot. Tante Akemi akhirnya menjawab.
“Iya, dia memang tinggal di Sanuki, bersama keluarga saya…”, jelas Tante Akemi. Bhiksu itu manggut-manggut.
“Kamu mau pergi ke luar negeri ya…?”, tanyanya lagi.
Aku menelan ludah. Bagaimana Bhiksu ini tahu aku bakalan pulang kampung minggu depan…?
Chotto ii…?“, tanyanya meminta izin untuk melihat garis tangan kiriku. Tante Akemi tanpa basa-basi langsung menyambar tanganku dan memperlihatkannya pada Bhiksu itu.
Ah, ini sih kesempatan aja elo pengen pegang-pegang tangan gue, gerutuku dalam hati.
Aku memang tidak begitu menyukai ramalan. Ramalan cenderung menguasai pola pikir kita. Kadang kita mengira ramalan itu jadi kenyataan, karena pikiran kita sudah diarahkan sebelumnya.
“Kamu tidak boleh bepergian jauh…”, larangnya tiba-tiba.
Whattt…? kataku dalam hati. 
Kalo gue gak pulang bisa dideportasi Om, gara-gara visa habis.
“Perpanjang visamu…”, suruhnya lagi seolah mengerti. 
Tante Akemi kulihat terperangah luar biasa. Aku juga jadi sedikit takjub. Orang ini bisa membaca pikiranku.
Muri desu..“, bantahku.” itu mustahil, tiket sudah dibeli…”
Dan aku kaget bukan kepalang ketika Bhiksu itu mengeluarkan sejumlah uang pecahan sepuluh ribu Yen lalu menyerahkannya pada Tante Akemi, yang juga terkaget-kaget luar biasa. 
Biasanya kamilah yang harus menyumbang pada Bhiksu, sekarang kami malah diberi uang, tidak tanggung-tanggung jumlahnya. Seratus ribu Yen sekarang ada di tangan Tante Akemi. Ya, jangan pernah membantah seorang Bhiksu, itu semboyannya.
Apalagi kalo Bhiksunya malah ngasih duit setara dengan sepuluh juta Rupiah, setara dengan tiket pulang-pergi Padang – Kansai.
“Perpanjang visa Gadis Sanuki ini dan dia tidak boleh ke luar negeri sampai tahun depan”, pesannya lalu kembali terdiam tanpa penjelasan, kembali khusyuk dengan tasbih besar dan mangkuk sumbangan di tangannya. Bhiksu itu tidak berkata apa-apa lagi.
“Namaku Nadia….”, kataku akhirnya,”Dan anda lumayan ganteng….”, isengku mulai kumat.
Tante Akemi menjitak kepalaku lagi dan menarikku pergi dari sana.
Kami lalu masuk ke Starbucks dan sedikit melupakan kejadian tadi. Cafe Au Laitnya enak, begitu juga Croissantnya, dan semboyan yang tidak akan pernah kulupa “Geography is Flavour“, terpampang besar-besar di dindingnya.
Aku sudah melupakan kejadian itu, tapi tidak Tante Akemi. Beliau langsung memperpanjang visa dan id cardku, dan juga menelepon keluargaku di Indonesia. Dia benar-benar ngotot.
Kami baru saja selesai makan malam ketika berita itu muncul di Fuji Terebi. Tante Akemi langsung histeris sambil mengaduk-aduk isi tasnya. 
Aku yang baru selesai mencuci piring tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi Tante Akemi langsung memelukku erat-erat.
“Nadia-Chan...yokatta…syukurlaaah”, katanya sambil menangis.
Pembaca berita itu mengatakan kalau pesawat JAL dengan nomor penerbangan JA8345 telah jatuh di Fukuoka, semua penumpang dan awak pesawat tewas.
JA8345, nomor persis yang tertera di tiketku. Siapa percaya ramalan…?
Padang, 3 September 2013